Jumat , 16 November 2018
Home / DAERAH / Kisruh Seleksi KPU Sumedang: Timsel Dinilai Langgar Kode Etik
Kode Etik
KPU RI menerima Nota Protes atau Keberatan sejumlah peserta Seleksi Calon Anggota KPU Kabupaten Sumedang (Foto: Dok. IGS Berita).*

Kisruh Seleksi KPU Sumedang: Timsel Dinilai Langgar Kode Etik

JAKARTA (IGS BERITA) — Yusfitriadi, salah seorang anggota Tim Seleksi (Timsel) 2 Jawa Barat, yang —antara lain— menangani proses seleksi calon anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kabupaten Sumedang, dinilai melanggar kode etik dengan memanggil sejumlah peserta seleksi tertentu untuk bertemu secara informal di Hotel Cipaganti, Cipanas (Garut).

Menyikapi hal itu, 8 peserta seleksi calon anggota KPU Kabupaten Sumedang, masing-masing Elsya Tri Ahaddini, Taryono, Taufik Hidayat, Fahriza Luth, Kirna Al Nana Setriana, Entep Hamdillah Ghofur, Dindin Rudiana, Deni Wijaya, dan Nining Sunengsih, menandatangani Nota Protes atau Keberatan yang disampaikan ke KPU RI di Jakarta, Senin (3/9/2018).

“Nota Protes atau Keberatan sudah kami sampaikan dan diterima pihak KPU RI. Sekarang, kita tinggal menunggu langkah yang diambil KPU RI. Kami percaya, KPU RI akan melakukan langkah terbaik sesuai regulasi untuk menangani persoalan di Kabupaten Sumedang ini,” kata Entep Hamdillah Ghofur kepada IGS Berita di Kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol Nomor 29, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (3/9/2018) siang.

Entep datang ke Kantor KPU RI bersama Dindin Rudiana dan Fahriza Luth, mewakili lima rekan lainnya yang menandatangani Nota Protes atau Keberatan itu.

Meluruskan Situasi

Dihubungi terpisah, salah satu penandatangan Nota Protes atau Keberatan tersebut, Elsya Tri Ahaddini, membenarkan soal surat yang disampaikan ketiga rekannya itu ke KPU RI.

“Ini adalah langkah terbaik yang bisa kami lakukan untuk mengatasi situasi di Kabupaten Sumedang yang cenderung semakin tidak menentu setelah beredarnya selebaran dan berbagai pemberitaan media. Dan, kami percaya, KPU RI pun memiliki langkah terbaik pula untuk menuntaskan polemik ini,” kata Elsya, yang juga merupakan Komisioner KPU Kabupaten Sumedang periode 2013-2018, kepada IGS Berita melalui sambungan telepon, Senin (3/9/2018) malam.

Menurut Elsya, sejak beredarnya selebaran di grup-grup WhatsApp dan munculnya berbagai pemberitaan media, ia meyakini ada sesuatu yang tidak benar dan harus diluruskan.

Kode Etik
Elsya Tri Ahaddini, Komisioner KPU Kabupaten Sumedang periode 2013-2018 (Foto: Dok. IGS Berita).*

“Demi menjaga suasana di Sumedang tetap kondusif, kami ingin meluruskan kesimpangsiuran informasi yang kini berkembang di sini. Dan, menurut kami, pihak yang paling berwenang untuk meluruskan kembali situasi itu adalah KPU RI, sebagai penanggung jawab pelaksanaan seleksi. Ini penting dilakukan agar tidak menjadi fitnah dan saling tuding, yang ujung-ujungnya merusak keharmonisan suasana pemilu di Kabupaten Sumedang,” kata Elsya.

Dalam Nota Protes atau Keberatan itu, disampaikan adanya dugaan pertemuan informal di Hotel Cipaganti Garut yang diprakarsai anggota Timsel, Yusfitriadi, dengan 4 peserta seleksi tertentu yang dihubunginya.

Padahal, menurut Bab V angka 2 huruf (g) Keputusan KPU RI Nomor 36/PP.06-Kpt/05/KPU/II/2018 tentang Kode Etik, anggota Timsel dilarang melakukan pertemuan dan komunikasi dengan calon anggota KPU Kabupaten/Kota atau pendaftar calon anggota KPU Kabupaten, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama kecuali telah disepakati oleh Timsel.

Pertemuan Garut

Di mata para penandatangan Nota Protes atau Keberatan, peristiwa di Hotel Cipaganti Garut itu tidak masuk pada kategori “pertemuan yang tidak mungkin dihindari”, sebagaimana disebutkan angka 3 Kode Etik, karena terjadi secara disengaja (berdasarkan undangan melalui panggilan telepon anggota Timsel).

Pertemuan itu pun tidak bisa dikategorikan “darurat” dan “tidak mungkin berdasarkan persetujuan Timsel secara keseluruhan”, karena —sesuai pengakuan pihak yang hadir di sana— hanya membahas dan memperkenalkan peserta-peserta seleksi yang direkomendasikan ormas tertentu.

Terlepas dari apa yang menjadi pembahasan di sana, menurut Nota Protes atau Keberatan tadi, pertemuan di Hotel Cipaganti Garut itu telah mencederai integritas dan kredibilitas Yusfitriadi selaku anggota Timsel, yang seharusnya bersikap netral terhadap semua peserta seleksi.

Berdasarkan Penetapan Hasil Pemeriksaan Kesehatan dan Tes Wawancara Calon Anggota KPU Kabupaten/Kota Periode 2018-2023 Nomor 06/PP.06-Pu/32/Timsel.kab-kota/VIII/2018 tanggal 27 Agustus 2018, para peserta seleksi yang hadir dalam “Pertemuan Garut” itu dinyatakan lulus dan masuk ke tahap “10 Besar” (fit and proper test untuk penyusunan ranking).

Hasil CAT KPU

Sementara, menurut data yang dilampirkan Nota Protes atau Keberatan, hasil CAT KPU 2018 untuk dua peserta yang hadir dalam “Pertemuan Garut” berada jauh di bawah, apalagi bila dibandingkan dengan nilai Elsya Tri Ahaddini yang ada di peringkat 1.

Tuntutan yang diajukan dalam Nota Protes atau Keberatan itu, antara lain, KPU RI melakukan supervisi untuk memeriksa seluruh proses dan hasil seleksi di setiap tahapannya, memeriksa semua pihak yang diduga terlibat dalam pelanggaran kode etik, mengevaluasi ulang anggota Timsel yang diduga telah menyalahi ketentuan, dan mengambil tindakan nyata demi tegaknya sistem dan mekanisme yang sudah ditetapkan.

Pihak KPU RI menyatakan masih mendalami, memeriksa, dan memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan dalam proses seleksi di Kabupaten Sumedang tersebut. (tom/yhr).*

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

PLN Gencar Berantas Teknik ‘Spanyol’

KOTA BOGOR (IGS BERITA) — Gencarnya kegiatan Operasi Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) yang dilakukan …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: