Selasa , 18 September 2018
Home / IGS STORY / Pendekar Sakti (Eps. 008)

Pendekar Sakti (Eps. 008)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini)

“LU Kwan Cu, nama yang baik! Aku suka nama ini. Aku Lu Kwan Cu. Ya, aku bernama Lu Kwan Cu. Siapa lagi kalau bukan ini namaku?” berkali-kali kata-kata ini keluar dari mulut anak kecil yang berjalan seorang diri di jalan raya yang sunyi dan lebar.

Ia sudah kehilangan ingatannya. Tidak ingat sama sekali tentang apa yang sudah terjadi padanya. Ia tidak ingat lagi akan orangtuanya yang lenyap bersama dengan kapal di mana tadinya dia berada. Semua telah lenyap ditelan ombak samudera. Dan kalau anak ini merupakan orang satu-satunya yang selamat, lalu dia kehilangan ingatannya, siapa lagi orangnya di dunia ini yang dapat menceritakan siapa adanya anak ini dan siapa pula orangtuanya?

Oleh karena tidak mungkin menyelidiki siapa adanya keluarga anak ini, maka biarlah kita mulai sekarang menganggap saja bahwa dia bernama Lu Kwan Cu, anak kecil berusia lima tahun yang seolah-olah sudah dilemparkan oleh ombak laut Po-hai ke dalam dunia, seorang diri tak berteman, hanya berkawan perutnya yang memiliki nafsu makan besar sekali dan baju compang-camping yang kantongnya kosong sama sekali!

Oleh karena desakan perutnya, maka tak lama kemudian anak ini kelihatan mengemis di sana-sini untuk dapat mencari makan bagi perutnya yang bernafsu besar! Kwan Cu memang tidak seperti anak-anak lain. Sikapnya, wataknya, dan cara dia mengemis pun menjadi bukti bahwa dia adalah seorang yang aneh.

Pengemis-pengemis kecil lainnya apabila mengemis tentu akan merengek-rengek, dan menceritakan kesusahan mereka untuk menarik belas kasihan dari para pendengarnya. Biasanya anak-anak seperti ini amat rendah diri, meski dimaki, dipukul, hanya menerima dengan tangis saja. Berbeda jauh dengan Kwan Cu. Dia tidak pernah merengek, tidak pernah mengeluh, agaknya anak ini memang tidak mengenal keluh kesah.

Pada suatu hari, dalam perantauannya yang tanpa tujuan itu, tibalah dia di Kota Lung-to di tepi Sungai Kuning. Memang Kwan Cu setelah meninggalkan laut, lalu mengikuti jalan sepanjang sungai besar dan tak pernah jauh meninggalkan Sungai Huang-ho.

Ia memasuki Kota Lung-to dalam keadaan letih dan lapar. Ia telah melakukan perjalanan sehari semalam lamanya. Daerah ini memang kurang penduduknya dan dari satu kota ke kota yang lain amat jauh jaraknya.

Semenjak kemarin, Kwan Cu belum makan apa-apa, dan selama sehari semalam itu dia terus menerus berjalan kaki. Tidak ada sesuatu yang bisa dimakannya dalam perjalanan melalui hutan-hutan itu, kecuali air yang memenuhi perutnya. Akan tetapi Kwan Cu tidak berani minum banyak-banyak karena hal ini mengingatkan dia akan air laut. Anak ini mempunyai perasaan takut terhadap air laut yang bergelombang besar.

Dengan langkah tersaruk-saruk Kwan Cu memasuki pintu gerbang Kota Lung-to. Kota ini besar dan ramai, banyak terdapat toko-toko dan restoran besar. Maka sebentar saja Kwan Cu dapat menerima sisa makanan dari sebuah restoran.

Biarpun perutnya sudah lapar sekali, namun Kwan Cu tidak nampak tergesa-gesa ketika dia membawa makanan itu ke bawah sebatang pohon besar di pinggir jalan. Kemudian dia makan sisa makanan yang dia dapatkan dari pelayan restoran. Cara makannya juga tidak tergesa-gesa, bahkan dengan teliti dia memilih makanan itu.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa semenjak dia memasuki kota, dia telah diawasi oleh seorang gemuk yang berwajah menakutkan sekali dan yang gerakan-gerakannya seperti seekor kucing ringannya.

“Daging baik, tulang murni…” beberapa kali orang tinggi besar itu berbisik dan nampak puas sekali.

Tingkah laku orang tinggi besar ini benar-benar amat mengherankan dan mencurigakan. Biarpun tubuhnya besar, namun dia bergerak cepat dan gesit sekali. Anehnya, tiap kali bertemu dengan orang, dia lalu menyelinap dan bersembunyi, dan karena dia memang memiliki gerakan yang ringan dan cepat sekali, tak ada orang yang melihat dia mengikuti Kwan Cu.

Orang ini tubuhnya besar dan nampak kuat, mukanya bundar dengan mulut lebar seperti mulut barongsai. Jenggotnya pendek dan kaku bagaikan jarum, sudah putih sebagian. Yang mencolok adalah pakaiannya, karena bajunya berwarna merah darah sedangkan celananya berwarna biru! Melihat sesuatu mengganjal di dalam punggung bajunya, dapat diduga bahwa orang ini membawa sebuah senjata tajam.

Pada masa itu, banyak timbul kekacauan, karena itu soal membawa-bawa senjata tajam bukanlah pemandangan baru. Bukan hanya ahli-ahli silat yang membawa-bawa senjata pedang atau golok, bahkan orang-orang yang tak mengerti ilmu silat pun sebagian besar membawa senjata pelindung diri.

Ketika Kwan Cu tengah makan, orang tinggi besar itu datang mendekati dengan muka menyeringai. Kwan Cu mengangkat mukanya memandang. Wajah orang itu sama sekali tidak membuat dia takut, bahkan anak kecil ini lalu mengerutkan kening.

Ia telah memilih tempat di bawah pohon di mana tidak ada orang dan sunyi. Dari situ terlihat orang-orang mondar-mandir di jalan raya, akan tetapi tak seorang pun menaruh perhatian pada anak kecil jembel yang sedang makan di bawah pohon. Mengapa orang ini datang dan memandangnya dengan muka menyeringai?

“Orang tua, apakah kau lapar?” tanya Kwan Cu menunda makannya.

Orang itu melengak, lalu tertawa. “Aku memang lapar sekali!” Nampak sikap orang itu benar-benar seperti kelaparan dan mengilar.

Kwan Cu melihat makanan yang masih ada sisanya dan terpegang di tangan kirinya dalam sebuah mangkok butut. Sebetulnya dia belum kenyang betul, akan tetapi perutnya sudah tidak perih lagi seperti tadi. Tiba-tiba dia angsurkan mangkoknya kepada kakek itu dan berkata,

“Nah, kau ambil dan makanlah ini!”

Kembali orang itu tertegun. Diam-diam dia merasa geli melihat sikap anak kecil ini.

“Kau tidak tahu siapa aku,” pikirnya, “maka kau berani menghina.”

Sebetulnya siapakah kakek yang berwajah menyeramkan ini? Kalau orang-orang yang berjalan di jalan raya itu tahu siapa dia, tentu akan terjadi geger. Telah beberapa hari ini timbul kegemparan di Kota Lung-to karena beberapa orang anak kecil lenyap terculik orang.

Telah payah orang-orang pergi menyelidik, akan tetapi percuma saja karena penculik itu dalam melakukan pekerjaannya tak meninggalkan jejak sama sekali. Orang-orang hanya menyangka bahwa penculik itu tentu menculik anak-anak dengan maksud untuk menjual anak-anak itu sebagai budak belian sebab orang yang dipilih selalu merupakan anak-anak yang manis dan sehat.

Bila saja orang-orang tahu bahwa penculik anak-anak itu ialah Tauw-cai-houw, seorang setengah gila yang banyak melakukan perbuatan ganas dan sangat menyeramkan, tentu orang-orang akan menjadi gempar!

(Bersambung)

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 004)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) MENJELANG tengah malam, keduanya sudah amat lelah. Beberapa kali mereka …

Tinggalkan Balasan