Kamis , 26 April 2018
Home / INVESTIGASI / Sejumlah Pedagang HP di Mal ITC Depok Resah, Kasus Dugaan Pembobolan Brankas Tak Kunjung Terungkap

Sejumlah Pedagang HP di Mal ITC Depok Resah, Kasus Dugaan Pembobolan Brankas Tak Kunjung Terungkap

KOTA DEPOK (IGS BERITA) — Sejumlah pemilik counter HP (handphone) di Mal ITC Depok mulai merasa resah setelah kasus dugaan pembobolan brankas yang menimpa salah satu rekan mereka, Roy Simanjuntak (32), tak kunjung terungkap hingga detik ini. Pasalnya, pelaporan terhadap masalah tersebut sudah dilakukan Roy secara resmi kepada pihak Polres Kota Depok sejak tanggal 21 Juli 2017, atau telah berjalan sekitar 6 bulan, tepatnya 188 hari hingga Kamis (25/1/2018) ini.

“Kalau setiap laporan kehilangan barang dagangan di Mal ITC Depok ini selalu saja tidak bisa terungkap oleh Polres Kota Depok, kepada siapa lagi kami bisa menggantungkan rasa aman untuk berjualan di sini? Saya khawatir ini akan membuat pelakunya merasa nyaman, dan kembali melakukan perbuatan serupa karena tindakannya tak pernah terungkap. Dan, musibah seperti ini bisa menimpa siapa saja di sini,” kata Sinaga, salah seorang pedagang HP di Lantai 3 Mal ITC Depok, yang mengaku lebih dulu mengalami nasib seperti Roy Simanjuntak, kehilangan barang dagangan, dan laporannya di Polres Kota Depok pun tidak jelas lagi statusnya hingga hari ini.

Kekhawatiran senada disampaikan pemilik counter HP lainnya, berinisial AP. Menurutnya, pihak pengelola Mal ITC Depok dan Polres Kota Depok sebagai mitra di bidang keamanan harus betul-betul bersinergi dalam mengungkap setiap laporan kehilangan barang dagangan, demi meningkatkan rasa aman para pedagang.

“Penuntasan semua laporan kehilangan akan membuat para pedagang di sini merasa terlindungi. Kalau semua kejadian kehilangan barang dagangan itu terungkap, tentunya para pelaku —siapapun itu— tidak akan lagi leluasa berbuat jahat di tempat ini, karena merasa modusnya bakal ketahuan atau terbongkar,” kata AP kepada IGS Berita di Mal ITC Depok, Selasa (23/1/2018).

 

Kecil Tapi Menyakitkan

Sementara itu, Roy Simanjuntak, pelapor dugaan pembobolan brankas di counter-nya, menyatakan, di mata banyak pihak, total kerugian material yang ia alami mungkin dianggap kecil. Namun, baginya, kejadian itu amatlah menyakitkan.

Roy Simanjuntak, pemilik gerai ponsel di Lantai 3 Mal ITC Depok (Foto: Dok. IGS Berita).*

“Jumlah HP yang hilang 40 buah, dengan total kerugian sekitar Rp 75 juta. Bagi sejumlah orang, angka itu mungkin dianggap kecil, bahkan sangat kecil, dan saya sendiri barangkali dianggap lebay (berlebihan) karena terus mempersoalkan masalah tersebut. Namun, bagi saya, yang namanya kehilangan barang, sungguh sangatlah menyakitkan. Apalagi di antara 40 HP yang hilang itu ada beberapa milik orang lain yang sedang kami service,” kata Roy Simanjuntak kepada IGS Berita di Mal ITC Depok, Selasa (23/1/2018).

Dalam laporannya di Polres Kota Depok, bernomor LP/1974/K/VII/2017/PMJ/Resta Depok tertanggal 21 Juli 2017 yang ditandatangani Iptu Guguh Triwahono selaku Kanit 2 SPKT, Roy Simanjuntak mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 75 juta akibat hilangnya sekitar 40 unit HP dari berbagai merek akibat adanya dugaan tindak pidana pencurian dengan pemberatan (Pasal 363 KUHP).

Menurut Roy, setelah pelaporan itu, pihak Polres Kota Depok sudah mendatangi counter-nya, memeriksa brankas, dan mengamankan gembok serta plastik-plastik tempat menyimpan HP sebagai barang bukti.

“Selama hampir 7 bulan ini, saya hanya dua kali menerima SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) dari Polres Kota Depok, yakni di bulan September dan November 2017. Saya khawatir, ini akan mengalami nasib seperti laporan dua rekan saya sebelumnya yang tidak juga ada kejelasan hingga detik ini,” kata Roy, yang mengaku sudah berjualan di ITC Depok sejak mall di bawah korporasi Grup Sinar Mas Land ini dibuka.

Perkara ini, tambah Roy, betul-betul mengusik konsentrasinya dalam berjualan. Ia merasa, haknya untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman tak lagi terlindungi.

“Kejadian ini membuat hak saya untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam berdagang jadi terasa tidak terlindungi lagi. Padahal, selain mencari pembeli yang lebih banyak, keputusan saya menyewa tempat jualan di Mal ITC Depok ini karena ingin mendapatkan rasa aman dan nyaman yang maksimal, setelah sebelumnya saya berdagang di pinggir jalan lalu di Detos (Depok Town Square),” kata Roy, seraya menyatakan akan melakukan segala upaya demi mengungkap perkara yang menimpanya ini.

 

Kronologi Peristiwa

Roy mengisahkan kronologi peristiwa yang terjadi di counter HP miliknya, Familly Cell, Lantai 3 Blok A Nomor 48 Mal ITC Depok.

Kala itu, Jumat, 21 Juli 2017, sekitar pukul 10.18 WIB, salah seorang pegawai Familly Cell, Murky Lajaro Purba, bermaksud membuka toko.

“Dia kaget saat menemukan gembok brankas tempat penyimpanan HP telah berada pada kondisi rusak, dan semua barang di dalamnya sudah hilang. Murky langsung menelepon saya, mengabarkan hal tersebut,” kata Roy.

Usai mendapat kabar itu, Roy langsung melaporkannya ke pihak keamanan dan pengelola gedung Mal ITC Depok. Berdasarkan hasil konsultasi dengan mereka jualah kemudian Roy melaporkan kasus ini ke Polres Kota Depok.

“Jadi, saya sudah melakukan pelaporan ini sesuai prosedur. Saya tidak melangkahi keberadaan pihak keamanan dan pengelola gedung Mal ITC Depok dengan langsung membuat laporan resmi ke Polres Kota Depok,” kata Roy.

Terkait keberadaan CCTV sebagai bagian dari sistem pengamanan di Mal ITC Depok, Roy menyatakan bahwa tokonya kebetulan tidak berada pada wilayah pantau perangkat tersebut.

“CCTV memang ada. Tapi hanya di wilayah escalator. Itu pun kualitasnya tidak terlalu baik. Sekarang ini memang ada dipasang lagi CCTV di dekat toko saya. Tapi itu baru dilakukan setelah saya kena musibah,” kata Roy.

Ia pun menyampaikan, musibah yang dialaminya itu diduga berlangsung di luar jam operasional Mal ITC Depok.

“Segala sesuatunya masih beres ketika kami tutup toko dan pulang, Kamis (20 Juli 2017) malam. Kejadiannya baru kami ketahui saat datang mau buka toko, Jumat (21 Juli 2017) pagi. Berarti di antara waktu itulah kejadiannya,” kata Roy.

Pada kesempatan yang sama, Roy menyampaikan kekecewaannya terhadap respon pihak pengelola Mal ITC Depok yang menurutnya seolah lepas tangan.

“Di luar jam operasional toko, secara fisik —baik itu bangunan maupun isinya— keamanan berada di bawah kendali pihak pengelola gedung ITC Depok. Setiap bulan, para penguna jasa tempat berdagang di sini semuanya membayar service charge, termasuk di dalamnya untuk biaya keamanan. Lantas, apa yang sebetulnya mereka amankan? Kan lebih baik uang keamanannya saya pakai menggaji orang yang khusus tidur di toko menjaga barang dagangan pada saat tutup,” kata Roy.

 

Mal ITC Depok pun Korban

Secara terpisah, pihak pengelola gedung Mal ITC Depok mengaku, dalam perkara ini sebenarnya mereka pun adalah korban. Karena, peristiwa itu berlangsung di dalam wilayah hukum yang berada di bawah pengelolaan mereka.

Manajemen Pengelola Gedung Mal ITC Depok, dari kiri ke kanan: Katarina, Buntaran, dan Thiandaru Permana Galih (Foto: Jefri Marpaung – IGS Berita).*

“Pada masalah ini, kami pun sebenarnya adalah korban. Maka, kami juga sangat mengharapkan pihak Polres Kota Depok bisa segera mengungkap masalahnya hingga tuntas. Namun, tentu saja, penyelidikan dan penyidikan terhadap masalah ini berada di luar kewenangan kami. Itu merupakan bagian dari tugas pihak kepolisian sebagai lembaga penegak hukum yang tentunya tidak bisa diintervensi oleh siapapun,” kata Kepala Manajemen Pengelola Mal ITC Depok, Katarina, kepada IGS Berita, Selasa (23/1/2018).

Pihak Polres Kota Depok, lanjut Katarina, sudah mendatangi pihak pengelola gedung Mal ITC Depok. Mereka sudah melihat rekaman visual yang tertangkap pada perangkat CCTV yang tersedia.

“Polres Kota Depok memang tidak meminta copy dari rekaman CCTV di kami. Tapi mungkin mereka sudah merekam dengan gadget-nya sewaktu menyaksikan di layar kami. Data CCTV pada waktu yang diduga menjadi saat dari kejadian itu sendiri sekarang sudah terhapus. Karena, secara berkala, sistemnya memang akan melakukan penghapusan otomatis terhadap data yang ada,” kata Katarina, yang pada kesempatan itu didampingi salah seorang stafnya, Thiandaru Permana Galih, dan konsultan pengelola gedung Mal ITC Depok, Buntaran.

Dari pihak pengelola gedung Mal ITC Depok sendiri sudah ada yang dipanggil Polres Kota Depok untuk dimintai keterangan, yakni Thiandaru Permana Galih. Pemeriksaan terhadap Thiandaru itu dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2017, pukul 14.30 WIB, atau sekitar 3 bulan sejak pelaporan yang dilakukan Roy Simanjuntak.

“Pada saat itu, kami pun mempertanyakan kepada Polres Kota Depok, kenapa pemeriksaan terhadap pihak kami baru dilakukan setelah 3 bulan?” kata Katarina lagi.

Menurut Katarina, pelaksana tugas pengamanan di Mal ITC Depok selama ini diserahkan kepada mitra outsource-nya, PT. Cakra Satya Internusa (CSI), dengan jumlah anggota sebanyak 72 orang untuk tiga paruh waktu (shift).

 

Tanggung Jawab Masing-masing

Soal tanggung jawab terhadap barang-barang milik para tenants (pengguna jasa gedung), konsultan pengelola Mal ITC Depok, Buntaran, menyatakan, masalah itu menjadi tanggung jawab masing-masing.

“Kami menyediakan sistem keamanan untuk keseluruhan gedung. Soal barang-barang milik tenants, tentunya tidak bisa kami jagai satu per satu. Di sini ada sekitar 2.000 tenants, lho. Para pemilik gerai, bisa melakukan pengamanan barang-barangnya dengan antara lain membuat asuransi, atau memasang CCTV di tokonya masing-masing, sehingga bisa mereka pantau sendiri dari rumah. Kalau semua kehilangan harus kami tanggung, nggak akan ada yang mau kerja di sini, baik untuk menjadi petugas keamanan ataupun pengelola gedung,” kata Buntaran.

Lebih lanjut Buntaran menyatakan, pihaknya belum bisa menyimpulkan benar-tidaknya kejadian tersebut sebelum proses penanganannya secara hukum selesai.

“Soal adanya pelaporan yang dilakukan Roy Simanjuntak kepada pihak Polres Kota Depok, itu memang benar. Tapi, soal benar-tidaknya atau terbukti-tidaknya isi dari pelaporan tersebut kan belum bisa disimpulkan,” kata Buntaran.

Ia kemudian menyatakan keberatan kalau Mal ITC Depok disebut sebagai rawan pencuri. Menurutnya, kalau dari 2 ribuan toko yang ada, hanya satu yang diduga mengalami musibah pencurian, tentunya tidak bisa membuat Mal ITC Depok lantas diopinikan sebagai rawan pencuri.

“Laporan-laporan ke polisi mungkin memang ada. Tapi, sampai sekarang, kan belum ada yang terbukti dari isi laporan-laporan tersebut,” kata Buntaran.

Terkait masalah yang menimpa gerai ponsel milik Roy Simanjuntak, pihak pengelola Mal ITC Depok sendiri, lanjut Buntaran, tidak melakukan tindakan atau langkah-langkah internal khusus terhadap para petugas keamanan. Mereka melakukan pola standar saja berupa pencatatan melalui berita acara.

Terakhir, Buntaran menyebutkan, Polres Kota Depok sebaiknya berkoordinasi secara intensif dengan semua pihak, baik pelapor, saksi-saksi, petugas keamanan, maupun pengelola gedung ITC Depok, demi mempercepat proses pengungkapan perkara ini.

“Hal-hal apa saja yang mereka butuhkan dari pihak-pihak tersebut agar proses penyelidikan maupun penyidikannya bisa berjalan lancar dan cepat, ya koordinasikanlah terus,” katanya.

 

Belum Bisa Mengungkap Pelaku

Di lain pihak, Polres Kota Depok menyatakan, hambatan yang dihadapi dalam perkara ini karena penyidik belum bisa mengungkap pelaku dari dugaan tindak pidana pencurian tersebut.

“Hambatan yang dialami oleh Penyidik sampai dengan saat ini belum bisa untuk mengungkap siapa yang menjadi pelaku tindak pidana pencurian tersebut namun Penyidik masih tetap melakukan upaya dengan mencari keterangan dari saksi-saksi lain yang ada kaitannya dengan perkara tersebut,” kata pihak Polres Kota Depok, sebagaimana tertulis dalam lembar BAHP Nomor B/2079/XI/2017/Reskrim tertanggal 20 November 2017.

Sejauh ini, sesuai isi dari BAHP di bulan September dan November 2017, penyidik Polres Kota Depok telah memeriksa 5 orang saksi untuk dimintai keterangan. Mereka masing-masing Angga dan Manan Sujai (anggota keamanan yang bertugas jaga pada saat kejadian), Kustiana (karyawan gerai bakso yang berada tak jauh dari lokasi kejadian), Thiandaru Permana Galih (perwakilan manajemen pengelola Mal ITC Depok), dan Mukry Lajaro Purba (karyawan gerai ponsel milik pelapor).

Berdasarkan BAHP itu, pemeriksaan pertama yang dilakukan penyidik Polres Kota Depok, yakni terhadap Angga dan Manan Sujai, dilakukan pada tanggal 21 Agustus 2017, atau tepat sebulan setelah tanggal pelaporan, 21 Juli 2017.

Dihubungi terpisah, advokat Arnol Sinaga, SE., SH. dari Kantor Hukum Arnol Sinaga & Associates (ASA), menyatakan, rasa nyaman dan aman para pencari keadilan ditentukan oleh tuntas-tidaknya masalah yang mereka hadapi.

“Para pelaku penegakan hukum bertanggung jawab melayani penyelesaian masalah yang disampaikan para pencari keadilan. Panjang-pendeknya waktu penanganan kerap menjadi persoalan, yang tak jarang dikaitkan dengan masalah kualitas. Dalam konteks ini, keterbukaan informasi terhadap setiap tahap yang sedang dijalani akan mengobati luka para pencari keadilan. Kalau dibiarkan mengambang tanpa kejelasan, itu yang sering membuat masyarakat merasa haknya untuk mendapatkan rasa nyaman dan aman menjadi seolah tak terlindungi lagi,” kata Arnol Sinaga kepada IGS Berita di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Rabu (24/1/2018).

Ia pun menyinggung soal istilah “rawan pencuri” atau “rawan kejahatan”. Menurutnya, stigma atau opini semacam demikian tidak bisa ditarik secara linier dengan jumlah atau angka-angka secara kuantitas.

“Kota yang tingkat kejahatannya rendah, bisa saja disebut rawan bila setiap perkara yang muncul tidak ada satu pun yang terpecahkan atau tertuntaskan. Sebaliknya, di wilayah yang tingkat kejahatannya tinggi, tapi selalu saja bisa diungkap dan dituntaskan, maka rasa aman dan nyaman masyarakat akan terasa lebih terlindungi. Setidaknya, penegakan hukum di sana masih dianggap sebagai alat yang sangat efektif untuk melindungi korban-korban kejahatan,” kata Arnol Sinaga. (yhr/jfm).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Alami Dekompresi, Lion Air Mendarat Darurat di Palembang

JAKARTA (IGS BERITA) — Akibat mengalami penurunan tekanan udara secara tiba-tiba atau dekompresi, pesawat Lion …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *