Rabu , 22 Agustus 2018
Home / IGS STORY / Pendekar Sakti (Eps. 005)

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini)

“GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini tutup mulut lebih dulu dan menyumbat mulut mereka dengan makanan-makanan?” tanya Ang-bin Sin-kai.

“Akur! Memang menjemukan sekali kalau mereka terus berkeruyuk dan merengek seperti perempuan-perempuan cengeng,” jawab hwesio itu.

“Eh, hwesio murtad! Bagaimana kau si kepala gundul ini dapat bicara tentang urusan perempuan? Apakah di luarnya kau bersujud kepada Buddha dan menyucikan diri, akan tetapi hatimu selalu mengenang perempuan cantik?” tanya pengemis itu, sambil matanya mencorong memandang penuh kecurigaan.

Jeng-kin-jiu hanya tertawa. “Di tempat seperti ini, dari manakah kita bisa mendapatkan makanan?”

Si pengemis tua tersenyum, dan menunjuk ke arah laut. “Ada samudera luas di depan mata kita, takut apakah? Perutmu yang gendut itu kukira takkan dapat menghabiskan isi laut.”

Setelah berkata demikian, kakek pengemis itu terjun ke dalam laut, dan berenang ke tengah untuk menangkap ikan.

“He, kantong nasi gundul, apakah kali ini kau masih tetap hendak ciakjai (pantang makan daging), dan membiarkan perut gendutmu kosong dipenuhi angin busuk?” pengemis itu masih sempat berteriak.

Hwesio itu tertawa bergelak. “Siapa sudi mulutnya pantang makan daging dan selalu dijejali sayuran akan tetapi hati dan pikirannya mengenangkan ekor ikan lee yang lezat?” sesudah berkata demikian, hwesio ini pun terjun ke air dan berlomba dengan pengemis itu untuk mencari ikan yang sebesar-besarnya.

Setelah hwesio gundul itu menggunakan kepandaiannya untuk bergerak di atas daratan dasar laut, akhirnya dia dapat menangkap seekor ikan yang gemuk seperti dia. Ikan itu meronta-ronta. Biarpun kalau di darat Jeng-jin-kiu adalah seorang ahli gwakang yang tenaganya tak kalah oleh seekor gajah, namun di dalam air ia tidak dapat melawan ikan ini. Hampir saja ikan itu terlepas lagi apabila dia tidak dapat cepat menusuk kepala ikan itu dengan kedua jari tangannya sehingga pecahlah kepala ikan itu!

Setelah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mumbul ke permukaan air, dia bisa melihat Ang-bin Sin-kai juga sedang berenang dari tengah. Juga pengemis itu memondong sesuatu yang dari jauh kelihatannya seperti ikan. Akan tetapi, sesudah mereka keduanya mendarat di pantai, hwesio itu dengan mata terbelalak memandang ke arah “ikan” yang dipondong oleh pengemis itu.

“Omitohud!” hwesio itu menyebut nama Buddha. “Benar-benarkah kau sudah berhasil menangkap seekor ikan duyung?”

“Tutup mulutmu, Gundul! Lebih baik lekas kau tolong anak ini. Jika aku tidak tahu bahwa kau mengerti ilmu pengobatan, buat apa aku membawanya ke pantai?” Pengemis itu lalu meletakkan tubuh anak kecil yang dipondongnya tadi di atas pasir.

Anak itu pingsan dan mukanya biru. Perutnya gembung, penuh dengan air asin. Kepala anak itu gundul. Dan, melihat pakaiannya, dia tentunya anak dari keluarga cukup. Hanya pakaian ini sekarang compang-camping, dan sepatunya tinggal sebelah kiri saja! Usianya kurang lebih lima tahun.

“Omitohud! Akhirnya bisa juga kita menolong seorang di antara para penumpang perahu yang tenggelam itu,” kata hwesio gemuk, sambil berjongkok memeriksa anak tadi.

Ia suka sekali melihat anak ini, karena anak ini memiliki wajah yang tampan, dan ketika dia memeriksa tubuh anak itu, dengan girang sekali dia mendapat kenyataan bahwa anak itu mempunyai tulang-tulang yang baik sekali, tulang seorang calon ahli silat yang pandai! Yang terutama sekali membuat hwesio ini merasa senang, adalah kepala anak ini yang gundul pelontos dan licin seperti kepalanya sendiri!

“Anak baik… anak baik…” berkali-kali hwesio itu berkata sambil mengelus-elus kepala yang gundul licin itu.

Si pengemis menjadi dongkol sekali melihat ini.

“Kau hendak mengobatinya atau hendak mengelus-elus kepalanya?” tanyanya marah.

Mendadak hwesio itu berdoa dan dia mengucapkan sebuah syair dari pelajaran Buddha Gautama:

 

Tidak ada perbedaan antara

Nirwana dan Sengsara

Tidak ada perbedaan antara

Sengsara dan Nirwana

 

“Banyak mulut tidak bekerja merupakan watak seorang siauw-jin (orang rendah). Banyak kerja tutup mulut barulah seorang kuncu (orang budiman)!” Pengemis itu berteriak marah.

Akhirnya Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mulai mengobati anak itu. Ia memegang dua kaki anak itu dalam tangan kiri, menjungkirbalikkan anak itu dengan kaki di atas dan kepala di bawah, lalu tangan kanannya menepuk-nepuk perut anak itu yang gembung penuh air.

“Buang air itu, untuk apa memenuhi perut?” katanya.

Seketika itu juga air laut mengalir keluar dari mulut anak itu, sehingga perutnya menjadi kempis kembali. Lalu, ia meletakkan anak itu di atas tanah, terlentang, dan menggerak-gerakkan kedua tangan anak itu, sehingga dada itu terangkat beberapa kali. Akan tetapi, tetap saja anak itu tidak dapat bernapas lagi. Si hwesio menjadi gemas.

“Anak bandel, bandel dan tolol!” makinya.

Akan tetapi, biarpun dia memaki demikian, namun dia lalu mendekatkan mulutnya pada bibir anak itu, lalu menempelkan mulutnya yang besar memenuhi bibir kecil anak tadi dan meniup serta menyedot beberapa kali!

Si pengemis tua hanya memandang. Diam-diam dia merasa sangat iri hati terhadap kepandaian hwesio gemuk ini, oleh karena dia sendiri sama sekali tidak mengerti tentang cara-cara penyembuhan.

Tak lama kemudian, terdengar anak itu mengeluh dan pernapasannya berjalan kembali. Hanya sebentar dia mengeluh sambil menggeliat-geliat, lalu setelah membuka matanya, anak itu melompat berdiri.

(Bersambung)

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 004)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) MENJELANG tengah malam, keduanya sudah amat lelah. Beberapa kali mereka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *