Jakarta, Indonesia memiliki banyak kisah menarik tentang perjalanan bisnis raksasa di tanah air. Salah satu yang menonjol adalah Indomie dan Indofood, dua entitas yang sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kisah ini bukan hanya tentang kesuksesan, tetapi juga tentang tantangan dan kebangkitan yang luar biasa. Dalam perjalanan ini, nama Sudono Salim akan selalu terngiang sebagai tokoh kunci yang membawa bisnismya ke puncak kejayaan.
Grup Salim, yang kini memasuki generasi ketiga kepemimpinan, melukiskan perjalanan yang penuh dinamika. Namun, di balik keberhasilan tersebut, ada juga suka duka yang tak terelakkan. Salah satu momen paling mendalam adalah ketika kelompok ini mengalami krisis yang mengancam keberlangsungan bisnisnya.
Kita perlu kembali menelusuri sejarah dan bagaimana jaringan bisnis dibangun, terutama melalui hubungan pemiliknya dengan kekuasaan. Dalam konteks ini, kedekatan Sudono Salim dengan pemerintahan Orde Baru menjadi sangat penting untuk dipahami.
Pendirian dan Pertumbuhan Salim Group yang Mengesankan
Sudono Salim, sebagai pendiri Salim Group, memiliki awal yang sederhana. Di masa-masa awal kemerdekaan, ia berperan sebagai pengusaha impor komoditas dan menjalin hubungan erat dengan militer. Keberhasilannya dalam logistik pasukan saat itu tidak hanya menguntungkan dirinya, tetapi juga membangun jaringan yang kuat dengan para tokoh penting.
Perkenalannya dengan Kolonel Soeharto menjadi titik balik yang menentukan. Melalui kerja sama ini, Salim memperoleh dukungan yang sangat dibutuhkan untuk memperluas bisnisnya. Ia menjadi pemasok utama bagi kebutuhan logistik militer, dan kedekatannya dengan Soeharto membawa dampak signifikan bagi pertumbuhan bisnisnya.
Seiring berjalannya waktu, hubungan ini berkembang lebih jauh, dan Salim pun sukses membangun kerajaan bisnis yang mencakup berbagai sektor. Dari perbankan hingga makanan, ia berhasil memantapkan posisinya sebagai salah satu pengusaha terkemuka di Indonesia.
Era Keemasan dan Penurunan Tiba dengan Krisis 1998
Selama tiga dekade, Salim Group mengalami pertumbuhan pesat dalam berbagai sektor. Di antara keberhasilan tersebut, Bank Central Asia (BCA) menjadi salah satu pilar terkuat yang menopang kerajaan bisnis ini. Keberhasilan ini tiba-tiba terancam akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998.
Serangan massal terhadap sektor perbankan mulai terlihat saat nasabah berbondong-bondong menarik uang mereka. Momen ini menyebabkan BCA mengalami kerugian yang cukup besar, dan panik di kalangan nasabah semakin meluas. Akibatnya, banyak cabang bank harus ditutup atau bahkan dibakar oleh massa.
Sentimen anti-Soeharto yang tumbuh akibat krisis ini berimbas pada Salim. Dengan kedekatannya yang terlalu terlihat dengan penguasa, Salim menjadi sasaran utama amukan massa yang merasa frustrasi terhadap situasi yang ada. Hal ini mengakibatkan kerusuhan besar di Jakarta dan kota-kota lainnya.
Kerusuhan dan Kerugian yang Banyak Menimpa Salim Group
Tanggal 13 Mei 1998 menciptakan sejarah kelam bagi Salim Group. Kerusuhan yang pecah membuat massa menyerang bukan hanya bangunan, tetapi juga rumah-rumah milik pengusaha Tionghoa, termasuk rumah pemilik Salim Group. Kejadian ini menciptakan kondisi yang sangat mencekam bagi keluarga Salim.
Dalam sekejap, banyak aset hancur akibat amukan massa. Anthony Salim, yang saat itu berada di Jakarta, berjuang mengamankan diri dan asetnya dari kerusuhan yang sedang berlangsung. Pihak keamanan terpaksa tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan kerusuhan yang semakin meluas.
Dalam keadaan panik, akhirnya Anthony memutuskan untuk membiarkan massa merusak properti daripada mempertaruhkan nyawa. Kerugian ini bukan hanya sekadar materi, tetapi juga mengguncang fondasi bisnis yang telah dibangun selama beberapa dekade.
Pascakerusuhan dan Strategi Kebangkitan Salim Group
Setelah kerusuhan mereda dan kejatuhan Soeharto, Salim Group mengalami dampak sangat besar di sektor perbankan. BCA, yang dulunya sangat kuat, kini berada dalam keadaan kritis dan diambil alih oleh pemerintah untuk diselamatkan. Ini menjadi langkah awal untuk memulai proses rekapitalisasi di era pasca-krisis.
Dalam situasi ini, Indofood menjadi satu-satunya penyelamat bagi grup ini. Salim harus bekerja keras untuk memulihkan reputasi dan kekayaan yang hilang dari bisnis perbankan. Salah satu langkahnya adalah melakukan diversifikasi usaha agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber pendapatan.
Kini, setelah lebih dari dua dekade berlalu, Salim Group telah mengunduh kembali kejayaannya, mengembangkan usaha ke berbagai sektor seperti migas, konstruksi, dan teknologi. Keluarga Salim pun kini duduk di urutan yang mengesankan dalam daftar orang terkaya, meraih prestasi baru.
