Jumat , 19 Oktober 2018
Home / IGS OPINION / Recehan | Panggung Politik Berbalut Ayat Tuhan
Panggung Politik

Recehan | Panggung Politik Berbalut Ayat Tuhan

Oleh MEGA PUSPITA (Wartawan IGS Berita)

 

PENTAS recehan itu, lagi-lagi, tergelar di depan mata, siang kemarin. Panggung politik berbalut ayat-ayat Tuhan itu, yang (lagi-lagi) membenturkan keindahan takbir-tahlil-tahmid-tasbih dengan caci maki tak bersantun, harus menyapa mata saya.

Drama apa lagi yang sesungguhnya sedang terhampar di negeri ini?

“Kalau cinta, janganlah terlalu cinta, nanti sakit hati. Kalau benci, janganlah terlalu benci, nanti menyesal,” bisikan hati itu, entah kenapa, mengalir mengiringi rasa miris saya menyaksikan ratusan massa yang mengepung Mapolda Metro Jaya dengan kebenaran versinya sendiri.

Skenario busuk seorang Ratna Sarumpaet, pada gilirannya, memang telah menimbulkan kegaduhan yang sungguh meresahkan. Pemanggilan Amien Rais sebagai saksi pun langsung dikemas dalam istilah keji: penzaliman politis.

Sepertinya ada yang terlupakan. Atau sengaja dilupakan. Sebelum pemain sandiwara Ratna Sarumpaet mengaku berdusta, bukankah kisah penganiayaan itu sudah langsung diantisipasi dengan berbagai panggung politik, baik lewat konferensi pers maupun cuitan di Twitter?

Ketika semuanya terbongkar, dan penanganan hukum mulai dijalankan sebagaimana keinginan para orator itu, tiba-tiba lahir lagi tudingan lain yang tak kalah miring dan nyinyirnya.

Semua itu, di mata awam, tak lagi melahirkan simpati. Yang muncul malah keyakinan yang kian mengental: ini memang sebuah skenario besar dengan Ratna Sarumpaet sebagai martirnya.

 

KETIKA data dan fakta hanya dilawan dengan wacana, manakala kinerja dihadapi dengan permainan kata-kata, masyarakat yang punya mata pasti bakal tertawa.

Saya, dalam keseharian sebagai seorang jurnalis, menghadapi situasi bubur-merah-bubur-putih itu dengan senyum getir di ujung bibir.

“Orang Indonesia tidak bisa lagi dibohongi dengan topeng-topeng recehan pembungkus syahwat kekuasaan macam begitu,” pikir saya.

Mata manusia tak terlalu buta untuk membedakan mana yang bekerja dengan hati dan mana yang sekadar berkata-kata demi ambisi.

Tatkala lantunan indah ayat-ayat Tuhan itu dijadikan sebagai prolog untuk sekarung makian, cacian, bahkan penghinaan, kita dengan mudah bisa menilai: mana yang sebetulnya tengah mempraktikkan teori penistaan hipokritisme tersebut.

Sewaktu caci maki dan penghinaan berbungkus ayat-ayat Tuhan itu mereka tambahi dengan pemujaan —bahkan pengkultusan— terhadap tokoh-tokoh ilusif pecinta kata-kata hampa, petanya pun jadi kian jelas, setidaknya bagi saya.

Sadar tidak sadar, mereka justru tengah mendiskon harga ulama, kiai, ustadz, dan sejenisnya, karena sekadar menjadikannya sebagai pembungkus hasrat kekuasaan yang belum juga terlampiaskan.

Di situlah letak hipokritismenya. Di situlah noktah yang mencederai kesejatian dari terminologi panggung politik identitas.

 

SIANG itu, panasnya langit yang bak bocoran neraka seolah menjadi energi untuk terus mencaci figur terbenci dan memuja sosok tercinta.

Ketulusan dari sebuah gerakan “bela agama” atau “kawal ulama” itu pun seketika jadi ternoda. Ini pasti ada misi tersembunyi. Ini pasti ada gejolak ambisi yang dibungkus dengan judul-judul suci.

Ke manakah hijrahnya rasionalitas?

“Tak ada yang kebetulan,” teriak seorang emak dengan suara yang terdengar kian menggelegar lewat speaker-speaker besar.

Hati saya, entah kenapa, langsung setuju dengan kalimat itu. Ya, tak ada yang murni, memang. Semua sudah terencana. Semua sudah berskema. Semuanya ini ulah tangan-tangan manusia. Termasuk Ratna. Termasuk para emak.

Sederet kelucuan kemudian menampakkan diri. Instruksi satu pintu menjadi oli utama bergeraknya roda-roda massa. Demi menghadirkan penguasa baru, mereka rela menghantam panasnya udara, dalam kemasan yang serba maya dan sekadar kata-kata.

Jelang sore, suara gaduh orasi-orasi sarat ujaran kebencian itu terus menggema di seantreo jalan raya dalam lintasan Mapolda Metro Jaya.

Saat tiba waktu sholat, mereka kumandangkan adzan. Berlanjut pada shalawat. Dan kembali mengumbar gelegar koar dalam kemasan kalimat-kalimat kasar cenderung tanpa moral.

Ah, entah sampai kapan Indonesia akan terus memproduksi tayangan-tayangan receh soal moral semacam begitu.

Sebagai seorang jurnalis, saya sekadar memindahkan penglihatan, pendengaran, dan perasaan ke dalam tulisan. Tanpa tendensi keberpihakan sedikit pun.

Ini sekadar langkah eskapis saya atas ketidakikhlasan mendengar ayat-ayat Tuhan hanya dijadikan dasar, tameng, dan pembungkus lontaran-lontaran kutukan berbau keberpihakan.

Merangkaknya harga Pertamax, mangkraknya nilai tukar rupiah, menyesaknya dada para saudara di Palu dan Donggala, bukanlah fenomena yang bisa terselesaikan dengan kata-kata.

Malam tadi, dalam kereta yang membawa saya pulang, bisikan itu kembali datang: “Kalau cinta, janganlah terlalu cinta, nanti sakit hati. Kalau benci, janganlah terlalu benci, nanti menyesal!”

Huru-hara Jakarta, ternyata, adalah adu suara para raja. Bukan teriakan rakyat jelata…*

About Yukie Rushdie

Check Also

KPU

Lidah KPU Memang Tak Bertulang

Oleh YUKIE H. RUSHDIE (Pemimpin Redaksi IGS Berita)   OMONG-OMONGAN! Ya, itu memang sudah menjadi …

Tinggalkan Balasan