Rabu , 22 Agustus 2018
Home / IGS STORY / Pendekar Sakti (Eps. 006)

Pendekar Sakti (Eps. 006)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini)

DUA orang kakek itu diam-diam memandang kagum. Anak ini benar-benar memiliki tulang yang baik dan juga daya tahan luar biasa sehingga baru saja terhindar dari bahaya maut, sekarang telah bergerak dengan tangkas pula.

“Anak baik, siapa kau?” pengemis tua itu bertanya.

“Bagaimana dengan nasib penumpang-penumpang lain?” hwesio itu pun bertanya.

Untuk sejenak anak itu memandang bingung. Biarpun dia telah mengingat-ingat, namun dia benar-benar telah kehilangan ingatannya.

“Siapa aku? Di mana aku? Ah… aku tidak tahu. Siapakah lopek dan losuhu ini?”

Anak ini mempunyai suara yang nyaring dan sepasang matanya bersinar-sinar tajam sekali. Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu saling pandang, lantas mereka berdua tertawa besar.

“Aku dipanggil Ang-bin Sin-kai,” pengemis itu memperkenalkan diri.

“Dan pinceng adalah Kak Thong Taisu,” menyambung hwesio gemuk.

“Mengapa aku berada di sini?” anak itu bertanya.

“Kalau tidak ada Hai-liong-ong (Raja Naga Laut) ngamuk, mana bisa kau ditelan ombak? Dan kalau tidak ada kami dua orang tua bangkotan, mana bisa kau berada di sini?” kata kakek pengemis itu yang memang sudah biasa mempergunakan kata-kata yang sukar dimengerti.

Akan tetapi ternyata anak itu cerdik sekali. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang kakek itu sambil berkata, “Aku sungguh tidak mengerti mengapa aku tenggelam di laut, akan tetapi atas pertolongan Ji-wi losuhu, aku benar-benar merasa berterima kasih sekali. Semoga Kwan Im Pouwsat memberkahi Ji-wi yang mulia.” Dia lalu berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali.

Dua orang kakek itu saling pandang dengan mata terbuka lebar-lebar. Mereka merasa girang sekali melihat sikap anak ini.

“Eh, anak baik, agaknya orangtuamu pemuja Kwan Im Pouwsat. Bagus sekali!” kata Kak Thong Taisu. “Siapakah orangtuamu dan siapa pula namamu? Dari mana kau datang?”

Anak itu menggeleng-gelengkan kepala dengan muka sedih. “Aku tidak tahu siapa orangtuaku. Siapa pula namaku, aku sudah lupa lagi. Dari mana aku datang? Entahlah, yang terang dari laut, karena bukankah Ji-wi mengeluarkan aku dari laut?” dia menudingkan jarinya yang kecil itu ke arah laut.

Kembali dua orang kakek itu saling pandang.

“Hmm, dia sudah kehilangan ingatannya karena mengalami hal yang amat dahsyat di tengah laut. Kasihan!” kata Kak Thong Taisu.

“Anak, kalau begitu, aku hendak memberi nama kepadamu, maukah kau?”

Anak itu mengangguk. Ang-bin Sin-kai menjadi girang sekali.

“Kalau begitu, mulai sekarang kau she (bernama keturunan) Lu!”

Terdengar Kak Thong Taisu tertawa bergelak-gelak. Suara ketawanya ini nyaring sekali sehingga anak itu terkejut. Ia merasa telinganya sakit sekali mendengar suara ketawa ini, maka cepat-cepat dia menutup telinganya dengan kedua tangannya.

“Mengapa kau tertawa, setan gundul?” Ang-bin Sin-kai membentak marah.

“Hahaha, kau gembel tua bangka ini, biarpun di luarnya seperti gembel, ternyata masih belum sanggup melupakan asal keturunan bangsawanmu! Biarlah anak ini kau beri she. Bagiku, apakah artinya nama keturunan? Merepotkan saja! Anak baik, kau sekarang she Lu, seperti she pengemis tua bangka ini. Akan tetapi namamu adalah aku yang akan memilihkan. Kau sekarang memakai nama Kwan Cu.”

“Lu Kwan Cu…” anak itu berkata perlahan seperti kepada diri sendiri. Tadi saat melihat hwesio itu berhenti tertawa, dia sudah menurunkan tangan yang dipakai untuk menutupi telinganya.

“Ya, Lu Kwan Cu, nama baik, bukan?” si pengemis berkata girang. “Dan mulai sekarang kau menjadi muridku!”

“Eh, eh, eh, Ang-bin Sin-kai, kau melantur apa lagi? Siapa bilang dia menjadi muridmu? Dia adalah muridku, tahu?”

“Tidak, hwesio gundul terlalu banyak makan! Dia adalah muridku. Lu Kwan Cu adalah murid Ang-bin Sin-kai!”

“Gila! Dia muridku!”

“Aku yang datang menolongnya dari gelombang laut!”

“Dan aku yang mengalirkan kembali nyawa ke dalam tubuhnya!”

Kedua orang kakek ini kembali saling berhadapan dengan mata mencereng, siap untuk memperebutkan anak itu. Keduanya bersitegang dan akhirnya tanpa dapat dicegah lagi keduanya lalu bertanding pula! Mereka mengeluarkan ilmu pukulan yang paling dahsyat sehingga pasir berhamburan terkena angin pukulan mereka.

Bahkan ketika anak yang kini bernama Lu Kwan Cu itu terdorong oleh angin pukulan, anak itu lantas terguling-guling bagaikan sehelai daun tertiup angin keras. Tentu saja dia menjadi terkejut sekali dan anak ini lalu mencari tempat perlindungan di belakang sebuah batu karang besar. Ia mengintai dan menonton pertempuran itu dengan kedua matanya yang lebar dan tajam itu terbuka lebar-lebar.

(Bersambung)

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 004)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) MENJELANG tengah malam, keduanya sudah amat lelah. Beberapa kali mereka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *