Sabtu , 15 Desember 2018
Home / MEGAPOLITAN / KPK Tahan 4 Tersangka Hasil OTT di PN Jaksel
Hakim PN Jaksel, Iswahyu Widodo, digelandang menuju sel dengan kostum tahanan KPK | Foto DOK. IGS BERITA |

KPK Tahan 4 Tersangka Hasil OTT di PN Jaksel

JAKARTA | IGS BERITA | KPK menahan empat tersangka perkara kasus dugaan korupsi terkait suap putusan perkara perdata di PN Jakarta Selatan pada 2018. Empat tersangka itu terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Selasa (27/11) malam.

“Keempat tersangka dilakukan penahanan untuk 20 hari pertama, yaitu tersangka IW (Iswahyu Widodo) dan I (Irwan) ditahan di Polres Metro Jakarta Timur, MR (Muhammad Ramadhan) di rutan Pomdam Jaya Guntur, dan AF (Arif Fitrawan) di Polres Metro Jakarta Selatan,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Kamis (29/11/2018).

Dari OTT yang dilakukan KPK pada Selasa, dua hakim —Iswahyu Widodo dan Irwan— ditetapkan sebagai tersangka penerima suap bersama panitera Muhammad Ramadhan.

Mereka diduga menerima suap sekira Rp 650 juta, dalam bentuk 47 ribu dolar Singapura (sekira Rp 500 juta) dan Rp 150 juta, dari advokat Arif Fitrawan (AF) dan seorang pihak swasta, Martin P Silitonga (MPS).

Pemberian suap dalam kasus ini terkait dengan penanganan perkara Nomor 262/Pid.G/2018/PN Jaksel dengan penggugat Isrulah Achmad dan tergugat Williem JV Dongen serta turut tergugat PT Asia Pacific Mining Resources (APMR) dan Thomas Azali.

Suap bertujuan agar majelis hakim membatalkan perjanjian akuisisi PT Citra Lampia Mandiri (CLM) oleh PT APMR di PN Jakarta Selatan.

Selama proses persidangan, diindikasikan pihak penggugat melakukan komunikasi dengan Muhammad Ramadhan selaku panitera pengganti PN Jaktim sebagai pihak yang diduga menjadi perantara terhadap majelis hakim yang menangani perkara di PN Jakarta Selatan.

Diduga terjadi aliran dana, yaitu transaksi transfer pada 22 November 2018 dari Martin P Silitonga ke rekening Mandiri atas nama Arif Fitrawan sebesar Rp 500 juta.

Selanjutnya, pada 27 November 2018, Arif Fitrawan melakukan penarikan sebesar total Rp 500 juta di tiga kantor cabang Mandiri.

Pada 27 November 2018, Arif menukar uang Rp 500 juta tersebut menjadi 47 ribu dolar Singapura.

Lalu, pada hari yang sama, Arif menitipkan uang sebesar 47 ribu dolar Singapura tersebut ke Muhammad Ramadhan untuk diserahkan kepada majelis hakim. Uang itu diberikan di rumah Muhammad Ramadhan.

Sebelumnya, majelis hakim telah menerima uang sebesar Rp 150 juta dari Arif melalui Ramadhan untuk mempengaruhi putusan sela, agar tidak diputus NO yang dibacakan pada bulan Agustus 2018 dan disepakati akan menerima lagi sebesar Rp 500 juta untuk putusan akhir.

NO maksudnya adalah agar gugatan tidak bisa diterima. Sehingga, penggugat ingin agar gugatan tetap dilanjutkan sampai pemeriksaan pokok.

Karena gugatan yang sama sudah diajukan di Makassar dan diputus NO, maka penggugat pun mengajukan gugatan ke PN Jaksel, dan berharap agar gugatan masuk ke pokok perkara.  Putusan itu sendiri rencananya akan dibacakan pada hari ini, Kamis, 29 November 2018.

Dalam komunikasi yang terekam tim penyidik KPK, teridentifikasi kode yang dilakukan adalah “ngopi”. Dalam percakapan disampaikan, “Bagaimana, jadi ngopi gak?”

Dugaan realiasasi komitmen fee sendiri beragam. Komitmen fee antara Arif Fitrawan dengan pihak swasta adalah Rp 2 miliar. Lalu, komitmen fee antara Arif Fitrawan dengan Muhammad Ramadhan turun menjadi Rp 950 juta.

Realisasi dari Muhammad Ramadhan ke hakim menjadi Rp 150 juta dan 47 ribu dolar Singapura. |KUS|ANT|

Dog Hallow Fest

About Mega Puspita

Check Also

Judas Priest Janji Panaskan Ancol Malam Ini

JAKARTA | IGS BERITA | Judas Priest Live in Concert merupakan tajuk bagi penampilan dari …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: