Kamis , 13 Desember 2018
Home / IGS STORY / Pendekar Sakti (Eps. 002)

Pendekar Sakti (Eps. 002)

(Episode Sebelumnya Klik di Sini)

PADA waktu itu, angin bertiup keras, dan ombak yang datang benar-benar dahsyat serta mengerikan. Makin dekat dengan pantai, ombak ini menjadi makin bergelombang. Sikap ombak ini benar-benar merupakan ancaman maut. Akan tetapi, di antara suara ombak yang menderu, terdengar suara kakek itu tertawa bergelak-gelak.

Ombak datang dengan luar biasa hebatnya, membawa tenaga yang ribuan kati beratnya, menghantam batu karang dan juga kakek yang berdiri itu, menimbulkan suara hiruk pikuk menggelegar yang terdengar sampai belasan li jauhnya.

Akan tetapi, di antara suara menggelegar ini, masih terdengar suara ketawa dari kakek aneh tadi. Ketika ombak datang, dia mementang kedua lengannya, lalu mendorong ke depan. Tubuhnya tidak tegak lagi, melainkan agak membungkuk ke depan.

Ombak memecah pada batu karang, dan lenyap menjadi air yang mengalir kembali ke tengah laut. Batu karang tadi bergoyang-goyang terpukul ombak. Dan, setelah ombak lenyap, batu itu masih berdiri tegak, melambangkan kekuatan yang luar biasa. Si kakek tadi? Masih nampak berdiri. Agak terengah-engah, memang. Akan tetapi masih tertawa-tawa senang!

“Hahaha, Kakek Batu Karang, bukankah sang ombak tadi menggunakan ilmu pukulan Tin-san-ciang (Pukulan Menggetarkan Gunung)? Hahaha, bagi kau dan aku, pukulan itu sama saja dengan pukulan seorang bocah!” Sesudah berkata-kata kepada batu, dia berseru, “Kakek Ombak, ayo datanglah! Gunakan segala tenagamu! Hendak kulihat, apakah kau mampu menggulingkan Kakek Batu Karang!”

Ombak datang memukul, dan pergi lagi. Namun, batu karang dan kakek itu tetap berdiri teguh. Benar-benar seperti kata-katanya tadi. Kakek ini sedang bercanda dengan ombak dan batu karang. Sedang bercanda dengan alam!

Setelah menahan pukulan ombak sampai lima kali, angin mulai mereda. Ombak yang datang pun tinggal yang kecil-kecil saja. Kakek itu menjadi bosan. Ketika dia hendak mendarat, mendadak dari atas batu karang itu melompat turun sesosok bayangan orang dengan gesitnya. Tahu-tahu, di hadapannya sudah berdiri sambil tertawa seorang hwesio gundul yang tubuhnya seperti bola karet, bulat segala-galanya. Kemudian dia membungkuk, lalu mendorong batu karang itu.

Benar-benar hebat. Batu karang itu, yang tadi berkali-kali tertimpa gelombang – bahkan entah sudah berapa ribu kali terdorong ombak – tanpa bergeming dan hanya bergoyang-goyang sedikit, kini terkena dorongan hwesio bulat ini menjadi miring dan akhirnya roboh!

Hwesio itu terengah-engah sedikit, lalu menghadapi kakek tadi sambil tertawa-tawa.

“Hehehe, Ang-bin Sin-kai (Pengemis Sakti Muka Merah), biarpun Kakek Ombak amat kuat, namun dia tidak mempunyai akal budi seperti kita. Mana bisa dia mendorong roboh batu karang ini?”

Kakek pengemis itu pun tertawa sambil memandang ke langit. “Di tempat ini berjumpa dengan Jeng-kin-jiu (Tangan Seribu Kati), sungguh amat menggembirakan. Ada sahabat datang dari tempat jauh, bukankah itu amat menggirangkan hati?” Kalimat terakhir ini pun adalah ujaran-ujaran kuno yang diucapkan Nabi Khong Cu. “Eh, Kak Thong Taisu, jauh-jauh kau datang dari selatan ke sini, apakah hanya untuk merobohkan batu karang ini?”

“Pengemis bangkotan! Merobohkan batu karang, benda mati ini, apanya sih yang aneh? Apabila Kakek Ombak yang mampu mendorong roboh Kakek Batu Karang, itu baru boleh dibuat kagum. Sebaliknya, kalau pinceng mampu mendorong roboh pengemis bangkotan, batu karang hidup, itu juga baru namanya cukup berharga!”

Kakek yang dipanggil Ang-bin Sin-kai atau Pengemis Sakti Muka Merah itu tertawa lebar. “Kepala gundul, jadi kau ingin mencoba kepandaianku! Itukah maksud kunjunganmu?”

“Ayam jago dari selatan bertemu ayam jago dari timur, mengapa banyak berkeruyuk lagi? Masih tanya-tanya maksud kedatangan?” setelah berkata demikian, hwesio gundul bertubuh bundar itu menubruk maju dengan kedua tangan dipentang, seperti hendak menubruk dan menangkap seekor katak.

Ang-bin Sin-kai maklum, meski serangan ini kelihatannya seperti main-main, akan tetapi luar biasa hebatnya. Ketika dia mengelak sambil melompat ke kiri, pasir di belakangnya yang terkena angin terkaman ini sontak berhamburan ke atas, dan batu karang di belakangnya bergoyang-goyang!

“Lihai sekali kau punya ilmu pukulan Yu-coan Swe-jiu (Pukulan Menembus Air)!” berkata Ang-bin Sin-kai, sambil membalas serangan lawannya dengan tak kalah hebat.

(Bersambung)

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: