Jumat , 25 Mei 2018
Home / MEGAPOLITAN / Nge-“Lem” di Pasar Bogor, 2 Bocah Diamankan Satpol PP
Riski (kanan) dan Riska (kiri), dua bocah pengamen yang diamankan Satpol PP Kota Bogor. (Foto: Arya Rusmana – IGS Berita).*

Nge-“Lem” di Pasar Bogor, 2 Bocah Diamankan Satpol PP

BOGOR (IGS BERITA) – Dua bocah pengamen, Riska (12) dan Riski (13), yang tengah asyik nge-“lem” (menghisap lem) di Pasar Bogor, Jalan Suryakencana, Kota Bogor, diamankan para petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Kamis (19/1).

Keduanya merupakan kakak beradik. Mereka diringkus saat kedapatan sedang nge-“lem” di sebuah tangga yang jarang dilewati pengunjung pasar. Mabuk lem memang sangat populer di kalangan anak jalanan.

“Kebetulan saya bagian tugas di Pasar Bogor. Di sana, ada dua orang ibu yang melaporkan bahwa di tangga pasar yang jarang dilintasi pengunjung itu ada yang nge-lem,” ujar Komandan Kompi Lapangan Bidang Dalops, Ujang Piatna, kepada IGS Berita.

Lalu, sambung Ujang, ia langsung cek ke sana. Ternyata betul, mereka sedang menghisap lem.

“Mereka ada lima orang. Dua di antaranya perempuan. Yang tiga lagi, enggak kepegang. Mereka kabur secepatnya,” katanya.

Selanjutnya, bocah yang terjaring razia akan diserahkan ke bagian Bidang Keamanan dan Ketertiban Satpol PP Kota Bogor.

“Nanti, di sana, mereka akan mendapatkan pembinaan. Setelah diarahkan dan dibina, selanjutnya akan diserahkan ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor,” ujarnya.

Ia berharap, petugas dan masyarakat bisa saling membantu dan mengarahkan mereka yang menyalahi aturan ke hal-hal yang positif untuk mengantisipasi adanya tindakan serupa terulang kembali.

“Kita hindari hal seperti ini, walapun istilahnya alur kehidupan mereka berbeda dengan kita. Dan banyak tindakan seperti ini yang harus kita pantau dan tindaklanjuti,” pungkasnya.

Sementara itu, Riski mengaku baru kali ini menghisap lem. Kepada IGS Berita, ia mengatakan, kegiatannya sehari-hari mengamen di sekitaran Tugu Kujang, Kota Bogor.

“Masih banyak dari teman-teman saya yang suka menghisap lem. Kadang uang hasil ngamen suka diminta oleh yang lebih senior, gak tahu buat beli lem atau bukan. Alasannya sih buat beli nasi,” kisahnya.

Ia menuturkan, alasannya hidup di jalanan karena merasa tidak betah di rumah sepeninggal ayahnya dulu. Di samping itu, ia ingin membantu meringankan beban orangtuanya.

Kini, Riski tinggal di Kampung Belekok, Ciheuleut, bersama keempat adiknya, termasuk Riska. Sementara sang ibu berkerja sebagai pemulung, dan ayah tirinya berprofesi jadi supir angkot.

“Kadang kalau pulang suka gak berani. Takut. Bapak tiri saya galak. Suka mukul,” terangnya.

Ia menuturkan, sebelumnya pernah sekolah, namun hanya sampai kelas tiga Sekolah Dasar. Setelah itu, ia belum pernah merasakan lagi mengenyam pendidikan, karena tidak ada biaya.

Sementara sang adik, Riska, belum bisa dimintai keterangan, karena masih dalam pengaruh lem. (ssi/fji/ars).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Kasus Mal Transmart Tajur: Kasatpol PP Kota Bogor Tidak Mau Kecolongan

KOTA BOGOR (IGS BERITA) — Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor, Herry …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *