Bank-bank di Indonesia tengah berfokus untuk menarik perhatian nasabah kaya, dengan segmen emerging affluent menjadi target utama mereka. Terutama, bank papan tengah berusaha untuk menyasar kelas menengah atas yang memiliki minat dalam investasi dan pengelolaan keuangan.
Salah satunya adalah PT Bank Maybank Indonesia Tbk. yang mencatatkan keyakinan bahwa nasabah privilege banking, dengan dana kelolaan antara Rp50 juta hingga Rp500 juta, akan menjadi pendorong utama pertumbuhan mereka. Dalam waktu tiga tahun ke depan, bank ini menargetkan dapat menambah jumlah nasabah di segmen ini hingga mencapai 200.000 nasabah.
Direktur Community Financial Services Maybank Indonesia, Bianto Surodjo, menyatakan bahwa target pertumbuhan ini sejalan dengan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang cenderung terus meningkat. Dengan demikian, pertumbuhan baik jumlah nasabah maupun aset yang dikelola diharapkan mencapai angka double digit setiap tahunnya.
Strategi yang diadopsi oleh Maybank dalam mencapai target tersebut mencakup pengalaman nasabah, keberagaman produk, dan digitalisasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa layanan yang diberikan sejalan dengan kebutuhan nasabah yang semakin teredukasi dan terhubung berkat kemajuan teknologi.
Bianto menegaskan pentingnya memahami pola perilaku nasabah kelas menengah yang kini lebih melek terhadap investasi seperti obligasi, saham, dan bahkan mata uang kripto. Kelompok ini, menurutnya, jauh berbeda dibandingkan dengan nasabah kelas menengah dari tiga dekade lalu yang lebih terbatas dalam pilihan investasinya.
Peran Bank Lain dalam Menggarap Segmen Emerging Affluent
Selain Maybank, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. juga berupaya memasuki pasar nasabah kaya. Bank pelat merah ini meluncurkan BTN Prospera, layanan baru yang menyasar nasabah dengan dana kelolaan antara Rp100 juta hingga Rp500 juta. Hal ini memperkuat struktur dana murah yang dimiliki oleh bank tersebut.
Frengky Rosadrian Perangin Angin, Retail Funding Division Head BTN, mengungkapkan bahwa potensi pasar untuk segmen ini masih sangat besar. Terlebih lagi, BTN merupakan satu-satunya bank milik negara yang meluncurkan produk khusus untuk nasabah emerging affluent.
Mereka menargetkan pertumbuhan yang signifikan melalui produk Prospera, yang diharapkan dapat memberikan solusi sesuai kebutuhan nasabah di segmen ini. Dengan menawarkan berbagai layanan, BTN berambisi untuk meningkatkan tabungan dan transaksi nasabah.
Strategi akuisisi nasabah yang dicanangkan BTN mencakup pendekatan digital dan integrasi dalam komunitas untuk membangun relasi yang lebih erat. Pendekatan ini diharapkan dapat menarik berbagai segmen konsumen, mulai dari perorangan hingga bisnis.
Total dana pihak ketiga dari BTN Prospera mengalami pertumbuhan yang signifikan, dengan lebih dari Rp1,5 triliun pada akhir kuartal III-2025. Jumlah nasabah dalam produk ini juga mengalami peningkatan 30 persen dibanding tahun sebelumnya.
Perkembangan Tabungan di Segmen Penghasilan Tinggi
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat bahwa pertumbuhan tabungan di bank dengan nominal di atas Rp100 juta meningkat sebesar 4,82 persen year to date (ytd) hingga kuartal III-2025. Hal ini menunjukkan adanya minat yang terus berkembang di kalangan nasabah dengan tingkat penghasilan yang lebih tinggi.
Peningkatan ini diperkuat oleh inovasi dan penawaran produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah kaya yang semakin beragam. Bank-bank di Indonesia berusaha menjaga daya saing mereka dengan meluncurkan berbagai layanan yang menyasar segmen affluent ini.
Dalam konteks ini, strategi digitalisasi menjadi fokus utama yang menciptakan kemudahan akses bagi nasabahnya untuk mengelola keuangan. Digitalisasi ini juga mencakup edukasi mengenai produk investasi yang lebih kompleks, membantu nasabah dalam mengambil keputusan yang lebih bijak.
Dengan perlunya diversifikasi produk, lembaga keuangan dituntut untuk lebih inovatif agar dapat menjaga loyalitas nasabah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, terutama dengan adanya persaingan ketat dari bank-bank lain yang juga menargetkan segmen yang sama.
Secara keseluruhan, pertumbuhan segmen emerging affluent di Indonesia menunjukkan potensi yang kuat. Dengan pendekatan yang tepat, bank-bank diharapkan mampu meraih kepercayaan dan menjadi mitra finansial bagi nasabah kaya di masa mendatang.
Kesimpulan Mengenai Tren di Pasar Perbankan Indonesia
Kemunculan segmen nasabah emerging affluent menunjukkan perubahan signifikan dalam lanskap perbankan di Indonesia. Bank-bank mulai mengarahkan strategi mereka untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi nasabah kelas menengah atas yang semakin kompleks.
Dengan dukungan teknologi dan inovasi produk, bank-bank diharapkan dapat menawarkan layanan yang lebih relevan dan terjangkau bagi nasabah. Selain itu, penting bagi lembaga keuangan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan tren dan perilaku nasabah di era digital.
Peningkatan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan akan mendukung pertumbuhan bank dalam jangka panjang, sehingga mereka dapat memanfaatkan potensi pasar yang ada. Investasi dalam pengalaman nasabah dan digitalisasi akan menjadi kunci untuk menarik lebih banyak nasabah kaya ke dalam portofolio mereka.
Dengan memfokuskan diri pada keunggulan produk dan layanan, bank akan mampu bersaing dengan efektif di pasar yang semakin kompetitif ini. Pada akhirnya, perubahan ini bukan hanya menguntungkan bank, tetapi juga nasabah yang akan mendapatkan akses yang lebih baik ke produk dan layanan keuangan.
Oleh karena itu, pengembangan segmen emerging affluent di Indonesia dapat menjadi langkah strategis bagi bank untuk memasuki era baru dalam dunia perbankan yang lebih inklusif dan terintegrasi.
