Kamis , 13 Desember 2018
Home / DAERAH / Kisruh Pilkades Watukarung | Bupati Pacitan: Tunggu 30 Hari!
Watu Karung
Bupati Pacitan, Indartato, menerima para pengunjukrasa hasil Pilkades Watu Karung (Foto: Dok. IGS Berita).*

Kisruh Pilkades Watukarung | Bupati Pacitan: Tunggu 30 Hari!

PACITAN (IGS BERITA) — Indartato, Bupati Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, meminta waktu 30 hari untuk menyelesaikan sengketa hasil Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Watukarung, Pringkuku, yang berakhir kisruh.

Menurut Indartato, berdasarkan regulasinya, Panitia Pilkades Tingkat Kabupaten memiliki waktu 30 hari untuk memproses penyelesaian sengketa hasil pemilihan tersebut.

“Ini kan ada aturannya. Sebagaimana sudah dijelaskan, terjadi sengketa masalah hasil. Bupati punya kesempatan 30 hari untuk menyelesaikan. Dan, proses ini ditangani oleh Tim Kabupaten,” kata Indartato di hadapan para pengunjukrasa yang mendatangi Gedung Karya Dharma Pacitan, Selasa (9/10/2018), untuk menuntut penghitungan ulang.

Tim Panitia Pilkades Tingkat Kabupaten pun sudah menerima laporan tentang sengketa hasil Pilkades Watukarung yang sebelumnya dibacakan tim sukses calon kepala desa.

“Intinya, kita berdiri di tengah, demi ketenteraman masyarakat. Karena, saya percaya sama masyarakat, dan saya ingin dipercaya juga. Kita akan berusaha semaksimal mungkin dalam menangani hal ini. Kita juga akan meminta bantuan kepada Kapolres dalam rangka Keamanan,” jelas Indartato.

Tidak Adil

Kehadiran para pengunjukrasa menghadap Bupati Indartato itu dipicu rasa telah diperlakukan tidak adil dalam pelaksanaan Pilkades Watukarung, yang digelar secara serentak pada Minggu (7/10/2018) di 33 desa dari 11 kecamatan se-Kabupaten Pacitan.

Mereka menuntut dilakukannya penghitungan ulang. Bahkan, kalau perlu, pemilihan ulang.

“Mohon ini dihitung ulang. Dan, kalau terpaksa, ya pemilihan ulang. Karena, sebelum pelaksanaan pemilihan, pihak panitia tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat,” kata Joko, salah seorang perwakilan pengunjukrasa.

Hasil penghitungan suara pada Pilkades Watukarung itu sendiri memang sangat berpotensi melahirkan sengketa. Pasalnya, selisih di antara kedua calon peserta Pilkades itu hanya 1 (satu) suara.

Dua calon mengikuti Pilkades tersebut, yakni Darmadi dan Wiwid Pheni. Berdasarkan penghitungan, diperoleh hasil: Darmadi (552 suara) dan Wiwid Pheni (553 suara).

Saksi dari pihak Darmadi mengatakan hasil penghitungan itu tidak adil. Pasalnya, terdapat kerusakan pada surat suara.

Ujung-ujungnya, karena merasa tidak mendapatkan solusi yang memuaskan, kubu Darmadi beramai-ramai menemui Bupati Pacitan, Indartato.

Sebelum bertemu Indartato, rombongan diterima Ketua Panitia Pilkades Tingkat Kabupaten, Sakundoko, dan diarahkan untuk menuju Gedung Karya Dharma Pacitan, demi memudahkan proses penyampaian aspirasinya kepada pihak Pemkab.

Ihwal Kisruh

Kekisruhan dalam Pilkades Watukarung itu bermula dari adanya berbagai hal yang dinilai janggal dalam proses penghitungan suara.

Sekadar ilustrasi, pada Minggu (7/10/2018) itu, Kabupaten Pacitan menggelar Pilkades Serentak di 33 desa dari 11 kecamatan, dengan total jumlah calon 92 orang.

Pelaksanaan Pilkades Serentak itu relatif berjalan aman dan terkendali. Kecuali di Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku, yang berujung kisruh.

Pilkades Watukarung menghadirkan dua calon, Darmadi dan Wiwied Pheni, dengan jumlah pemilih 1.297 orang. Dari jumlah itu, 1.105 pemilih memberikan suaranya, sementara 192 lagi tidak memanfaatkan hak pilihnya.

Setelah dilakukan penghitungan, Wiwied Pheni dinyatakan unggul 1 suara dari Darmadi, 553 melawan 552 suara.

Dalam proses penghitungan suaranya sendiri sudah terjadi protes dari salah satu saksi Darmadi. Menurutnya, proses penghitungan suara itu tidak sesuai dengan prosedur Pilkades.

“Saksi melihat ada surat suara yang dirusak oleh anggota panitia. Banyak yang mendengar hal itu. Karena selisih hanya 1 suara, maka ini tentunya sangat rentan dengan kecurangan,” kata Aris Saroso, salah seorang saksi dari kubu Darmadi.

Bahkan, dalam pengamatan Aris, irama pada detik-detik akhir penghitungan suara seolah sudah diatur oleh pihak panitia.

“Pas detik-detik akhir itu suara seperti diatur. Satu… dua… satu… dua… terus berulang-ulang. Dan, kenapa saat itu ada surat suara untuk calon nomor urut 1 (Darmadi) dikatakan rusak?” kisah Aris.

Intervensi Panitia

Aris juga menemukan tanda-tanda adanya intervensi dari pihak panitia. Antara lain, salah seorang panitia, Sumarni, yang bertugas sebagai pencatat di papan perolehan suara, disebutkan Aris sudah ikut-ikutan membuka surat suara. Hal itu melahirkan protes dari saksi.

“Pak Marni, itu jangan dirusak. Pak Ketua Panitianya sendiri waktu itu mendengar protes tersebut. Dan, waktu itu Sumarni menyangkal,” kisah Aris.

Sumarni itu pun, lanjut Aris, adalah saudara dari calon nomor urut 2, Wiwied Pheni.

“Semua orang sudah tahu kok siapa Marni itu. Anehnya, dia dilibatkan dalam panitia, jadi pecatat di papan perolehan suara. Lebih aneh lagi, dia kemudian malah memaksa ikut bertugas di bagian surat suara, dengan alasan tidak sanggup berdiri lama,” kata Aris lagi.

Berdasarkan berbagai temuan yang dinilai janggal itu, Tim Pemenangan Darmadi pun mengumpulkan data dan bahan bukti untuk kemudian dicatat dan dilaporkan ke Panitia Pilkades Tingkat Kabupaten melalui aksi unjukrasa damai. (apr).*

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Diduga Aniaya Anak, Habib Bahar Dipolisikan

BOGOR | IGS BERITA | Habib Bahar bin Smith diduga melakukan tindakan penganiayaan terhadap dua …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: