Jumat , 19 Oktober 2018
Home / DAERAH / TP4D Asahan didesak tangani Proyek Bronjong di Rahuning
Proyek Bronjong Amblas di Jalan Simonang - monang, Titi Putih (no ruas 000024) Desa Rahuning I TA 2018. (7/9/2018). Namun saat ini sudah diperbaiki. (Foto: Mampe Sirait/IGSBERITA).*
Proyek Bronjong Amblas di Jalan Simonang - monang, Titi Putih (no ruas 000024) Desa Rahuning I TA 2018. (7/9/2018). Namun saat ini sudah diperbaiki. (Foto: Mampe Sirait/IGSBERITA).*

TP4D Asahan didesak tangani Proyek Bronjong di Rahuning

ASAHAN (IGSBERITA) – TP4D (Tim Pembentukan Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah) Kabupaten Asahan didesak agar segera menangani dugaan penyimpangan pada pelaksanaan proyek Pembangunan bronjong di Jalan Simonang – monang, Titi Putih (no ruas 000024) Desa Rahuning I TA 2018.

Desakan itu disampaikan Effendi PM, Ketua DPC LSM PENDOA Kab. Asahan. Pasalnya, pada saat pelaksanaan proyek ditemukan beberapa hal yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan gambar.

Diantaranya spesifikasi batu yang menggunakan batu muda dan kawat bronjong yang menggunakan ukuran 2,5 millimeter. Padahal seharusnya menggunakan kawat bronjong ukuran 2,7 millimeter.

“TP4D harus segera menangani proyek pembangunan bronjong di Rahuning, karena banyak item pekerjaan yang diduga tidak sesuai spek,” kata EFFENDI PM kepada IGSBERITA (18/9/2018).

Tak hanya itu, dia juga mengungkapkan bahwa pada saat pelaksanaan proyek, tidak ada tenaga ahli.

“Proyek itu juga tidak dikerjakan sama tenaga ahli. Makanya proyek itu sudah pernah ambles, permukaan salah satu kotak bronjong turun sampai sepuluh centimeter,” kata Effendi.

Seharusnya dilaksanakan 5 (lima) orang tenaga teknis terampil

Berdasarkan catatan IGSBERITA, proyek tersebut dibiayai APBD Asahan TA 2018 sebesar Rp 600 juta. Pemenang lelang adalah CV. A dengan penawaran Rp 595 juta.

CV. A dalam menjalankan proyek seharunya melibatkan lima orang personil inti. Yang terdiri dari Pelaksana Bangunan Irigasi, Pengawas bangunan Irigasi, Mandor Batu Belah, Teknisi Penghitung Kuantitas Pekerjaan Sumber Daya Air, dan Petugas K3 Konstruksi.

Anehnya, saat ditanyakan kepada pejabat Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Rahuning, Sugiharto mengaku tidak pernah diperkenalkan kepada tenaga ahli atau tenaga teknis.

“Pertama sebelum dimulai pekerjaan sekitar setelah lebaran, sesudah 17 agustus [2018] ada ketemu sama saya [di lapangan]. Namanya saya tidak tau tapi marganya seingat saya hutabarat. Mungkin itu tenaga ahli. Tetapi yang selalu berkordinasi dengan saya di lapangan itu pak ahmad. Kulihat dia yang terima tanah, terima batu [di lapangan],” kata Sugiharto kepada IGSBERITA  ketika dihubungi melalui telepon selulernya (18/09/2018).

Sedangkan mengenai penggunaan batu muda, Sugiharto yakin, saat dia melihat pelaksanaan proyek, tidak ada penggunaan batu muda.

“Sepenglihatan saya, batu muda tidak ada digunakan. benar ada batu muda (dilokasi proyek) tapi tidak dipasang ke bronjong,” kata Sugiharto lagi.

Bagian bronjong yang ambles sudah diperbaiki

Sugiharto juga mengkonfirmasi bahwa benar ada bagian bronjong yang ambles, tapi sudah diperbaiki saat itu juga. Perbaikan dilakukan dengan membuka kembali kawat bronjong dan memadatkan pasangan batu.

Dia mengatakan penyebab amblesnya pasangan bronjong adalah karena timbunan tanah antara pasangan bronjong dengan jalan tergerus air. Sehingga bronjong mengalami penurunan.

“Iya benar (ada bronjong ambles). Iya, sudah diperbaiki saat itu juga. Kawatnya dibuka dan diisi lagi dengan batu. Itukan Cuma karena tanah timbun kuning tergerus air,” kata Sugiharto.

Dia menjelaskan bahwa dirinya merasa bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek tersebut selaku UPTD. Dan mengetahui pelaksanaan proyek karena lokasinya harus dilewati kalau menuju ladangnya.

“Saya mengetahui pekerjaan itu karena setiap saya mau keladang harus lewat situ. Dan saya merasa bertanggung jawab atas pekerjaan selaku UPTD,” kata Sugiharto melanjutkan penjelasan kepada IGSBERITA.

Lebih jauh dia menjelaskan mengenai cerucuk belum dipasang karena air sungai yang masih tinggi sampai empat meter.

“Kalau cerucuk belum dipasang. Kan pekerjaan belum selesai, jadi belum serah terima juga antara pemborong dengan kami (PU). Cerucuknya tidak sekarang, nanti turun dulu airnya, sekarang ada empat meter,” kata Sugiharto.

Penyebab proyek bronjong ambles menurut ahli

Saat dimintai pendapatnya, Musa Firmansyah, ST, Seorang tenaga ahli pelaksana bangunan irigasi menjelaskan. Penyebab terjadinya penurunan pasangan bronjong adalah akibat pelaksanaan proyek yang tidak melibatkan tenaga ahli di lapangan.

Tak hanya itu, Musa juga mengatakan bahwa pelaksanan dilapangan yang tidak melibatkan tenaga ahli akan berakibat pelaksanaan tidak sesuai dengan metode pelaksanaan proyek.

Terakhir, penyebanya adalah apabila spesfikasi teknis pekerjaan tidak sesuai Rincian Anggaran Biaya dan spesifikasi barang atau bahan yang digunakan.

“Biasanya pelaksanaan proyek tidak melibatkan tenaga ahli mengakibatkan tidak sesuai metode pelaksanaan. Atau pemborong tidak melaksanakan pekerjaan sesuai rincian anggaran biaya, gambar dan spesifikasi material dan bahan sesuai kontrak,” kata Musa Firmansah kepada IGSBERITA

Hingga berita ini diturunkan belum ada konfirmasi dari Bupati dan Tengku Adi Huzaipah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Asahan. Dalam upaya wawancara melalui Gunawan, staff atau ajudan kadis PU asahan mengatakan akan menyampaikan permohonan wawancara IGSBERITA, tetapi menyarankan agar membuat surat tertulis.

“Saya tidak bisa janjikan, nanti kalau [kadis] sudah dikantor akan saya sampaikan. Kalau mau wawancara bikin surat aja, bikin nomor telepon [disurat], jadi nanti dihubungi,” kata Gunawan kepada IGSBERITA, (18/9/2018. (mps)*

About Mampe Sirait

Check Also

Polres Gowa Gelar Simulasi Pengamanan bersama Bupati, Ini Tujuannya

GOWA, SULSEL (IGSBERITA) – Polres Gowa (Kepolisian Resor Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan) menggelar simulasi pengamanan …

Tinggalkan Balasan