Jumat , 20 Juli 2018
Home / DAERAH / Sinta Melyati vs Ridho Ficardo: Dari Pesawaran Hingga Bandung (7)

Sinta Melyati vs Ridho Ficardo: Dari Pesawaran Hingga Bandung (7)

Ringkasan episode sebelumnya: Malam itu, September 2016, di kamar 611 Trans Luxury Hotel Bandung yang dipesan atas nama Marlyn, dalam lelahnya setelah melewati perjalanan panjang dari Singapura, Sinta Melyati mengaku diminta Ridho Ficardo melayani hasrat cintanya, sebagaimana biasa mereka lakukan setiap kali bertemu. Sinta sempat menyampaikan penolakannya, karena memang sedang kedatangan tamu rutin bulanan. Ridho tidak percaya. Setelah tuntas, barulah Ridho percaya bahwa perangkat Sinta memang sedang “dalam kunjungan”. Tapi, rupanya, tingkat kerinduan Ridho kepada Sinta belum sepenuhnya terobati, dan “minta” lagi. Perdebatan pun kembali meletup. Ridho menumpahkan kekesalannya —mulai dari soal lampu kamar yang dianggap terlalu terang, sampai perkara “perabot” Sinta yang (seharusnya) dibiarkan reses dulu. Malam itu pun akhirnya menjadi puncak emosi kekesalan Sinta kepada Ridho. Sinta memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Ridho, dinihari itu juga. Lantas, langkah apa yang kemudian diambil Sinta? Bagaimana pula reaksi Ridho terhadap langkah Sinta itu? (red).*

 

MERASA dikelabui janji-janji manis yang berbuih, juga sakit hati atas perlakuan yang melampaui tapal batas, Sinta Melyati mencoba meminta pandangan dari sejumlah pihak. Ia merasa telah diperlakukan laksana “alat pemuas” saja. Padahal, kesucian dan kehormatannya, yang lebih dari dua dekade ia jaga dengan rasa bangga, sudah pula ia serahkan atas nama cinta dan mimpi indah di masa depan.

Dalam kegalauannya, di bawah timbunan hati yang sakit dan kecewa, sampailah Sinta pada keyakinan untuk membawa masalahnya ini ke ranah hukum, demi mendapatkan keadilan atas perlakuan Gubernur Lampung, Ridho Ficardo, terhadap diri dan masa depannya.

Ia, akhirnya, berjumpa dengan Kantor Hukum DSA & Partners, dan menguasakan penanganan hukum dari masalahnya itu kepada lembaga yang dikomandani master hukum asal Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dewi Sartika, SH., MH., tersebut.

Bersama pelimpahan kuasa itu, Sinta kemudian membuat testimoni yang dilengkapi beberapa bukti pendukung, seperti potongan percakapan WhatsApp, rekaman suara, dan video gambar bergerak.

 

Undangan RDP Komisi III DPR RI

Masalah ini pun kemudian mencuat ke permukaan, bahkan menjadi konsumsi publik, setelah Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia tiba-tiba mengeluarkan Surat Undangan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Nomor PW/20289/DPR RI/XI/2016 tertanggal 28 November 2016, yang ditandatangani Pelaksana Harian (Lakhar) Sekretariat Jenderal DPR RI, Dra. Damayanti, M. Si.

Lewat surat itu, Komisi III DPR RI memanggil Gubernur Lampung, M. Ridho Ficardo, untuk menghadiri RDP tanggal 30 November 2016 dalam perkaranya dengan seorang wanita bernama Sinta Melyati, yang memberikan kuasanya kepada Law Office DSA & Partners.

Disebutkan di sana, pemanggilan Gubernur Lampung tersebut sesuai dengan Jadwal Rapat DPR RI Masa Persidangan II yang diputuskan dalam Rapat Konsultasi Badan Musyawarah DPR RI dan Rapat Pimpinan Komisi III tanggal 16 November 2016.

Sebelum kisah ini berlanjut, siapa sesungguhnya Dewi Sartika dan Law Office DSA & Partners itu, yang membawa perkara Sinta Melyati tersebut ke Komisi III DPR RI?

 

Banyak tangani Kasus Besar

Dewi Sartika, founder dan pimpinan Law Office DSA & Partners, ternyata adalah alumni Fakultas Hukum Trisakti Jakarta dan Master Hukum UGM Yogyakarta yang banyak menangani kasus besar.

Berdasarkan penelusuran, Law Office DSA & Partners itu adalah sebuah kantor hukum yang berada di Jakarta. Keterangan mengenai firma hukum ini bisa dilihat di website mereka, www.dsalawoffice.com.

Di header situs tersebut tertulis “DSA & Partners, Advocates and Legal Consultans”. Kantor ini beralamat di Plasa KAHA 3rd  Floor Suite 302, Jalan KH Abdullah Syafi’i  Nomor 20-A Lapangan Ros, Tebet, Jakarta Selatan.

Apa saja kasus bernama besar yang pernah ditangani Dewi Sartika dan kantor hukumnya itu? Apa memang betul mereka menerima kuasa dan menangani perkara Sinta Melyati vs Ridho Ficardo ini? Ikuti terus lanjutan kisahnya… (Bersambung/yhr).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Argumentasi Kegilaan di Piala Dunia

Oleh YUKIE H. RUSHDIE   SUNGGUH di luar dugaan, tulisan saya kemarin (Menghitung Langkah Juara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *