Selasa , 18 September 2018
Home / INVESTIGASI / Sandiaga Uno: “John Nainggolan? Nauli… Sittong…”
Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno, menghadiri pemeriksaannya sebagai saksi di Polda Metro Jaya, Selasa (11/7), dalam perkara dugaan pemalsuan jual-beli saham PT Japirex milik John Nainggolan (Foto: Dok. IGS Berita).*

Sandiaga Uno: “John Nainggolan? Nauli… Sittong…”

JAKARTA (IGS BERITA) — Sebaris kalimat pendek dilontarkan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Salahuddin Uno, saat IGS Berita menanyakan perihal perkaranya dengan John Nainggolan dalam hal jual-beli saham PT Japirex. “John Nainggolan? Naulisittong!” kata Sandiaga Uno, di sela-sela acara Halal Bihalal 1438 Hijriyah Keluarga Besar Dewan Pengurus Pusat Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (DPP IPHI) dan DPP Kongres Advokat Indonesia (KAI) di Fairmont International Hotel, Jalan Asia-Afrika Nomor 8, Gelora Senayan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (8/7) malam.

Sandiaga Uno, yang malam itu hadir bersama istrinya, Nur Asia, tidak merinci apa maksud dari kalimat pendeknya itu. Nauli dan sittong adalah kata dalam bahasa Batak yang berarti “indah” dan “benar”.

BACA JUGA:

Perseteruan Sandiaga Uno dengan John Nainggolan dalam perkara jual-beli saham PT Japirex itu memang terus bergulir. Sandiaga Uno menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, Selasa (11/7).

“Saya berterima kasih kepada pihak kepolisian yang secara profesional menangani transaksi bisnis yang terjadi di tahun 2001, di masa pemerintahan Presiden Gus Dur dan Gubernur Sutiyoso,” kata Sandiaga Uno, sesaat setelah keluar dari ruang pemeriksaannya.

Ia datang ke Polda Metro Jaya bersama pengacaranya, dengan mengenakan baju warna putih dan celana cokelat.

Menurutnya, sebagai warga negara, ia mendukung proses hukum, Maka, sebelum datang undangan berikutnya, pasangan dari Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan, tersebut berinisiatif mendatangi Polda Metro Jaya.

“Sebagai warga negara, saya akan terus mendukung kinerja kepolisian dalam menghadirkan kepastian hukum yang diperlukan dunia usaha, demi penciptaan lapangan kerja dan iklim usaha yang kondusif. Saya mendatangi Polda atas inisiatif sendiri,” kata Sandiaga Uno.

 

Terlalu Ketahuan

Dihubungi terpisah, Arnol Sinaga, SE., SH., kuasa hukum dari John Nainggolan, korban sekaligus pelapor dalam perkara dugaan pemalsuan jual-beli saham PT Japirex itu, menyatakan, kebohongan yang dilakukan Sandiaga Uno pada kasus tersebut terlalu ketahuan.

“Kalau mau berbohong, jangan terlalu ketahuan, dong. Mosok istrinya (John Nainggolan) dibilang hadir dan menandatangani (akta jual-beli). Wong tanda tangannya saja tidak ada, kok,” kata Arnol Sinaga kepada IGS Berita, Selasa (11/7) sore, di Kantor Hukum Arnol & Masrin, Jakarta.

Tim kuasa hukum John Nainggolan itu pun menyampaikan apresiasinya terhadap pihak Polda Metro Jaya, yang tetap menjunjung tinggi asas equality before the law (persamaan hak di muka hukum) meski harus berurusan dengan calon pejabat tinggi DKI Jakarta.

“Kami sangat percaya dengan motto Polri, Promoter —Profesional, Modern, dan Terpercaya. Pada motto itu sudah terkandung prinsip equality before the law, tidak terkecuali terhadap seorang Wagub terpilih,” kata Masrin Tarihoran, SH., yang bersama-sama Arnol Sinaga mewakili John Nainggolan dalam perseteruannya melawan Sandiaga Uno.

 

Kronologi Perkara

Sebagaimana pemberitaan sebelumnya, berdasarkan surat bernomor S.Pgl/7621/VI/2017/Ditreskrimum, Sandiaga Uno dipanggil Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi pada Selasa, 20 Juni 2017, yang ternyata tidak bisa ia penuhi karena beberapa alasan.

Pemanggilan itu bertalian dengan Laporan Polisi Nomor LP/2231/V/2017/Dit.Reskrimum, yang menyebutkan Sandiaga Uno diketahui melakukan pemalsuan tanda tangan atas penjualan 1.000 lembar saham PT Japirex milik John Nainggolan.

Gara-gara aksi pemalsuan yang diduga kuat dilakukan Sandiaga Uno itu, John Nainggolan pun menjadi korban karena tidak bisa lagi mendapatkan haknya selaku pemegang saham manakala PT Japirex dipailitkan. John Nainggolan merasa kasus ini sudah cukup lama tertunda.

Menurut Arnol Sinaga, langkah hukum ini dilakukan demi meluruskan situasi dan kondisi, yang menyebutkan bahwa keberadaan Sandiaga Uno di PT Japirex itu bermula saat ia membeli saham perusahaan tersebut dari John Nainggolan pada tahun 2001.

“Ada surat jual-beli saham yang isinya menyebutkan bahwa John Nainggolan menjual saham PT Japirex kepada Sandiaga Uno. Padahal, John sama sekali tidak pernah menandatangani surat jual-beli saham itu. Bahkan bertemu Sandiaga Uno dan notarisnya pun tidak pernah. Disebutkan pula di sana, surat jual-beli itu ditandatangani istrinya John Nainggolan. Tapi, anehnya, di surat jual-beli saham itu tidak ditemukan tanda tangan istri John Nainggolan tersebut. Jadi, diduga kuat surat jual-beli saham itu palsu (Pasal 263 dan 266 KUHP),” kata Arnol Sinaga kepada IGS Berita, Selasa (20/6).

Dalam akta perubahan terakhir PT Japirex, lanjut Arnol, pemegang saham dari perusahaan itu tercatat hanya dua orang, Andreas Tjahjadi (1.500 lembar) dan Sandiaga Uno (1.000 lembar).

“Masalah peningkatan dan pengalihan saham itu pun tidak diketahui dan tanpa seizin John Nainggolan selaku pemegang saham,” kata Arnol lagi.

 

Jangan Terburu-buru

Sementara itu, mantan anggota Komisi III DPR RI dari Partai Demokrat, Ruhut Poltak Sitompul, yang juga dijumpai IGS Berita di sela-sela acara Halal Bihalal DPP IPHI dan KAI, mengomentari perkara Sandiaga Uno versus John Nainggolan itu dengan kalimat singkat dalam bahasa Jawa, ojo kesusu, yang berarti “jangan terburu-buru”.

Menurut Ruhut, semua pihak harus memiliki rasa sabar. Ia percaya, semua pihak mempunyai kepercayaan terhadap keberadaan hukum di negeri ini.

“Sabar. Ojo kesusu. Percayalah,” kata Ruhut Sitompul, advokat senior yang terkenal dengan julukan Si Poltak Raja Minyak dari Medan gara-gara perannya sebagai tokoh pongah di sinetron Gerhana. (jfm/yhr).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Museum Nasional

Lahap Rp 19,2 Miliar, Gedung Arsip Museum Nasional Tidak Berfungsi

JAKARTA (IGS BERITA) — Hingga detik ini, Gedung Arsip dan Ruang Serba Guna milik Museum …

Tinggalkan Balasan