Kamis , 26 April 2018
Home / IGS ANIMALS / Miris, Banteng Jawa di Jatim Tinggal 22 Ekor
Banteng Jawa atau "Bos Javanicus" (Foto: Istimewa - IGS Berita).*

Miris, Banteng Jawa di Jatim Tinggal 22 Ekor

MALANG (IGS BERITA) – Miris, di Jawa Timur (Jatim), populasi banteng Jawa, atau Bos Javanicus, tercatat tinggal 22 ekor saja pada tahun 2016. Angka ini terus merosot, dari 50 ekor pada 2013, kemudian 47 (2014), dan 39 (2015). Akankah tahun 2017 menjadi era kepunahan hewan gagah ini di Jatim?

Selain banteng Jawa, situasi rawan punah pun mulai mengancam elang Jawa (Nisaetus Bartelsi), kakatua jambul kuning (Cacatua Sulphurea Abbotti), dan rusa Bawean (Axis Kuhlii).

Kondisi memprihatinkan itulah yang mendorong Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jatim pada tahun 2017 ini memprioritaskan penambahan populasi empat jenis satwa liar yang hidup di dalam kawasan konservasi tersebut.

Menurut Ayu Dewi Utari, Kepala Balai Besar KSDA Jatim, berdasarkan hasil pengamatan langsung di alam sepanjang tahun 2013-2016, dari keempat spesies prioritas tersebut, diketahui populasi banteng Jawa dan rusa Bawean yang mengalami penurunan paling mengkhawatirkan.

“Sementara elang Jawa dan kakatua jambul kuning mulai mengalami peningkatan, meski sedikit. Tapi itu sudah cukup menggembirakan,” kata Ayu, Senin (16/1).

Ia menyebutkan, pemantauan terhadap banteng Jawa dilakukan di Hutan Lindung Londo Lampesan (Kabupaten Jember), Hutan Lindung Lebakharjo (Kabupaten Malang), dan Perkebunan Trebasala di Kabupaten Banyuwangi.

Penurunan populasi banteng Jawa, lanjut Ayu, karena habitatnya terdesak oleh kehadiran perkebunan. Secara alamiah, populasi banteng Jawa pun berkurang karena dimangsa kawanan ajag (Cuon Alpinus), sebangsa anjing hutan yang fisiknya lebih menyerupai serigala (Canis Lupus).

Soal rusa Bawean, penurunannya memang tidak sedrastis banteng Jawa. Dalam pandangan Ayu, ini karena kegiatan reproduksi rusa Bawean lebih cepat dibanding banteng Jawa.

Pemantauan rusa Bawean dipusatkan di Cagar Alam atau Suaka Margasatwa Bawean, yaitu di Blok Gunung Besar, Blok Gunung Masa, dan Pulau Cina. Hasilnya, pada tahun 2014 jumlah rusa Bawean terpantau sebanyak 275 ekor, lalu bertambah menjadi 325 ekor pada 2015, dan turun sedikit di tahun 2016 (305 ekor).

“Dari hasil monitoring itu, jumlah rusa Bawean di habitat utamanya, yaitu Pulau Bawean, diprediksi tidak akan mengalami perubahan terlalu berarti dalam pemantauan berikutnya,” kata Ayu, yang juga mantan Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Ayu menambahkan, kegiatan pemantauan elang Jawa dilakukan di tiga lokasi, yakni Blok Hutan Banyulinu Kawasan Cagar Alam Ijen Merapi Ungup-Ungup (Kabupaten Banyuwangi), Blok Hutan Pancur Perkebunan Kalisat (Kabupaten Bondowoso), serta Cagar Alam Gunung Picis di Desa Gondowido, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo.

Bukan sekadar memantau, Balai Besar KSDA Jatim pun – bekerjasama dengan Pertamina Terminal BBM Surabaya – melepasliarkan seekor elang Jawa jantan berusia 19 bulan di Cagar Alam Gunung Picis, 15 Desember 2016.

Elang ini merupakan sitaan Kepolisian Daerah Jawa Timur pada 3 Juli 2015, dan telah melalui proses rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Yogyakarta selama sekitar 17 bulan.

Sementara pemantauan kakatua kecil jambul kuning dilakukan di Pulau Masakambing, Kabupaten Sumenep. Dari hasil pemantauan, jumlahnya relatif stabil: 22 ekor (2013), 23 ekor (2014), 22 ekor (2015), dan kembali 23 ekor pada tahun 2016. (red).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Gunawan ‘Siberian Husky’ Harco: “Anjing Juga Makhluk Tuhan…”

YOGYAKARTA (IGS ANIMALS) – Anjing juga makhluk Tuhan, yang ingin dirawat dan disayangi dengan sepenuh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *