Kamis , 13 Desember 2018
Home / IGS OPINION / Tragedi Sacramento Uji Keadilan Hukum “Paman Sam”

Tragedi Sacramento Uji Keadilan Hukum “Paman Sam”

Oleh YUKIE H. RUSHDIE

 

Yukie H. Rushdie, Pemimpin Redaksi “IGS Berita”

SORE itu, Minggu, 18 Maret 2018, seorang pemuda kulit hitam tak bersenjata, Stephon Clark, tewas akibat berondongan tembakan polisi di halaman belakang rumah neneknya, Sequita Thompson, di Sacramento, California, Amerika Serikat (AS).

Senin, 26 Maret 2018, sang nenek, Sequita Thompson, menyerukan perubahan pada cara-cara polisi menghadapi tersangka, seperti cukup dengan menggunakan seekor anjing, memakai senjata pelumpuh sementara (Taser), atau mengincar lengan dan kaki saat melepas tembakan.

Sejujurnya, saya tak kuasa menahan rasa penasaran, ke manakah perkara penembakan polisi terhadap pria kulit hitam tak bersenjata itu akan bergerak? Akankah hadir berbagai aksi penghadangan yang tak diharapkan terhadap upaya penanganannya? Karena, bukan mustahil, ini akan menjadi salah satu noktah dalam perjalanan keadilan hukum di Negeri Paman Sam.

Tapi… ah, sepertinya kita harus segera “melupakan” peristiwa itu, hingga akhir zaman.

Apakah kalimat saya itu akan dianggap sebagai sebuah penistaan terhadap hukum AS? Apakah kalimat itu, untuk sebagian, akan dikategorikan sebagai sesuatu yang terlalu sinis? Karena, bukankah saat ini seharusnya kita masih bersikap “menunggu jawaban”, dan berpura-pura percaya dulu bahwa keadilan mungkin akan ditegakkan di sana?

Sebenarnya begini, pembaca. Kalau Anda sudah ratusan kali menonton sebuah film bertema sejenis, rasanya akan sangat sulit untuk tidak menyampaikan ucapan seperti kalimat saya tadi.

Ibarat di film-film made in Hollywood, jaksa wilayah akan menolak untuk mencari dakwaan. Lembaga juri pun emoh ambil bagian.

Atau, bisa juga, kasusnya memang akan disidangkan. Juri pun akan menyatakan bersedia untuk menyaring bukti. Tapi, kemudian, skenario itu dibuat untuk sekadar melegitimasi putusan pembebasan.

Sementara keluarga Stephon Clark, pria yang terbunuh dalam rentetan 20 tembakan dua petugas polisi Sacramento saat berdiri di halaman belakang rumah neneknya sendiri tanpa memegang alat yang bisa mengancam apapun kecuali sebuah smartphone, akan diminta bersitegak di depan mikropon, mengesampingkan kesedihan dan rasa terzaliminya, demi menyelamatkan kepentingan kolektif dari kota di Negara Bagian California tersebut.

Mereka, keluarga Stephon Clark tersebut, lalu akan menghadapi kegelisahan massa, yang semuanya sama-sama berpikir bahwa —bukan mustahil— kelak peristiwa serupa bakal dengan mudah menimpa siapa saja, entah itu Tony, Ted, atau Tonya. Dan, keluarga Stephon pun harus berakting memohon massa yang gelisah itu agar tenang.

Kemungkinan lanjutannya hanya dua. Masyarakat menerima, dan Ibukota California itu pun kembali tidur dengan nyenyaknya. Atau, masyarakat melawan, dan kota akan sontak membara.

Kalaulah pandangan saya itu dianggap terlalu pesimistis, ini adalah sebuah pesimisme yang diperoleh secara baik. Di film-film, Agen 007 James Bond memiliki lisensi untuk membunuh. Di Amerika, polisi memiliki “kewenangan” setara itu untuk melakukan hal yang sama.

Ya, sangat boleh jadi, penilaian saya itu akan dianggap sebagai sesuatu yang keterlaluan, bahkan menyentak dan menyinggung banyak pengamat, terutama legiun polisi di AS yang memang berkinerja baik dan teliti.

Tapi, dalam konteks polisi AS, bisakah pandangan saya itu benar-benar diperdebatkan? Setelah Philando, Tamir, John, Sean, Eric, Michael, Darrius, Sam, Freddie, Alton, Terence, Amadou, dan sekarang Stephon, bagaimana lagi caranya untuk benar-benar memperdebatkan pandangan tersebut?

Sungguh dapat dimengerti, betapa para juri dan pejabat polisi enggan menebak-nebak ujud peristiwa nyata dari petugas yang —dalam waktu sekedipan mata— membuat keputusan buruk dengan iktikad baik. Akan tetapi, begitu keraguan naluriah itu kemudian mengeras menjadi penolakan refleksif untuk memintai pertanggungjawaban para pejabat tinggi, maka —di mana pun dan dalam kondisi apa pun— fenomena tersebut bakal segera memicu hadirnya ketidakpercayaan terhadap keberadaan keadilan.

Sekarang, bayangkanlah peristiwa ini. Para juri di Negara Bagian South Carolina nyata-nyata menyaksikan video saat Michael Slager, seorang polisi di Kota Charleston, menghunjamkan peluru ke bagian punggung (bukan tangan atau kaki) Walter Scott yang melarikan diri, sekaligus melayangkan nyawa tersangka tak bersenjata itu. Akan tetapi, pada situasi yang sesungguhnya tak membutuhkan tebak-tebakan lagi itu, ternyata para juri pun belum juga tergerak untuk menjatuhkan hukuman terhadap petugas yang lalai tersebut. Slager bebas, bahkan akhirnya menerima kesepakatan pembelaan (plea deal) untuk menghindari pengadilan ulang (retrial).

Tanpa bermaksud rasis, dan sekadar menyajikan permenungan dari sebuah potret faktual, jika Anda seorang Afro-American, apa yang seketika ada dalam pikiran Anda? Boleh jadi, Anda akan menganggap bahwa keadilan itu hanyalah dongeng bagi kaum tertentu. Anda mungkin akan menyimpulkan bahwa nyawa kaum kulit hitam itu —bagi dan di Amerika— seolah tak dianggap penting.

Tapi, jangan lupa, bagi dan di Amerika, nyawa Caroline Small yang berkulit putih pun ternyata dianggap tak penting. Ibu dua anak yang tak bersenjata itu dieksekusi dua petugas polisi pada tahun 2010, di sebuah kota kecil di Georgia. Penyelidikan menemukan bahwa polisi telah merusak TKP dan membuat bukti yang menyesatkan. Namun, harap dicatat, pembunuhnya tidak pernah diadili, sampai hari ini —bahkan, mungkin, hingga akhir zaman nanti.

Artinya, ini bukanlah semata-mata masalah warna kulit. Ini pun mengingatkan kita pada kebenaran dari kata-kata yang pernah diucapkan seorang Martin Luther King: “Injustice anywhere is a threat to justice everywhere.” Ya, ketidakadilan (di mana pun) merupakan ancaman terhadap keadilan (di mana-mana).

Jadi, bolehlah dimaknai, sebuah negara yang secara rutin “memaafkan” pembunuhan polisi terhadap kaum minoritas tak bersenjata itu senyatanya adalah sebuah negara di mana semua rakyatnya —pada akhirnya— berada dalam bahaya. Sayangnya, Amerika belum pernah benar-benar memahami —atau benar-benar menginginkan— kebenaran dari ucapan Martin Luther King itu.

So, di Amerika, ritual memberantas kematian sia-sia kaum minoritas itu pada gilirannya hanya mendapat tempat pada pidato-pidato, janji-janji, dan tuduhan-tuduhan. Selebihnya, sebagian besar dari kita pun memang hanya bisa menonton, menunggu, dan pura-pura percaya pada keadidayaan Paman Sam.

Meski begitu, kini situasinya sudah makin sulit bagi Oom Sam. Kita sudah terlalu sering menonton film ini. Dan kita tahu setiap alurnya, dengan hati… (Yukie H. Rushdie, Pemimpin Redaksi IGS Berita).*

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Puting Beliung | Batutulis Bogor Porak Poranda

KOTA BOGOR | IGS BERITA | Angin puting beliung memporak-porandakan pemukiman warga di kawasan Batutulis, Kota …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: