Jumat , 20 Juli 2018
Home / IGS OPINION / “Mr. Bean” Versi Pantai Ujung Genteng

“Mr. Bean” Versi Pantai Ujung Genteng

Catatan Ringan YUKIE H. RUSHDIE

 

TIBA-TIBA saja, saya teringat pada tokoh kocak bernama Mr. Bean.

Perilaku keminter, guminter, atau pinter kodek ala Mr. Bean itu, yang bisa juga diidentikkan dengan kata licik, curang, atau mau menang sendiri, seolah kian lengket di tubuh para anggota TNI AU Lanud Atang Senjaya yang bertugas di Pantai Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.

Berbagai aturan dibuat, tapi semuanya cuma berlaku bagi warga masyarakat, bukan bagi manusia-manusia berseragam itu.

Suatu ketika, ada warga masyarakat yang memunguti ranting-ranting kering di kawasan Hutan Lindung Kokoncong.

Ia melakukan itu bukan untuk kepentingan komersial, tapi semata-mata demi mengganjal kebutuhan primernya akan kayu bakar.

Tiba-tiba, aktivitasnya itu tertangkap mata anggota TNI AU Lanud Atang Senjaya. Tak ayal, sang warga masyarakat itu pun harus menerima sanksi fisik berupa push-up dan caci maki.

Alasannya, Kokoncong adalah kawasan hutan lindung. Jadi, tidak boleh ada sebatang ranting pun yang dibawa keluar dari daerah itu.

Dan, sebuah ketidaknormalan pun terjadi, beberapa waktu lalu. Para anggota TNI AU Lanud Atang Senjaya asyik menebangi pohon kayu di Hutan Kokoncong.

Aksi mereka itu pun tertangkap banyak mata. Namun, tak ada push-up atau caci maki di sana. Yang ada hanyalah pergerakan truk-truk pengangkut kayu menuju tempat pembelinya.

Alasannya? Mereka mengaku sekadar mem-“berdaya”-kan pohon yang tumbang.

Lantas, kenapa yang kemudian diangkuti itu mencapai sekitar empat pohon? Bukankah yang tumbangnya cuma satu?

Dan, ternyata, aksi pem-“berdaya”-an pohon kayu dari Hutan Kokoncong itu sudah berjalan lama, sejak komandan-komandannya terdahulu.

Ah, betul-betul Mr. Bean…

***

BEAN adalah ketidaknormalan. Dan, ketidaknormalan ala Mr. Bean itu jualah yang sontak menghiasi alat pikir saya begitu menyaksikan aktivitas para anggota TNI AU Lanud Atang Senjaya di Pantai Ujung Genteng.

Perintah utama bagi para anggota TNI AU Lanud Atang Senjaya yang bertugas di Pantai Ujung Genteng itu, menurut informasi resmi dari Lanud Atang Senjaya, adalah menjaga “patok-patok batas tanah” agar tidak bergeser sedikit pun.

Alhasil, pasukan bersenjata itu pun memang berangkat ke sana dengan kegiatan rutin: “patroli patok”!

Sebelah mana tidak normalnya?

Begini. Kalau memang bukan hasil “pampasan”, patok-patok batas itu sebenarnya tak perlu dijagai – apalagi dengan kekuatan bersenjata.

Namun, apa boleh buat, karena hingga detik ini TNI AU Lanud Atang Senjaya memang belum mampu memperlihatkan bukti kepemilikannya yang sah atas tanah-tanah tersebut, maka mereka pun senantiasa merasa “tidak tenang” dan “terancam” bakal kehilangan lahan tersebut.

Anehnya, kalau patok-patok dari lahan “pampasan” saja mereka jagai dengan kekuatan bersenjata, kenapa patok-patok dari tanah rakyat yang sudah jelas-jelas bersertifikat hak milik justru secara seenaknya mereka usik?

Peran antagonis dan protagonis itu seolah sudah dibikin jungkir balik tak keruan oleh mereka sendiri, yang justru selalu mengaku sebagai penjaga keamanan dan stabilitas negara.

“Tamu jadi tuan rumah, sementara tuan rumah sendiri justru dianggap tamu,” kata salah seorang warga senior Ujung Genteng, yang sudah menetap di sana jauh sebelum kaum TNI AU menemukan jalan untuk mencapainya.

Mendadak, saya terkenang lagi pada film layar lebar berjudul Mr. Bean’s Holiday. Ia mengunjungi berbagai negara sebagai turis, sebagai orang asing.

Tapi, dengan segala ketidaknormalannya, ia cuek saja dan bertingkah seolah sebagai pemilik dari negara-negara yang dikunjunginya tersebut.

Semua warga aslinya dibikin pusing. Hampir di tiap tempat ia bikin masalah. Dan, ujung-ujungnya, ia melengos saja pergi. Tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Dasar Mr. Bean…

***

BUKAN Mr. Bean namanya kalau tidak usil, licik, dan mau benar sendiri alias sok tahu. Namun, sepertinya, figur Mr. Bean itu justru menjadi inspirasi tersendiri bagi para anggota TNI AU Lanud Atang Senjaya di Ujung Genteng.

Keusilan, kelicikan, dan ke-“sok-tahu”-annya merambah ke berbagai area. Mulai dari pemalakan terhadap warga masyarakat Ujung Genteng yang berniat merenovasi rumahnya, hingga penekanan terhadap Panitia Pesta Nelayan dalam urusan pengadaan acara hiburan “komidi putar” (carrusel atau korsel).

“Kami terpaksa membatalkan rencana mengisi acara di Pesta Nelayan. Pasalnya, bukan saja masalah keamanan yang kurang terjamin, tapi kenyamanan dalam bekerja pun hampir tidak ada. Segalanya dijadikan sebagai alat untuk memunguti retribusi. Kami seolah dijadikan sebagai mesin uang musiman,” kata salah seorang pimpinan rombongan komidi putar itu.

Kegagalan acara komidi putar itu, tentu saja, meletupkan kekecewaan di hati warga masyarakat Ujung Genteng. Apalagi setelah mereka tahu bahwa kegagalan itu gara-gara adanya “permintaan khusus” dari pihak TNI AU Lanud Atang Senjaya.

Akhirnya, bertemu juga saya dengan perbedaan antara Mr. Bean dengan TNI AU Lanud Atang Senjaya di Ujung Genteng.

Memang, mereka sama-sama usil dan pinter kodek. Bedanya, Mr. Bean tidak menyakiti hati rakyat, justru menghibur… (Yukie H. Rushdie, Pemimpin Redaksi IGS Berita).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Riwayat Para “Predator” Layanan Kesehatan Masyarakat di Jakarta

Oleh YUKIE H. RUSHDIE   PROYEK raksasa bernilai ratusan miliar, yang dikucurkan Pemerintah Provinsi DKI …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *