Jumat , 19 Oktober 2018
Home / IGS STORY / Pendekar Sakti (Eps. 003)

Pendekar Sakti (Eps. 003)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini)

JENG-kin-jiu Kak Thong Taisu adalah seorang tokoh dengan nama terbesar di wilayah selatan. Di kalangan ahli-ahli silat dan perantau yang gagah perkasa, Si Tangan Seribu Kati ini dianggap sebagai jago tua yang paling lihai dan disegani. Orang-orang takut dan segan kepadanya. Karena, selain ilmu silatnya lihai sekali, juga tabiatnya aneh dan sukar dilayani.

Oleh sebab itu, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu ini hidupnya seolah terasing. Ia tinggal di sebuah pulau kosong yang kecil di sebelah selatan Propinsi Kang-tung, dan tidak ada seorang pun manusia yang berani mendatangi pulau ini. Orang-orang hanya bisa melihat hwesio gemuk ini bila ia menyeberang dan mengadakan perantauan di daratan Tiongkok.

Ilmunya amat tinggi, dan dia terkenal sebagai seorang ahli gwakang (tenaga luar) yang sudah memiliki kepandaian sempurna sekali, sehingga tenaganya sukar untuk diukur seberapa besarnya. Oleh karena tenaga gwakang-nya inilah maka dia disebut Jeng-kin-jiu.

Sebaliknya, kakek pengemis yang tinggi kurus itu pun bukanlah orang sembarangan. Namanya tidak ada orang mengetahui. Bahkan, Kak Thong Taisu sendiri tidak tahu siapa nama asli dari pengemis tua bangka ini. Dan, hanya tokoh-tokoh besar seperti Kak Thong Taisu inilah yang tahu bahwa kakek pengemis ini berdarah bangsawan!

Dia jarang memperlihatkan kepandaiannya. Bila berada di tempat ramai, orang hanya menganggapnya sebagai seorang pengemis biasa. Tentu saja tidak ada orang yang mengetahui bahwa walaupun dia disebut pengemis dan keadaannya seperti pengemis, akan tetapi selama hidupnya belum pernah mengemis!

Nama julukan Ang-bin Sin-kai atau Pengemis Sakti Muka Merah didapatnya karena kulit mukanya memang selalu kemerah-merahan, seperti kulit seorang bayi yang sangat sehat. Berbeda dengan Jeng-kin-jiu yang tadi sudah mendemonstrasikan tenaga gwakang-nya yang hebat ketika mendorong roboh batu karang, Ang-bin Sin-kai ini adalah seorang ahli Iweekang yang juga telah mendemonstrasikan tenaganya saat dia menyambut serangan gelombang ombak tadi.

Dengan demikian, pertempuran yang terjadi di dekat laut ini adalah pertempuran antara seorang ahli gwakang dengan seorang ahli Iweekang! Bagi orang-orang yang tingkat ilmu silatnya masih rendah, memang dengan mudah akan mengatakan bahwa pertempuran antara ahli gwakang dengan ahli Iweekang tentu akan dimenangkan oleh ahli Iweekang itu. Namun, hal ini tidak demikian kalau si ahli gwakang sudah memiliki kepandaian yang sempurna. Pada hakikatnya, sumber atau dasar kepandaian mereka adalah sama, tapi Jeng-kin-jiu lebih mengandalkan tenaga kasar, adapun Ang-bin Sin-kai mengandalkan tenaga lemas.

Bukan main hebatnya pertempuran itu. Keduanya berlompat-lompatan, saling serang dan saling mengelak. Kadang-kadang saling tangkis, sehingga keduanya terhuyung-huyung. Beberapa kali mereka melompat dengan menggunakan ginkang yang sudah sempurna, sehingga seakan-akan mereka merupakan dua ekor burung raksasa yang saling terkam.

Bahkan, pernah Ang-bin Sin-kai terlempar masuk ke laut dan terpaksa berenang minggir lagi. Pada lain saat, si teromok gundul itu terlempar menabrak batu karang. Akan tetapi kiranya bukan kepalanya yang pecah, melainkan batu karang itu yang hancur pinggirnya!

Ketika mereka bertempur tadi, matahari masih berada di atas kepala mereka. Akan tetapi, kini, matahari telah lenyap di balik gunung, sehingga cuaca telah menjadi remang-remang. Namun, pertempuran masih dilanjutkan dengan ramainya, dan ternyata keadaan mereka benar-benar berimbang.

Dari pertempuran yang semula mengandalkan kecepatan gerak kaki tangan, keduanya sampai bertempur dengan lambat sekali, seperti sedang berlatih silat, namun sebenarnya serangan-serangan yang lambat ini mengandung tenaga yang sanggup mengirim nyawa salah seorang ke hadapan Giam-lo-ong (Malaikat Maut) kalau sampai terkena pukulan!

Berhubung dengan datangnya sang malam, angin mulai menyerang lagi. Suara gemuruh dibarengi getaran-getaran pada tanah pesisir itu menandakan bahwa gelombang ombak membesar menghantami batu-batu karang di pantai.

Kedua orang kakek yang aneh itu masih saja melanjutkan pertandingan mereka. Makin lama, mereka merasa makin gembira. Karena, setelah berpisah bertahun-tahun, sekarang ternyata kepandaian masing-masing menjadi makin maju dan hebat. Oleh karena air laut telah pasang, mereka kini terpaksa pindah dan melanjutkan pertempuran di tempat yang agak tinggi.

Angin mengamuk, langit tertutup mendung tebal sekali sehingga keadaan menjadi gelap gulita. Hanya orang berkepandaian tinggi sekali mampu melanjutkan pertempuran dalam keadaan seperti itu. Mereka sudah tak dapat melihat lawan masing-masing, karena tidak mungkin lagi dapat melihat semua yang di depan. Tangan sendiri pun tidak tampak, apalagi orang lain. Akan tetapi, dengan alat pendengaran mereka yang terlatih baik, mereka dapat mendengarkan sambaran angin pukulan lawan!

(Bersambung)

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan