Senin , 18 Juni 2018
Home / IGS STORY / Pendekar Sakti (Eps. 007)

Pendekar Sakti (Eps. 007)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini)

KINI pertempuran yang terjadi jauh lebih hebat daripada malam tadi, karena malam tadi mereka bertempur hanya mengandalkan pendengarannya, sekarang mereka dapat mengerahkan seluruh kepandaian dan ketajaman mata mereka. Rasa lapar terlupa dan adanya hanya nafsu untuk menang!

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring dari anak itu.

“Aneh, aneh! Aku kesunyian mencari kawan. Dua orang ini di tempat yang begini sunyi saling bertemu dan mendapat kawan, mengapa bahkan saling pukul seperti kerbau gila? Ah, celaka, tentu mereka berdua ini miring otaknya!”

Mendengar omongan ini, biarpun sedang berkelahi, dua orang kakek itu saling pandang sambil membelalakkan mata. Akan tetapi mereka kembali melanjutkan perkelahian itu. Ketika anak kecil tadi melihat betapa dua orang kakek itu masih saja berkelahi, agaknya dia menjadi bosan. Diam-diam dia lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai tentu saja tahu akan hal ini. Akan tetapi mereka sedang mengerahkan seluruh kepandaian untuk merobohkan lawan yang amat tangguh, hingga mereka kurang memperhatikan anak yang pergi itu.

Setelah matahari naik tinggi, kelelahan dan rasa lapar membuat keduanya menjadi lemas dan dengan sendirinya perkelahian itu berhenti pula! Mereka duduk di atas pasir dengan napas terengah-engah sambil saling pandang.

“Kau tua bangka gundul sungguh hebat kepandaianmu!” Ang-bin Sin-kai berkata memuji.

“Dan kau pengemis kurus kering ternyata lebih hebat daripada dulu. Kalau saja pinceng berhasil mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng tentu kau takkan dapat bertahan begitu lama,” kata Keng-kin-jiu Kak Thong Taisu sambil menarik napas panjang.

“Im-yang Bu-tek Cin-keng tidak akan terjatuh ke tanganmu, gundul. Kitab itu pasti akan menjadi milikku. Kita lihat saja!”

“Hmm, belum tentu. Semua tergantung atas keputusan Thian. Siapa yang terpilih untuk menjadi ahli silat nomor satu dunia, barulah akan berhasil mendapatkan kitab rahasia itu.”

“Baik, baik. Mari kita berlomba mendapatkan kitab itu. Sekarang lebih baik kita menunda pertempuran kita sampai salah seorang berhasil mendapatkan kitab, baru bertempur lagi. Bagaimana pikiranmu?”

“Baik, Ang-bin Sin-kai. Memang perutku sudah lapar sekali. Eh, di mana Lu Kwan Cu?” Hwesio itu bertanya sambil memandang ke kanan-kiri.

“Biar saja, dia sudah pergi. Karena kita tidak dapat disebut mana yang kalah, mana yang menang, siapa yang akan menjadi gurunya? Biarlah, biar dia sendiri yang menentukan siapa yang hendak dijadikan guru. Antara guru dan murid harus ada jodoh, bukan?”

Hwesio itu mengangguk, kemudian keduanya memanggang ikan yang mereka tangkap dari laut, lalu makan bersama. Kalau dilihat memang aneh dan menggelikan sekali. Dua orang kakek tua bangka ini, karena sedikit urusan saja telah saling gempur mati-matian. Mereka sudah bertempur sampai berjam-jam sampai kehabisan tenaga dan sungguh pun mereka tak menderita luka-luka parah, akan tetapi setidaknya tentu ada kulit-kulit pecah dan biru-biru. Sekarang mereka duduk makan-makan berdua seperti dua orang kawan baik yang sedang berpelesir di pinggir laut!

Sehabis makan, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu berkata, “Ang-bin Sin-kai, pinceng hendak pergi sekarang. Dua orang sahabat sudah saling bertemu dan sudah mengalami banyak kesenangan. Setiap pertemuan tentu berakhir, maka kenapa menyusahkan perpisahan? Hanya satu hal pinceng hendak berpesan. Dalam hal diri Lu Kwan Cu, di antara kita siapa yang berhak mendapatkannya lebih dulu, berhak mengajari lebih dulu selama lima tahun. Sesudah itu harus mengoperkannya kepada orang lain, jangan mau dimonopoli sendiri saja.”

Pengemis itu mengangguk. “Kecuali kalau orang lain itu mampu merebutnya, bukan?”

“Tentu saja! Anak itu bertulang baik, dia pantas diperebutkan.” Setelah berkata demikian Kak Thong Taisu lalu melompat dan amat mengagumkan ginkang dari hwesio gendut ini. Walaupun tubuhnya bagaikan bola gendutnya, sehingga kalau berjalan nampak seperti menggelundung, akan tetapi dalam sekali berkelebat saja, tubuhnya sudah lenyap dari hadapan Ang-bin Sin-kai!

Kakek pengemis ini seperti kawan atau juga boleh disebut lawannya, kemudian berdiri di pinggir pantai dan memandang ke laut seperti orang melamun. Bibirnya bergerak-gerak perlahan dan terdengar dia berbisik.

“Im-yang Bu-tek Cin-keng, kitab rahasia yang dirindukan oleh semua tokoh kang-ouw, dan Lu Kwan Cu, anak kecil aneh itu pula… ah, aku seakan-akan melihat pertalian antara keduanya ini!” Sampai berjam-jam kakek ini terus berdiri di pinggir laut bagaikan patung, pikirannya terbawa ombak yang bergerak-gerak tiada hentinya.

Kakek pengemis yang aneh, hwesio gendut yang ganjil, anak kecil yang penuh rahasia, kemudian kitab yang disebut-sebut itu pun kitab yang aneh pula. Semuanya ini terjadi di pantai Laut Po-hai yang penuh rahasia alam.

Memang di dunia ini banyak sekali terjadi hal-hal yang aneh, aneh bagi pandangan mata manusia. Siapakah berani bilang bahwa alam tak berkuasa? Siapa pula dapat mengikuti sifat daripada To? Kekuasaan Thian nampak di mana-mana…

(Bersambung)

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 004)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) MENJELANG tengah malam, keduanya sudah amat lelah. Beberapa kali mereka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *