Selasa , 18 September 2018
Home / IGS OPINION / Jasa Marga Tidak Tahu Diri
Jasa Marga Tidak Tahu Diri
Kemacetan Tol Jakarta-Cikampek (Foto: Dok. IGS Berita).*

Jasa Marga Tidak Tahu Diri

Oleh YUKIE H. RUSHDIE (Pemimpin Redaksi IGS Berita)

 

APA yang sebetulnya dibayar pengguna jalan tol?

(Pada tulisan ini, saya akan fokus pada Jalan Tol Jakarta-Cikampek-Cipularang sebagai objek pembahasan)

Setidaknya, ada dua layanan primer yang dicari para pengguna jalan tol, sehingga mereka rela merogoh kocek lebih dalam untuk membiayai perjalanannya.

Pertama, kenyamanan. Kedua, waktu.

Mereka ikhlas membayar, karena tol menjanjikan layanan kenyamanan berbunyi “bebas hambatan” (tanpa persimpangan, traffic light, dan seliweran kendaraan roda dua), serta kualitas jalan yang tentunya lebih baik ketimbang jalur non-tol (setidaknya dalam hal ukuran lebar jalan dan jumlah lubang).

Kemudian, mereka pun ikhlas membayar, karena tol menjanjikan “waktu tempuh” yang sangat menggiurkan.

Dengan adanya ketentuan batas kecepatan minimal 60 km/jam, tersirat “janji” dari pengelola Jalan Tol Jakarta-Cikampek-Cipularang untuk memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung (yang berjarak 130 km) menjadi 2 jam 10 menit.

Waktu tempuh itu bisa menjadi jauh lebih singkat lagi bila pengguna jalan tol memanfaatkan ketentuan batas kecepatan maksimal 80-100 km/jam.

Layanan Bodong

Faktanya, dalam dua tahun terakhir ini, tepatnya sejak pertengahan 2016, semua “janji” itu telah berubah menjadi semacam omong kosong yang sungguh memalukan.

Kini, jalur tol Jakarta-Cikampek-Cipularang telah menjadi jalan “sarat hambatan”. Tak ada lagi kenyamanan. Tak ada lagi pemangkasan waktu tempuh.

Proyek pembangunan infrastruktur, yang terbentang dari sekitar km 5 hingga km 52 dan sebaliknya, menghilangkan semua keistimewaan yang dibayar pengguna jalan tol.

Lubang-lubang dan jalan bergelombang menyedot kenyamanan. Perjalanan Jakarta-Bandung dan sebaliknya, yang dijanjikan bisa ditempuh hanya dalam waktu 2 jam 10 menit, tinggal cerita indah tanpa ujud.

Ironisnya, alih-alih memangkas tarif sebagai kompensasi atas hilangnya keistimewaan yang sudah dibeli oleh para pengguna jalan tol, PT Jasa Marga (Persero) —selaku pengelola Jalan Tol Jakarta-Cikampek-Cipularang— malah melakukan “penyesuaian harga” yang bermakna kenaikan tarif.

Wajarlah kalau kemudian para pengguna jalan tol mulai mengutuk PT Jasa Marga (Persero) sebagai sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak profesional, bahkan —lebih tepatnya— tidak tahu diri!

Seorang pengemudi bus trayek Jakarta-Bandung PP, mengomentari kenaikan-kenaikan tarif itu dengan kalimat sinis:

“Sekarang ini, Jasa Marga lagi butuh duit buat bikin spanduk-spanduk ukuran 30 x 2 meter bertuliskan Maaf Kenyamanan Perjalanan Anda Terganggu. Betul-betul tidak tahu malu!”

Betul. Boleh saja Jasa Marga berdalih tidak ada aturan hukum yang mereka injak dengan menaikkan tarif.

Tapi, jangan-jangan mereka lupa. Layanan apa yang akan mereka “jual” kepada konsumennya? Apakah layanan itu masih ada?

Istilah tol sebagai “jalan bebas hambatan” belumlah dicabut. Begitu juga rambu-rambu kecepatan minimal 60 km/jam.

Konsumen berhak atas semua janji layanan yang sudah dibelinya. Secara akumulatif, dalam dua tahun terakhir ini, sudah berapa banyakkah janji layanan bodong yang dijual Jasa Marga kepada pengguna jalan tol Jakarta-Cikampek-Cipularang?

Sepertinya, butuh malaikat untuk menghitung semua itu… (Yukie H. Rushdie, Pemimpin Redaksi IGS Berita).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Menghitung Langkah Juara Bertahan Jerman

Oleh YUKIE H. RUSHDIE   SEPAKAN “pisang” Toni Kroos ke tiang jauh gawang Swedia, di …

Tinggalkan Balasan