Senin , 19 November 2018
Home / DAERAH / Kisah Miris Rizki, Bocah Penjaja Koran
Rizki
Vebiana Ade Putra (12 tahun), sempat bersekolah di SDN Sambong I, tapi kemudian berhenti karena harus membantu ibunya mencari nafkah (Foto: Suluh Apriyanto - IGS Berita).*

Kisah Miris Rizki, Bocah Penjaja Koran

PACITAN (IGS BERITA) — Nasib Rizki Vebiana Ade Putra (12 tahun), bocah asal Dusun Gamping, Desa Ngreco, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, boleh dibilang kurang beruntung.

Di umur yang masih sangat hijau itu, ia tidak bisa menikmati rasa belajar di sekolah seperti teman seusianya, akibat kendala ekonomi orangtua.

Ia anak ketiga dari Ayu Suprapti (39), janda yang ditinggal mendiang suaminya.

Sehari-hari, Rizki berkeliaran di Terminal Bus Pacitan, berharap uluran tangan para penderma, termasuk belas kasih para sopir, kernet, atau penumpang, untuk sekadar bisa makan. Kadang ia pun membantu menjajakan koran.

Hingga pada suatu hari, ada seseorang yang merasa sangat iba melihat kondisi Rizki dan hatinya tergerak untuk menjadikannya sebagai anak angkat.

Adalah Saryono (45), petugas di Terminal Bus Pacitan, warga Desa Sambong, Kecamatan Pacitan, yang terenyuh menyaksikan nasib Rizki itu.

Saryono mengatakan, dirinya menaruh rasa kasihan akan kehidupan Rizki yang selalu luntang-lantung di terminal.

“Akhirnya saya ajak ke rumah atas izin ibunya, kemudian saya didik, ajari mengaji dan disekolahkan. Dulu, setiap hari Minggu, saya ajak ketemu ibunya untuk melepas rindu,” ujar Saryono.

Menurutnya, Rizki adalah anak penurut, yang cepat tanggap dan punya semangat belajar.

“Dia, saya masukkan sekolah di SD Sambong 1,” katanya.

Namun, lanjut Saryono, Rizki hanya bertahan selama 4 bulan bersamanya. Baru dua bulan sekolah, dia sudah kembali kepada Ibunya.

“Dua bulan sebelum sekolah, dia saya ajari dan didik di rumah. Setelah itu, saya masukkan sekolah. Ternyata, tidak sampai dua bulan, dia tidak mau lagi sekolah dan memilih pulang kepada ibunya,” kisah Saryono, yang mengaku sudah berupaya merayu Rizki untuk kembali bersekolah tapi tidak berhasil.

Dapat PIP

Kepala Sekolah SDN Sambong 1, Sukatno, membenarkan, Rizki pernah belajar sekitar dua bulan di sekolah yang dipimpinnya. Ia tidak tahu secara detail alasan Rizki keluar dari sekolah.

“Awalnya, dia kami terima sekolah setelah dibawa oleh Bapak Saryono. Namun, belum genap dua bulan, sudah keluar,” ujar Sukatno.

Padahal, lanjut Sukatno, pihaknya telah mengajukan Rizki yang duduk di kelas IV itu untuk mendapatkan PIP (Program Indonesia Pintar).

“Begitu dananya ada, dia sudah keluar. Padahal, yang bisa mencairkan dana itu hanyalah siswa yang bersangkutan,” ujar Sukatno.

Nur Sodiq, guru di SDN Sambong 1, mengatakan, setelah Rizki tidak masuk sekolah beberapa hari, ia berupaya mencarinya di sekitaran terminal, dan ketemu dengan ibunya.

“Dua kali saya temuin ibunya. Pertemuan pertama masih baik-baik dalam percakapan agar Rizki kembali sekolah. Namun di pertemuan kedua, saya malah dimarahi. Ibunya (Rizki) bilang, anaknya disuruh membantu mencari nafkah dan intinya tidak boleh kembali lagi ke sekolah,” kisah Nur Sodiq.

Masuk SKB

Tidak mau bersekolah di SDN Sambong 1, kini Riski Vebiana Ade Putra kembali sekolah di salah satu Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di Pacitan.

Kamis (19/10/2018) menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi Rizki. Karena, ia bisa belajar lagi, meski hanya di SKB.

Dalam benaknya, kelak dia bisa mewujudkan cita-citanya menjadi profesor dan membuat robot, sekaligus mengubah pola hidup keluarganya.

“Rasanya senang sekali bisa sekolah lagi. Saya bercita-cita ingin jadi profesor supaya bisa membuat robot,” ujar Rizki, anak buruh cuci-setrika pakaian.

Rizki tidak peduli, dengan memakai seragam seadanya beserta topi hitam kesayangannya, ia menjalani pendidikannya di SKB dengan semangat dan gembira. Ia menjalani lagi hari-harinya yang telah hilang sekian lama.

“Saya sangat berterimakasih kepada pemerintah yang telah berusaha untuk sekolahkan saya walaupun harus menempuh jalur Paket A. Saya bertekad pasti bisa melanjutkan Paket B atau setara SMP nantinya,” kata Rizki.

Di SKB, Rizki terlihat aktif dan berinteraksi bersama teman-temannya. Selain pendidikan formal, Rizki bersama anak didik lainnya juga diberikan keterampilan, seperti kursus komputer, menjahit, sablon, dan keterampilan potensi lokal yakni tata boga membuat tahu tuna dan sebagainya, dengan harapan ke depan bisa bekerja mandiri.

Kepala SKB Pacitan, Ririh Enggar Murwati, mengatakan, pihaknya siap memberikan bantuan untuk kelancaran belajar Rizki.

“Kami akan membantu Rizki dengan memberikan ATK, tas untuk keperluannya belajar, dan seragam,” ujar Ririh. 

Menurut Ririh, SKB hadir untuk menangani anak-anak yang tidak terlayani pada pendidikan formal karena berbagai hal, seperti masalah sosial-ekonomi, kondisi geografis, dan mungkin juga kenakalan yang membuat mereka dikeluarkan dari sekolah.

“Jadi, mereka siap kita tampung dan didik di SKB,” imbuhnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga atau orangtua Rizki sendiri belum bisa dimintai keterangan. (apr).*

Dog Hallow Fest

About Markus Marpaung

Check Also

Pantai Pangasan

Pati TNI Awasi Kinerja Tentara di Pantai Pangasan

PACITAN (IGS BERITA) — Brigjen TNI Steverly Parengkuan, Pati Ahli Kasad, menyatroni kawasan wisata Pantai …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: