Rabu , 16 Januari 2019
Home / IGS OPINION / Kritik = Kampanye

Kritik = Kampanye

Oleh YUKIE H. RUSHDIE (Pemimpin Redaksi IGS Berita)

SEBARIS kalimat ini, yang dilontarkan Mahfud MD di forum Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (8/1/2019), tak juga mau hilang dari ingatan.

“KPU jangan berharap tidak dikritik. Kritik akan selalu ada. Karena, kritik itu adalah bagian dari kampanye,” begitulah, kira-kira, yang dimaksud Mahfud.

Ini seolah menyadarkan saya. Maka, saya mulai lebih selektif dalam menilai sebuah kritik. Ternyata, benar. Di era jelang Pilpres 2019 ini, sebagian besar kritik semakin kehilangan objektivitasnya.

Sejujurnya, sejak menggeluti praktik jurnalistik sekitar 30 tahun silam, saya sudah langsung menjadi produsen sekaligus konsumen —bahkan fans fanatik— kritik.

Segala bentuk tulisan bernada kritik, tak peduli siapa penulisnya, saya lahap secara gembul. Itu berlaku di semua wilayah. Politik, ekonomi, sastra, agama, sosial, bahkan olahraga.

Belakangan, terutama pada lima tahun terakhir, saya sendiri mulai merasakan adanya keanehan di dunia kritik ini.

Kandungannya jadi terasa lebih subjektif. Bahkan, orang-orang yang di era Orde Baru tak pernah dikenal sebagai kreator karya kritis pun, kini menjelma jadi kritikus papan atas.

Sementara sejumlah “tukang kritik abadi dan kahot”, entah kenapa, sekarang seolah tak terdeteksi lagi dalam radar.

Tiba-tiba Mahfud MD muncul dengan kalimatnya tadi. Kritik = kampanye. Ini membangkitkan semacam renaissance di dalam kepala saja.

Celetukan-celetukan seorang Mahfud MD ini memang kerap menjadi gizi bagi kesehatan berpikir saya.

Kini, seolah menentang “pernyataan suci” (jangan lihat siapa yang bicara, tapi dengarkan apa yang ia bicarakan), setiap kali membaca sebuah kritik saya jadi menengok dulu latar belakang penulisnya.

Kalau terdapat jejak aktivitasnya di ranah politik praktis, seketika itu juga saya kehilangan gairah untuk mengamini karya kritis penulis tersebut, apalagi menjadikannya sebagai referensi. Bahkan, semua dalil yang digunakannya dalam karya kritis itu pun jadi terasa meragukan.

Dulu, akademisi atau ilmuwan selalu saya klaim sebagai kelompok kritisi paling objektif. Kini, ketika kaum akademisi atau ilmuwan itu mulai terjangkiti syahwat berpolitik praktis, karya-karya kritisnya pun seketika jadi terasa tak jujur lagi.

Mohon maaf, ini semata-mata bukan karena saya terlalu angkuh dan sombong untuk mau mendengarkan “kampanye” seseorang.

Ini semata-mata karena saya sudah sangat merindukan kehadiran sebuah kritik yang objektif, tidak tendensius, bebas kepentingan, tulus, tanpa pamrih…*

Pemerintah Kabupaten Pacitan

About Mega Puspita

Check Also

Panggung Politik

Recehan | Panggung Politik Berbalut Ayat Tuhan

Oleh MEGA PUSPITA (Wartawan IGS Berita)   PENTAS recehan itu, lagi-lagi, tergelar di depan mata, …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: