Minggu , 18 Februari 2018
Home / IGS GHOST / Kenapa Setan Dibenci Manusia, Ini Alasannya…
Setan Dibenci
Ilustrasi (Foto: Dok. Grafis - IGS Berita).*

Kenapa Setan Dibenci Manusia, Ini Alasannya…

KENAPA setan dibenci?

Bisa dipastikan, kecuali bayi yang baru lahir, semua orang mengenal kata “setan”, tentu dengan istilahnya masing-masing. Bahkan, orangtua pun kerap menjadikan sosok “setan” untuk menakut-nakuti anaknya yang tidak mau tidur atau enggan menurut perintah.

Semua orang pun seolah sepakat, ketika disuruh membayangkan sosok setan, mereka pasti mengimajinasikan sebentuk makhluk yang menyeramkan, menyebalkan, dan menjijikan. Pokoknya yang mengundang kebencian.

Dalam Bahasa Ibrani, setan atau syetan disebut ha-Satan, yang berarti “sang penentang”. Sementara dalam Bahasa Arab disebut asy-Syaiton, yang berarti “sesat atau jauh”. Keduanya berasal dari akar kata Bahasa Semit: S-T-N.

 

Secara umum, kata setan itu merupakan ujud antagosnisme yang bersumber dari agama-agama Samawi – biasanya merujuk pada Lucifer dalam kepercayaan Yahudi dan Kristen, kemudian Iblis pada kepercayaan Islam.

Pada awalnya, istilah ini digunakan sebagai julukan untuk berbagai entitas yang menantang keimanan manusia di dalam Alkitab Ibrani. Sejak saat itu, agama-agama Samawi menggunakan istilah “Satan” sebagai nama untuk Iblis.

Di dalam Bahasa Indonesia, istilah Satan berbeda maknanya dengan setan. “Satan” (huruf besar) lebih condong pada sang Iblis (diabolos), sedangkan “setan” (huruf kecil) cenderung mengarah kepada roh-roh jahat (daemon).

Menurut Wikipedia, perubahan makna itu terjadi karena setan tidak diterjemahkan langsung dari Bahasa Ibrani, melainkan melalui Bahasa Arab, sehingga terjadi pergeseran makna.

 

Pemahaman Islam

Menurut ajaran Islam, kata setan itu pada dasarnya memiliki arti sebagai kata sifat, yang bisa digunakan kepada makhluk dari golongan jin, manusia, dan hewan. Kemudian, Ibnu Katsir menyatakan, setan adalah semua yang keluar dari segala jenis tabiat jelek.

…dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)

Ayat ini menjelaskan, Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin, dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan.

 

Pemahaman Kristen

Menurut doktrin Kristen Trinitarian, pada mulanya setan adalah malaikat Tuhan yang bernama Lucifer. Istilah “malaikat” berarti “utusan”. Semua malaikat diciptakan oleh Tuhan. Kolose 1:16 mengatakan, “Karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.”

Lucifer diciptakan dengan keindahan yang sempurna sehingga ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling cantik. Ia dipenuhi hikmat sehingga ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang terpandai. Dari seluruh malaikat yang ada di Surga, Lucifer-lah yang paling pintar, cantik, dan berkuasa.

Yehezkiel 28:12 mencatat, “…gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah.”

Walaupun malaikat adalah makhluk yang indah dan berkuasa, namun mereka tidak boleh disembah karena malaikat adalah makhluk ciptaan Tuhan. Hanya Tuhan, Sang Pencipta, yang patut disembah.

Kata Satan (dengan huruf besar) hanya digunakan dua kali di dalam Alkitab Terjemahan Baru (Wahyu 12:920:2) untuk akar kata Yunani Satanas yang diterjemahkan menjadi “Iblis” di 34 tempat yang lain di Alkitab. Oleh karena itu, sinonim “Satan” yang terdekat di dalam Bahasa Indonesia adalah “Iblis”.

 

Lucifer dan Beelzebul

Lucifer dan Beelzebul adalah dua nama lain yang disebut di dalam Alkitab yang seringkali dikaitkan dengan Satan.

Nama “Lucifer” di dalam teologi Kristen diidentifikasikan dengan “Putera Fajar” di dalam Yesaya 14:12 yang dikaitkan dengan “pemfitnah” dalam bagian lain di Perjanjian Lama.

Beelzebub adalah nama dewa orang Filistin (lebih tepatnya sejenis Baal, dari kata Ba‘al Zebûb, yang artinya “Dewa Lalat”) dan juga digunakan di Perjanjian Baru sebagai sinonim untuk Satan.

Selain itu, Satan juga digambarkan sebagai ular naga dan banyak lagi. Di dalam kisah Kejadian, Satan diidentifikasikan sebagai ular yang membujuk Hawa untuk memakan Buah Pengetahuan yang Baik dan yang Benar. Wahyu 20:2 menyebut bahwa “si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan”.

Atas dasar riwayatnya yang serba buruk, jelek, menyebalkan, sekaligus menakutkan karena selalu terasa mengancam itu, wajarlah kalau kemudian setiap manusia senantiasa mengekspresikan kebenciannya manakala berhadapan dengan kata setan. (red/wikipedia).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Nyimas Dewi Sekarsari (Parapsikolog): “Saya Merasa Punya Ikatan Batin dengan Ibu Ratu Pantai Selatan…”

LEGENDA Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan, terus bergulir di benak masyarakat (Pulau Jawa) secara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *