Senin , 19 November 2018
Home / IGS STORY / Pendekar Sakti (Eps. 001)

Pendekar Sakti (Eps. 001)

PENGANTAR REDAKSI: Mulai hari ini, IGS Berita menayangkan serial silat Pendekar Sakti karya pengarang legendaris Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Pendekar Sakti adalah episode pertama serial Bu Punsu, yang terdiri dari empat judul: Pendekar Sakti, Dara Baju Merah (Ang I Niocu), Pendekar Bodoh, dan Pendekar Remaja. Selamat mengikuti.*

 

SUNGAI Huang-ho atau Sungai Kuning itu, yang amat terkenal di Tiongkok, menumpahkan airnya di Laut Pohai, yang termasuk Provinsi Shan-tung sebelah utara. Puluhan bahkan ratusan kerajaan boleh berganti. Jutaan manusia pun mati dan hidup lagi. Tapi, Sungai Kuning tetap mengalirkan airnya ke laut.

Kala itu, di awal abad kedelapan, Kerajaan Tang – yang sejak abad ketujuh hidup subur dan makmur – mulai mengalami perubahan besar. Korupsi besar-besaran, yang dilakukan para pembesar dan pegawai negeri dari lapisan terendah hingga tertinggi, membuat negara menjadi lemah. Rakyat menjadi sengsara, dan kekacauan pun timbul di mana-mana.

Bangsa-bangsa lain, seperti Tibet yang sudah bersahabat sejak kepala sukunya, Sron-can Gam-po, menikah dengan Putri Wan Ceng, kini mulai kelihatan mengambil sikap kurang baik. Suku bangsa Tibet itu, yang sudah menjadi begitu kuat, seringkali menunjukkan sikap bermusuhan dan menghina kepada balatentara Tang yang menjaga tapal batas utara. Bangsa Nam-cow pun kini memperlihatkan sikap tidak bersahabat.

Semua itu timbul karena kekacauan di dalam tubuh Kerajaan Tang sudah kian menampakkan diri. Kekuatan pasukan menjadi rusak, penuh kutu busuk berupa panglima-panglima korup. Dalam keadaan seperti itulah cerita ini terjadi…

***

DI pinggir Laut Po-hai, tempat di mana air Sungai Kuning itu tumpah, sangatlah sunyi. Karena, itu memang tempat liar dan tidak didiami manusia. Siapa yang berani mendiami lembah Sungai Kuning di dekat laut itu? Sama saja dengan hidup di dekat mulut seekor naga liar, yang sewaktu-waktu dapat bangkit dan mencaplok siapapun yang berada di dekatnya. Setiap kali datang musim hujan, lembah yang nampak kehijauan dan amat subur itu berubah menjadi lautan ganas!

Akan tetapi, waktu itu musim hujan sudah lama berlalu. Lembah Sungai Kuning itu pun menjadi tanah subur yang penuh dengan rumput-rumput hijau. Pemandangan yang sungguh indah. Dan suara air laut, yang bergelombang memukuli batu-batu karang di pinggirnya, menjadi sebuah dendang yang tak kunjung habis.

Tempat itu belum pernah didatangi manusia. Akan tetapi, pada saat itu, tampak sesosok bayangan orang berdiri tegak di atas puncak bukit batu karang yang menghitam. Orang ini sepertinya sudah tua. Pakaiannya penuh tambalan, seperti layaknya pengemis. Rambutnya panjang tidak terpelihara. Tubuhnya tinggi kurus. Namun, kalau melihat wajahnya, dia nampak agung dan berpengaruh, laksana paras seorang kaisar saja! Usia dia sebetulnya baru empat puluh lima tahun. Akan tetapi, dia tampak sudah tua karena tidak merawat dirinya.

Kakek ini berdiri tegak sambil kadang-kadang memandang ke arah gelombang laut yang membuas, kadang-kadang melihat air Sungai Kuning yang menggabungkan diri dengan saudara tuanya, air laut. Ia mengembangkan kedua lengannya yang kurus, lalu terdengar dia bicara seorang diri.

“Air Huang-ho berasal dari hujan, dan hujan berasal dari laut. Lihat, mendung bergulung-gulung dari atas laut. Bukankah ini namanya kembali ke asal? Alam begini besar, kuasa, dan adil. Mana bisa dibandingkan dengan kekuasaan kaisar? Alam bersifat memberi. Selalu memberi. Tidak seperti kaisar, yang selalu minta! Ah, alangkah bodohnya adik Pin. Mana mau aku mengikuti jejaknya? Hari ini, dia diangkat menjadi menteri. Lalu bercanda dengan kedudukan dan kemewahan. Mana bisa dia tahu soal kebahagiaan sejati? Biarlah aku bercanda dengan kekayaan alam!”

Setelah berkata demikian, kakek ini lalu melenggang, menuruni gunung karang itu. Bukit batu karang besar itu licin sekali, karena selalu tersiram air laut. Ujungnya pun runcing-runcing dan tajam. Belum lagi bentuknya yang amat terjal. Akan tetapi, betul-betul mengherankan, sang kakek dapat berjalan turun dari batu tersebut seolah-olah batu itu datar saja. Ia tidak kelihatan menggunakan keseimbangan tubuh. Hanya berjalan biasa, tanpa melihat batu karang yang diinjaknya.

Hebatnya lagi, sambil berjalan turun, kakek ini membuka mulutnya dan bernyanyi! Suaranya keras sekali, mengimbangi suara gelombang air laut yang membentur karang. Sehingga, kalau didengar-dengar, suara air laut itu seolah-olah menimbulkan irama musik yang mengiringi nyanyian sang kakek. Dengan suara yang makin lama makin keras, seakan-akan tidak mau kalah oleh suara ombak yang juga makin menderu, dia bernyanyi berulang-ulang.

Kalau kau menarik gendewa / sampai sepenuh-penuh lengkungnya / kau akan menyesal mengapa tak kau hentikan pada waktunya.

Kalau kau mengasah pedangmu / seruncing-runcingnya / ujung pedang itu takkan dapat bertahan lama.

Kalau emas permata memenuhi rumahmu / kau akan repot dan bingung untuk menjaga semua itu.

Menyombongkan harta dan mengagulkan kedudukan / berarti menyebar benih keruntuhan.

Mengasolah setelah tugas selesai / sesuai dengan jalan Thian-to (Hukum Alam)!

Kata-kata yang keluar dari mulut kakek itu sesungguhnya bukan nyanyian sembarangan saja, melainkan kata-kata bersajak dari pujangga – atau ada kalanya disebut Nabi Besar – Lo-cu! Kakek itu kini sudah tiba di atas tanah berpasir, kemudian dia berjalan menuju laut!

Apa yang hendak diperbuatnya? Sungguh aneh! Ia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang menghadapi laut. Ia berdiri di sebelah batu karang itu, menantikan datangnya gelombang ombak yang sebesar bukit!

(Bersambung)

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: