Jumat , 19 Oktober 2018
Home / INVESTIGASI / Men Escort, Penjaja Kenikmatan Sesama Jenis (Bagian I)

Men Escort, Penjaja Kenikmatan Sesama Jenis (Bagian I)

kartun-1BAGI kalangan tertentu, profesi sebagai lady escort di klub malam atau karaoke mungkin sudah biasa didengar. Tetapi, bagaimana jika yang menjadi escort adalah para lelaki yang masih berusia muda?

Ini menjadi fenomena tersendiri, terutama di kota-kota besar. Ia ibarat sebuah puncak dari gunung es, yang hanya tampak ujungnya di permukaan.

Kemajuan dunia komunikasi, juga perkembangan teknologi gadget, mempermudah para lelaki pemuas birahi mempromosikan diri di media sosial seperti instagram, line, facebook, bahkan dengan cara broadcast pesan melalui Blackberry Messenger.

Lewat iklan-iklan tersebut, baik yang terselubung maupun terang-terangan, mereka pun mencantumkan tarif jasa layanannya. Kebanyakan dari mereka lebih suka mempromosikan diri dengan sebutan men escort. Padahal, jasa layanan yang diberikannya tak lebih sebagai lelaki pemuas birahi. Pangsa pasarnya pun sesama lelaki.

Saat ini, keberadaan mereka begitu mudah untuk dideteksi, baik di dunia maya maupun nyata. Kebanyakan dari mereka kumpul di mal, tempat-tempat kebugaran, atau klub malam.

img-20161129-wa0005Seperti halnya PSK perempuan, men escort pun begitu identik dengan kehidupan malam. Biasanya, mereka terdiri dari kelompok kecil beranggotakan 3 hingga 5 orang. Tetapi, ada pula yang bekerja sendiri.

Dengan kata lain, di antara mereka itu, ada yang bekerja secara mandiri, ada pula yang bekerja di bawah asuhan sang mucikari. Pangsa pasarnya terutama para lelaki yang kehidupan ekonominya sudah mapan.

Pasalnya, untuk menggunakan jasa mereka, konsumennya mesti merogoh kocek lumayan. Tarifnya bevariasi, antara Rp 150 ribu hingga Rp 1 juta rupiah, tergantung penampilan fisik dan jenis layanan yang diminta.

Pelanggan mereka, umumnya, adalah para lelaki penyuka sesama jenis. Tapi, ada kalanya juga seorang suami atau lelaki normal yang ingin merasakan sensasi seks berbeda. Para pelanggan itu datang dari berbagai kalangan – mulai pedagang kaki lima, direktur, dosen, selebriti, hingga pejabat pemerintah ataupun pekerja swasta.

Lantas, apa yang melatarbelakangi mereka menggeluti profesi “basah” tersebut?

“Saya tidak punya bekal keahlian apapun. Dengan bekerja sebagai escort, saya bisa mendapatkan uang dengan mudah, tanpa harus terikat oleh waktu, perintah atasan, atau pun berbagai aturan yang menyiksa,” kata Andre (bukan nama sebenarnya), 19, yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat.

Ia mengaku sudah menggeluti dunia tersebut sejak setahun lalu. Dengan hanya berbekal ijazah kesetaraan SMA, lelaki muda itu merasa pesimis bisa mendapatkan pekerjaan di tengah membludaknya jumlah pengganguran.

Faktor kondisi ekonomi keluarga yang serba minimal pun menjadi salah satu alasan klasik yang diungkapkan, selain – tentu saya – ambisi untuk bergaya hidup hedonis.

Hal senada diungkapkan Agus, 27, yang berdomisili di Kota Bogor, Jawa Barat. Ia, ternyata, adalah seorang duda yang memiliki dua anak.

“Saya bekerja sambilan sebagai penjaja cinta ke sesama jenis. Bagi saya, ini hanya untuk menambah penghasilan, karena kebutuhan hidup sudah semakin tinggi,” kata lelaki yang sebenarnya memiliki pekerjaan utama sebagai manajer di sebuah spa ini. (pys/bersambung).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Rumah Pompa Waduk Bojong

TERUNGKAP | Rumah Pompa Waduk Bojong Ternyata untuk Pengembang

JAKARTA (IGS BERITA) — Akhirnya, misteri di balik pembangunan (kembali) Rumah Pompa Waduk Bojong di …

Tinggalkan Balasan