Jumat , 19 Oktober 2018
Home / DAERAH / [VIDEO]: Ini Dia Sosok Oktarika (Oknum PNS dan Teman Wanita Sekdakab Tanggamus yang Ditangkap di Hotel Emersia)
Oktarika
Sosok Oktarina alias Oca alias Cin, oknum PNS PU-PR Provinsi Lampung, teman wanita Sekdakab Tanggamus, Mukhlis Basri, saat ditangkap di kamar Hotel Emersia Bandar Lampung, beberapa waktu lalu. (Foto: Grafis - IGS Berita).*

[VIDEO]: Ini Dia Sosok Oktarika (Oknum PNS dan Teman Wanita Sekdakab Tanggamus yang Ditangkap di Hotel Emersia)

BANDAR LAMPUNG (IGS BERITA) – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung menyarankan agar Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Tanggamus, Mukhlis Basri, dan teman wanitanya, Oktarika, oknum PNS Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Provinsi Lampung, menjalani rehabilitasi.

Selain Mukhlis dan Oktarika, BNN pun merekomendasikan tersangka penyalahgunaan psikotropika lainnya, yaitu Doni (wiraswasta), untuk menjalani direhabilitasi. Ketiganya ditangkap jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung bersama Nurul Irsan dan Edi Yusuf di kamar Hotel Emersia, Bandar Lampung, Sabtu (21/1) malam silam. Dari pemeriksaan, polisi melepaskan Edi Yusuf dan Nurul Irsan, karena dinilai tidak cukup bukti.

Baca Juga:

Lantas, seperti apakah sesungguhnya sosok Oktarika, oknum PNS Dinas PU-PR Provinsi Lampung, yang menjadi teman wanita Mukhlis Basri saat tertangkap basah di Hotel Emersia Bandar Lampung tersebut? Ini dia videonya:

Lewat akun Facebook-nya, yang memakai nama Incik Oktarika, wanita cantik ini mengunggah foto-fotonya dalam berbagai gaya, termasuk saat berseragam PNS.

Sebelumnya, Oktarika bekerja sebagai pegawai honorer di Dinas PU Kabupaten Tanggamus. Saat itu, Mukhlis Basri masih menjabat sebagai Kepala SKPD tersebut. Beredar info, selama itu keduanya memang sering berdua. Seiring waktu, Oktarika pun diangkat menjadi PNS di Dinas PU Tanggamus.

Setelah Mukhlis Basri menjabat sebagai Sekdakab Tanggamus, hubungan mereka menjadi semakin dekat, sampai kemudian Oktarika dipindahkan ke Dinas PU-PR Provinsi Lampung.

Oktarika
Sosok Oktarina alias Oca alias Cin, oknum PNS PU-PR Provinsi Lampung, teman wanita Sekdakab Tanggamus, Mukhlis Basri, saat ditangkap di kamar Hotel Emersia Bandar Lampung, beberapa waktu lalu. (Foto: Grafis – IGS Berita).*

Wanita muda yang akrab disapa Oca atau Cin ini termasuk sangat gaul. Setidaknya jika dilihat dari aktivitasnya di jejaring sosial. Di Facebook, misalnya, ia sering mengunggah foto diri dalam berbagai pose. Salah satu yang cukup menarik adalah posenya saat ia mengenakan jilbab dan memakai baju seragam warna hijau.

Di Dinas PU-PR Provinsi Lampung, Oca bekerja di bagian Jasa Konstruksi. Namun, sejumlah pegawai di jajaran Dinas PU-PR Provinsi Lampung mengaku tidak begitu mengenalnya.

“Kami sama sekali tak tahu kalau dia dekat dengan pejabat tinggi. Ya, kami lihat dia biasa-biasa saja (tidak neko-neko). Sebab, dia di sini hanya sebagai staf biasa,” kata Naswir, demisioner Kasubbag Kepegawaian Dinas PU-PR Lampung, di kantornya, Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Naswir mengatakan, Oca termasuk pegawai yang rajin. Dia hampir tak pernah absen mengikuti apel pagi, dan pulang kerja sesuai waktu. Namun, Oca tidak memiliki ruangan khusus. Sebab, dia ditugaskan sementara di bagian jasa konstruksi. “Selama satu tahun dia di sini tak ada masalah. Dari sisi kepegawaian juga tak bermasalah,” ujarnya.

Ia menambahkan, hingga kini, Oca belum mendapatkan posisi baru. Meski satu kantor, namun Naswir dan sejumlah pegawai mengaku tak akrab dengan perempuan yang belakangan mengenakan jilbab itu. “Berdasar status kepegawaiannya dia belum menikah. Tapi, enggak tahu kalau di luar itu,” kata Naswir.

 

Soal Saran Rehabilitasi

Terkait rekomendasi untuk sekadar merehabilitasi Mukhlis Basri, Oca, dan Donny, sehingga memungkinkan ketiga tersangka itu lolos dari penahanan selama proses penyidikan, dokter klinik BNN Lampung, Novan Harun, memberikan penjelasannya.

“Pemakai, pecandu, dan korban narkoba maupun psikotrapika, wajib direhab. Ini amanat Pasal 54 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dan UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika,” kata Novan Harun, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (2/2).

Keputusan rehabilitasi bagi pemakai maupun korban narkoba dan psikotrapika, lanjut Novan, dilakukan berdasarkan keputusan Tim Asesmen Terpadu (TAT) BNN, yang terdiri dari tim hukum dan medis, serta unsur kejaksaaan, BNN, dan penyidik Polri.

“Rekomendasi rehab merupakan hasil keputusan TAT, bukan cuma BNN. Di tim itu ada jaksa, penyidik Polri, dan dua dokter dari BNN. Ini berlaku global bagi siapapun pengguna, pecandu, maupun korban narkoba dan psikotropika. Mereka wajib direhab,” tegasnya.

Namun Novan menjelaskan, rekomendasi BNN terhadap para tersangka penyalahgunaan psikotropika itu hanyalah sebagai bahan pertimbangan bagi hakim dalam memutuskan perkara. Rekomendasi rehabilitasi ini tidak bisa mengintervensi putusan majelis hakim.

“Ini hanya sebagai bahan pertimbangan hakim memutuskan perkara. Soal apakah nanti putusannya direhab atau dipidana, itu hak majelis hakim,” tandasnya.

Menurut Novan, sebelum TAT mengeluarkan rekomendasi rehabilitasi, ada tahapan dan tes yang harus dilalui para pecandu, pengguna, maupun korban narkoba dan zat psikotrapika. Melalui tes ini, lanjutnya, bisa diketahui tingkat keparahan pengguna narkoba maupun psikotrapika.

“Sedangkan bagi kurir, bandar, dan pengedar narkoba, tidak diberlakukan rehab,” katanya.

Ia menambahkan, pil Happy Five atau erimin yang mengandung nimetazepan atau istilah awamnya “obat tidur” (penenang), yang ditemukan di dompet Mukhlis Basri dan kotak rias Oca, sebenarnya biasa digunakan untuk medis. Kategorinya bisa menyebabkan ketergantungan ringan.

Happy five ini masuk kategori psikotrapika golongan empat. Biasa digunakan pengobatan medis. Tapi, masalahnya, happy five ini belum ada izin edar, sehingga masih dilarang digunakan tanpa resep dokter,” jelasnya.

 

Segera Dilimpahkan

Sementara itu, Direktur Narkoba Polda Lampung, Kombes Abrar Tuntalanai, mengatakan, hingga kini penyidik masih merampungkan berkas perkara Mukhlis Basri cs agar bisa segera selesai dan dilimpahkan ke pihak kejaksaan.

“Masih kami lengkapi, mudah-mudahaan bisa segera kita limpahkan ke kejaksaan,” kata Abrar.

Terkait rekomendasi rehabilitasi, menurut Abrar, itu merupakan wewenang BNN. “Kalau rehab itu wewenang BNN,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan, sebelumnya sejumlah massa, yang sebagian besar adalah kaum ibu, menggelar aksi unjuk rasa di depan Mapolda Lampung. Mereka menuntut agar pihak kepolisian segera melakukan penahanan terhadap Mukhlis Basri cs.

Mereka menilai ada tebang pilih dalam penegakan hukum terhadap penanganan kasus narkoba. “Perbuatan yang dilakukan Mukhlis sebagai pejabat sungguh memalukan dan mencoreng institusi pemerintahan. Kenapa tidak ditahan? Padahal, banyak masyarakat yang kedapatan membawa obat terlarang langsung ditahan,” teriak para peserta demo.

Aksi demonstrasi dari massa yang menamakan dirinya Formacita (Forum Masyarakat Cinta Tanggamus) itu juga membawa poster-poster yang bertuliskan kecaman terhadap Mukhlis, dan meminta Polda segera melakukan penahanan terhadapnya. (yhr).*

About igsberita.com

Check Also

Kondisi Gedung Olahraga di Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur, 17/10/2018. (Foto: Suluh Apriyanto/IGSBERITA).*

Tidak Terawat, Begini Kondisi Fasilitas Olahraga Di Pacitan

PACITAN (IGSBERITA) – Dua fasilitas olahraga di Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa timur kondisinya kian parah …

Tinggalkan Balasan