Selasa , 18 September 2018
Home / IGS OPINION / Lidah KPU Memang Tak Bertulang
KPU
Silang sengkarut proses seleksi calon anggota KPU Provinsi dan Kabupaten/Kota butuh tindakan nyata. bukan retorika (Foto: Dok. Grafis IGS Berita).*

Lidah KPU Memang Tak Bertulang

Oleh YUKIE H. RUSHDIE (Pemimpin Redaksi IGS Berita)

 

OMONG-OMONGAN! Ya, itu memang sudah menjadi (salah satu) tugas utama para Komisioner di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Tapi, tentu saja, harapan rakyat, apa yang muncrat dari mulut setiap Komisioner KPU itu bukanlah sesuatu yang kosong, hampa, tanpa nilai, apalagi tanpa pertanggungjawaban.

Jangan ibarat orang yang kencing di jalan. Buang, tinggalkan, tanpa menyiram. Sama sekali tak ada tanggung jawab terhadap aroma yang ditebarkannya.

Artinya, butuh komisioner yang gentle. Siap mengoreksi kesalahan yang muncul. Apalagi yang bertentangan dengan omongannya sendiri. Karena, adalah keniscayaan, kesempurnaan bukanlah milik manusia, sekalipun dia seorang Komisioner KPU.

Rakyat tidak butuh Komisioner yang jago ngeles. Karena, itu hanyalah milik sopir bajaj. Hanya dia dan Tuhanlah yang tahu kapan mau belok. Orang lain tak perlu tahu.

Mengakui sebuah kesalahan, lalu mengoreksi secara cepat dan tepat, bukanlah aib. Bahkan itulah yang namanya kehormatan.

Yang harus ditindak dan distop keberlangsungannya itu adalah Komisioner yang berkeras mempertahankan sebuah kesalahan hanya demi gengsi. Disangkanya dengan begitu gengsinya bakal terjaga. Padahal justru cuma jadi bahan tertawaan.

Proses seleksi calon Komisioner KPU Provinsi dan Kabupaten/Kota Periode 2018-2023 dikabarkan sarat pemufakatan jahat. Tak sedikit pengumuman yang berbeda dengan hasil real seleksi. Ujung-ujungnya, tak sedikit pula yang berakhir dengan penganuliran keputusan.

Selama masih bertindak, baik menganulir ataupun mempertahankan dengan dalil-dalil akurat, itu harus diapresiasi sebagai langkah terhormat dari para Komisioner di KPU RI selaku penanggungjawab seleksi.

Yang menyedihkan, lebih banyak lagi jumlah perkara yang akhirnya cuma menumpuk di meja Sekretariat KPU RI, khususnya di Bagian SDM. Tak ada kejelasan sikap terhadap perkara-perkara itu. Seperti dianggap kentut: biarkan saja, nanti juga baunya hilang sendiri.

Belakangan, Komisioner KPU RI yang membidangi Divisi SDM, Wahyu Setiawan, berceloteh, “Penyelenggara yang berintegritas berawal dari hasil seleksi yang berkualitas.”

Maka, kunci pembuka keberhasilan kerja KPU ada pada tahap seleksi pemilihan para komisionernya. Kalau di titik ini sudah berantakan, penuh intrik dan konspirasi, mungkinkah akan lahir sebuah pemilu yang bebas perkara?

Bila para komisionernya sendiri adalah kumpulan para pemuja “kepentingan kelompok”, mungkinkah akan lahir para pemimpin nasional yang bebas dari vested interest?

Bahkan ketika KPU-nya sendiri bersih, masih saja lahir para pemimpin yang sontoloyo. Apalagi bila KPU-nya sendiri sudah sama-sama sontoloyo. Ke-sontoloyo-an itu akan kian terstruktur secara sistematis.

Boleh juga para Komisioner KPU berdalih bahwa “mana ada lidah yang bertulang”? Slip of the tongue atau keterseleoan lidah pun masih terus dianggap berlaku kok dalam kamus kehidupan bermasyarakat.

Tapi, maaf, dalam konteks sepenting pelahiran calon pemimpin, yang dibutuhkan di sini adalah manusia-manusia dengan lidah “bertulang”. Ada tanggung jawab di balik setiap ucapan. Bukan sekadar pasrah pada pepatah.

Kalau setuju, silakan berhenti membaca sampai di sini. Kalau tidak, silakanlah menceracau. Pintu medsos belum ditutup. Salam… (Yukie H. Rushdie, Pemimpin Redaksi IGS Berita).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Kode Etik

Kisruh Seleksi KPU Sumedang: Timsel Dinilai Langgar Kode Etik

JAKARTA (IGS BERITA) — Yusfitriadi, salah seorang anggota Tim Seleksi (Timsel) 2 Jawa Barat, yang …

Tinggalkan Balasan