Kamis , 13 Desember 2018
Home / IGS OPINION / Menghitung Langkah Juara Bertahan Jerman
Ekspresi gelandang Real Madrid asal Jerman, Toni Kroos, setelah menyelamatkan perjalanan negaranya Piala Dunia 2018 dengan menjebol gawang Swedia di detik-detik akhir jelang bubar (Foto: Dok. IGS Berita).*

Menghitung Langkah Juara Bertahan Jerman

Oleh YUKIE H. RUSHDIE

 

SEPAKAN “pisang” Toni Kroos ke tiang jauh gawang Swedia, di masa injury time dan dengan 10 pemain, sukses meng-cancel tiket pulang juara bertahan Jerman dari Rusia. Itulah drama terkini dari panggung Piala Dunia 2018.

Maka, sungguh teramat wajar kalau kemudian skipper Real Madrid itu ditasbihkan sebagai pahlawan Die Panzer pada partai hidup-mati tersebut.

Betapa tidak? Kalaulah sepakannya melenceng, atau berhasil dijinakkan kiper Swedia, Robin Olsen, hampir dapat dipastikan sang juara bertahan Jerman bakal angkat koper.

Betul. Hasil imbang 1-1 dengan Swedia belum menutup harapan Jerman. Namun, karena di pertandingan terakhir Swedia —yang telah mengantungi 4 poin— bakal menghadapi Meksiko (6 poin), sementara Jerman (1 poin) berlaga versus Korsel (0 poin), muncul dugaan akan terjadi skenario strategis dari Tim Sombrero Meksiko.

Chicarito cs cukup “memberikan” hasil imbang 0-0 kepada Swedia, maka kemenangan 100-0 Jerman dari Korsel pun bakal menjadi kesia-siaan. Karena, klasemen terakhirnya di Grup F itu akan berujud: Meksiko (7 poin), Swedia (5), Jerman (4), dan Kosel (0).

Skenario itu sangat mungkin terjadi, karena tentunya Meksiko tak mau memelihara “anak macan” macam Jerman —yang kalau dibiarkan membesar bisa-bisa kelak malah menyantap “tuan”-nya sendiri.

Kini, dengan kemenangan 2-1 atas Swedia, berkat gol krusial Kroos di masa “kiamat”, Jerman membuat situasi di Grup F tiba-tiba jadi sangat panas. Sukses Meksiko menggulung sang juara bertahan 1-0 di partai awal —bukan mustahil— bisa berakhir mubazir. Bahkan Kosel pun, meski sangat tipis, masih memiliki peluang untuk lolos.

Klasemen Grup F jelang partai pamungkas babak penyisihan itu kini menjadi: Meksiko (6 poin dan selisih gol 3-1), Swedia (3 dan 2-2), Jerman (3 dan 2-2), lalu Korsel (0 dan 1-3). Segalanya menjadi begitu terbuka, dan bukan mustahil Meksiko pun bisa terlempar dari babak penyisihan grup, gagal melaju ke putaran 16 besar yang menggunakan sistem gugur (knock out).

Jika di pertandingan terakhir itu Swedia menang 1-0 dari Meksiko, dan Jerman unggul 1-0 dari Korsel, maka Swedia, Jerman, dan Meksiko akan sama-sama memiliki poin 6 dengan selisih gol yang juga persis serupa, 3-2. Maka, harus dihitung head-to-head di antara ketiga tim tersebut, dan Jerman dengan Swedia akan lolos berdasarkan produktivitas —selisih gol mereka 2-2, sementara Meksiko 1-1. Jerman akan menjadi juara grup, karena unggul head-to-head dengan Swedia.

Artinya, siapapun yang ingin lolos dari “neraka” Grup F itu, harus bisa unggul di pertandingan terakhirnya dengan minimal selisih dua gol.

Cek saja, bahkan Korsel pun masih berpeluang. Bila Korsel menang 2-0 dari Jerman, dan Meksiko menang 2-0 dari Swedia, maka kedua tim itulah yang lolos —urutan klasemennya: Meksiko (9 poin dan 5-1), Korsel (3 dan 3-3), Jerman (3 dan 2-4), lalu Swedia (3 dan 2-4). Tapi, menurut saya, persentase dari kemungkinan itu adalah yang paling kecil.

 

Spesialis Turnamen

Sudah jadi pandangan umum, Jerman dikenal sebagai tim spesialis turnamen. Sepanjang keikutsertaannya di Piala Dunia, hanya sekali ia gugur di babak penyisihan grup, dan itu sudah terjadi sangat lama (tahun 1934 di Italia).

Bahkan, pasukan berjuluk Die Panzer ini sudah menggondol Piala Dunia 4 kali (2 di antaranya dilalui setelah mengalami kekalahan terlebih dulu di babak penyisihan grup: tahun 1954 kalah 3-6 dari Hungaria, dan tahun 1974 kalah dari Jerman Timur 0-1).

Memang, dalam sejarahnya, Jerman belum pernah melakukan back-to-back, juara dalam waktu berturut-turut (hanya Italia di tahun 1934 dan 1938 serta Brazil pada tahun 1958 dan 1962 yang berhasil). Dengan kata lain, agak sulit untuk memprediksi Jerman kembali menjadi kampiun, memperpanjang gelar yang diperolehnya di Brazil tahun 2014.

Namun, di Rusia 2018 ini, kalau “sekadar” lolos dari penyisihan Grup F tentunya kini sudah bukan hal yang terlalu sulit lagi bagi Jerman. Apalagi lawan terakhirnya adalah tim yang dianggap terlemah di grup ini, Korea Selatan.

Setelah melewati dua ujian berat pada partai versus Meksiko dan Swedia, juara bertahan Jerman seolah sudah berhasil lolos dari lubang jarum.

Biasanya, kalau sudah sukses melewati titik paling kritis, tim asuhan Joachim Low ini seolah menemukan “nyawa kedua”-nya. Mereka, biasanya, selalu menjelma menjadi zombie yang menakutkan.

Maka, banyak pengamat menilai, kalaupun harus gugur, sepertinya hal itu baru akan dialami Manuel Neuer cs di babak perempat final (8 Besar).

Betulkah begitu? Saya ikut “arisan”. Dan, kebetulan, mendapat undian “pegang” Jerman. Kalau benar begitu, berarti saya baru kalah di babak 8 Besar nanti. Sementara pemenang “arisan” hanyalah satu: yang “pegang” tim juara Piala Dunia Rusia 2018. Bisa siapa saja.

Oya, sebelum lupa, saya hanya ingin melirik kepada teman sesama pengikut “arisan” Piala Dunia, yang —secara kebetulan— mendapat undian “pegang” Argentina. Selesai acara pengundian waktu itu, saya lihat dia yang banyak mengumbar senyum, seolah sambil membayangkan Lionel Messi mengangkat tropi Piala Dunia.

Bahkan, dia nyaris tiada henti meledek beberapa peserta lainnya yang kebetulan terundi “pegang” tim-tim seperti Senegal dan Jepang.

Ternyata, panggung Piala Dunia memang memiliki mistis tersendiri. Segala sesuatunya tak selalu sesuai dengan catatan di atas kertas, termasuk dengan catatan saya sendiri ini… (Yukie H. Rushdie, Pemimpin Redaksi IGS Berita).*

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Puting Beliung | Batutulis Bogor Porak Poranda

KOTA BOGOR | IGS BERITA | Angin puting beliung memporak-porandakan pemukiman warga di kawasan Batutulis, Kota …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: