Minggu , 18 Februari 2018
Home / INVESTIGASI / PT Krakatau Engineering Akan Buktikan Sudah Lunasi Utang Kepada Para Pemohon PKPU
Arnol Sinaga, Kuasa Hukum PT Krakatau Engineering (Foto: Dok. IGS Berita).*

PT Krakatau Engineering Akan Buktikan Sudah Lunasi Utang Kepada Para Pemohon PKPU

JAKARTA (IGS BERITA) — PT Krakatau Engineering, salah satu anak perusahaan dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., menyatakan akan membuktikan bahwa pihaknya sudah melunasi kewajiban utang mereka kepada dua vendornya, PT SLS Bearindo dan PT Sapta Asien Mid East, yang mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Hal itu disampaikan kuasa hukum PT Krakatau Engineering selaku termohon, Arnol Sinaga, SE., SH., dari Kantor Hukum Arnol Sinaga & Associates (ASA), usai sidang perdana perkara PKPU tersebut di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018).

“PT Krakatau Engineering sudah membayar lunas utangnya kepada PT SLS Bearindo (Rp 1,2 miliar) dan PT Sapta Asien Mid East (Rp 163,05 juta). Karena utang-utang itu sudah dibayar 100 persen, maka perkara PKPU ini seharusnya dicabut,” kata Arnol Sinaga kepada IGS Berita.

Bukti-bukti pembayaran itu, lanjut Arnol Sinaga, akan dimasukkan dalam sidang dengan agenda jawaban termohon, Kamis (11/1/2018).

“Pokok utama dari perkara antara para pemohon dan termohon ini adalah terlaksananya kewajiban termohon untuk melunasi utang-utangnya yang merupakan hak para pemohon. Bagaimanapun, hal itu harus dinilai sebagai iktikad baik dari pihak termohon untuk menyelesaikan perkaranya dengan para pemohon. Kalau pokok utamanya sudah diselesaikan, tapi perkaranya terus dipanjang-panjangkan, saya khawatir persoalannya justru akan menjadi bias,” kata Arnol Sinaga.

Jadi, menurut Arnol, sungguh tidak etis bila tindakan pelunasan utang yang sudah dilakukan PT Krakatau Engineering dianggap sebagai iktikad tidak baik.

“Sangat tidak etis jika langkah pelunasan utang yang kami lakukan itu dikatakan sebagai iktikad tidak baik. Pertanyaannya sederhana, jika ada utang, mana yang lebih baik antara membayar dan tidak membayar?” kata Arnol Sinaga lagi.

Pihak PT Krakatau Engineering, tambah Arnol Sinaga, tidak pernah menyangkal utang-utangnya terhadap para pemohon. Maka, setelah pergantian direksi pada 18 Desember 2017, PT Krakatau Engineering —di bawah Direktur Utamanya yang baru, Lussy Adriaty Dede— segera melunasi utang tersebut.

“Kami tidak akan mengecewakan vendor. Karena, bagi saya, mereka itu bukanlah sekadar vendor, melainkan partner, mitra kerja. Dan, bagaimanapun, kami (Krakatau Engineering maupun Krakatau Steel) selalu membutuhkan mitra kerja,” kata Direktur Utama PT Krakatau Engineering, Lussy Adriaty Dede, kepada IGS Berita.

 

Akui Pelunasan

Menanggapi hal itu, kuasa hukum PT Sapta Asien Mid East, Pringgo Sanyoto, memang mengakui adanya pelunasan utang dari PT Krakatau Steel.

Namun, menurut Pringgo Sanyoto, pelunasan utang itu baru dibayarkan ketika relaas panggilan sidang sudah dikirim ke pihak termohon.

“Utang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih. Kalaupun ada pelunasan utang ketika relaas panggilan (sidang) datang, ya itu iktikadnya tidak baik,” kata Pringgo Sanyoto kepada wartawan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Senin (8/1/2018).

PT Sapta Asien Mid East merupakan subkontraktor yang mengerjakan proyek EPC Upgrading Unit Produksi Pelumas Jakarta, Tanjung Priok.

Perusahaan itu menerima pekerjaan proyek penyusunan baja pada 3 November 2015 dan 1 Desember 2015. Kedua proyek telah diselesaikan, namun pembayaran atas jasa tersebut —senilai Rp 163,05 juta— tidak dilakukan, sehingga mereka mengajukan permohonan PKPU pada 27 Desember 2017.

Sebelumnya, 10 Oktober 2017, PT Sapta Asien Mid East telah melayangkan somasi kepada pihak PT Krakatau Engineering. Kala itu, PT Krakatau Engineering menawarkan skema pembayaran angsuran selama 12 bulan atau hingga Oktober 2018.

Namun, setelah pergantian direksi pada 18 Desember 2017, atau sebelum masa 12 bulan dari skema pembayaran itu habis, PT Krakatau Engineering segera melunasi kewajibannya.

Sementara itu, PT SLS Bearindo selaku pemohon pertama mengantungi tagihan sebesar Rp 1,2 miliar.

Perusahaan itu merupakan subkontraktor PT Krakatau Engineering yang memasok barang di proyek pembangunan pabrik kelapa sawit di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Proses pemasokan barang dilakukan tujuh kali dalam kurun 18 Desember 2012 hingga 6 Mei 2014. (yhr).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Sejumlah Pedagang HP di Mal ITC Depok Resah, Kasus Dugaan Pembobolan Brankas Tak Kunjung Terungkap

KOTA DEPOK (IGS BERITA) — Sejumlah pemilik counter HP (handphone) di Mal ITC Depok mulai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *