Kamis , 26 April 2018
Home / IGS STORY / Pendekar Sakti (Eps. 004)

Pendekar Sakti (Eps. 004)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini)

MENJELANG tengah malam, keduanya sudah amat lelah. Beberapa kali mereka telah dapat saling pukul, akan tetapi pukulan-pukulan itu tidak terlalu keras bagi tubuh mereka yang sudah kebal, sehingga keduanya masih mampu terus bertahan. Akhirnya, usia lanjut yang menang. Tubuh mereka menjadi makin lemas dan lelah.

Pada saat mereka sedang mengadu tenaga dan kedua tangan saling tempel dan saling mendorong lawan supaya jatuh ke dalam laut dari batu karang yang tinggi, tiba-tiba batu karang itu terpukul ombak yang mahakuat, sehingga miring! Keduanya cepat melompat turun, karena khawatir terbawa jatuh dan tergencet batu karang. Sesudah tiba di bawah, kembali mereka berhadapan!

Tiba-tiba saja, di dalam gelap itu, nampak cahaya hijau menjulang tinggi dari tengah laut. Kembali nampak cahaya kehijauan melayang ke atas, dan sesudah sampai di atas lalu padam.

“Ah, itulah tanda kapal dalam bahaya!” seru Ang-bin Sin-kai.

“Benar! Kau perhatikan, bukankah di tengah laut itu nampak lampu merah, sebentar ada sebentar hilang?” ujar Jeng-jin-kiu.

Keduanya memperhatikan, dan benar saja. Sebentar-sebentar, bila ombak yang setinggi gunung sudah turun, nampak lampu merah berkelip-kelip jauh sekali, dan berkali-kali api hijau itu melayang ke atas.

“Nasib mereka sudah pasti!” kata Ang-bin Sin-kai perlahan.

“Ikan-ikan hiu akan berpesta pora setelah badai mereda. Dalam badai seperti ini, bagaimana mereka dapat meloloskan diri?” kata hwesio itu.

“Kita pun tidak berdaya menolong mereka,” kata kakek pengemis.

“Benar, sungguh sayang. Melihat sesama manusia dipermainkan oleh maut namun tidak dapat turun tangan menolong, alangkah menyedihkan!” si hwesio berkata, dan suaranya benar-benar terdengar sedih.

Mendengar suara ini, si kakek pengemis juga menjadi sedih. Keduanya kini duduk di atas batu karang yang tinggi, dan sambil duduk berdampingan. Dua orang yang tadi bertempur mati-matian itu memandang ke tengah laut. Kadang-kadang mereka berseru girang kalau melihat api merah itu, akan tetapi berdebar gelisah apabila api itu tidak kelihatan lagi.

“Mereka masih ada!” seru hwesio itu kegirangan bilamana melihat sinar hijau melayang ke atas.

“Moga-moga mereka selamat!” si pengemis berdoa.

Sampai setengah malam badai mengamuk, dan dua orang kakek aneh itu masih saja duduk di situ, melepas lelah akan tetapi dengan hati tidak karuan rasanya melihat betapa ada sebuah perahu besar diombang-ambingkan oleh gelombang dan menjadi permainan badai.

Menjelang fajar, badai mereda dan ombak menghilang. Aneh sekali kalau dilihat, akan tetapi air laut yang tadinya mengganas bagaikan semua penghuni laut melakukan perang besar itu, kini menjadi tenang dan diam, bening bagaikan kaca hijau yang besar sekali.

Bahkan matahari yang timbul dari permukaan laut dan yang bayangannya tercermin di dalam air, nampak diam tak bergerak sedikit pun juga, tanda bahwa air itu benar-benar diam tak bergerak! Seakan-akan raksasa besar itu kini tertidur melepaskan lelah setelah setengah malam lamanya memperlihatkan kehebatan tenaga mereka yang dahsyat.

Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan Ang-bin Sin-kai masih duduk bersanding sambil mata mereka tidak pernah berkejap memandang ke tengah laut. Keduanya nampak lesu dan muram seperti orang menyedihkan sesuatu. Hal ini tidak aneh, karena semenjak badai mereda lampu merah itu tidak kelihatan lagi.

“Kita seperti pengkhianat-pengkhianat yang melihat bangsanya terbunuh tanpa sanggup menolong,” kata kakek pengemis itu berkata lambat.

“Apa daya kita menghadapi kekuasaan alam?” Jeng-kin-jiu menghiburnya. “Giam-lo sudah merenggut nyawa orang-orang itu. Siapa yang dapat menghalangi pekerjaannya? Daripada kita menyedihkan sesuatu yang sudah lalu, kenapa kita tidak melanjutkan pibu kita?”

Pengemis itu tersadar. Lalu menoleh kepada hwesio itu sambil tersenyum. “Kau benar. Di antara kita belum ada yang kalah atau menang. Mari!”

Ia lalu meloncat turun dari batu karang, diikuti pula oleh hwesio gemuk itu dengan wajah gembira. Dan sebentar kemudian kedua musuh gerotan ini sudah berhadapan lagi sambil memasang kuda-kuda!

Tiba-tiba saja, dua orang itu mendengar sesuatu, dan mereka saling pandang. Kemudian keduanya tertawa bergelak-gelak. Bunyi yang mereka dengar tadi adalah suara isi perut masing-masing, yang tak dapat ditahan lagi telah berkeruyuk saking laparnya. Isi perut pengemis itu mengeluarkan suara yang nyaring dan tinggi, sedangkan isi perut hwesio itu berkeruyuk dengan suara rendah. Perkelahian malam tadi benar-benar sudah membuat mereka menjadi lapar sekali.

(Bersambung)

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *