Senin , 10 Desember 2018
Home / TEKNOLOGI / Eneng Tita Tosida: “Bukan Mustahil, 20 Tahun Lagi, Ada Teknologi Transfer Manusia dalam Sekejap Mata!”

Eneng Tita Tosida: “Bukan Mustahil, 20 Tahun Lagi, Ada Teknologi Transfer Manusia dalam Sekejap Mata!”

eneng-tita-okeBOGOR (IGS SCIENCE-TECH) – Bukan mustahil, dalam beberapa dekade ke depan, mungkin juga 20 tahun lagi, bakal muncul teknologi “transfer manusia dalam sekejap mata”. Seorang manusia, dengan teknologi itu, bisa berpindah tempat dalam sekejap mata.

Pandangan futuristik tersebut disampaikan staf pengajar bidang studi Ilmu Komputer di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Pakuan Bogor, Eneng Tita Tosida, S. TP., M. Si. (41 tahun), dalam bincang-bincang dengan IGS Science-Tech, Sabtu (19/11), menyikapi pesatnya perkembangan teknologi di zaman ini.

“Zaman sudah semakin maju. Teknologi semakin berkembang. Dulu, di zaman Alexander Graham Bell, hanya suara yang bisa dipindahkan, melalui teknologi telepon. Hari ini, teknologi sudah mampu memindahkan segala data, gambar maupun suara, ke seantero dunia, dalam sekejap mata. Bahkan, dengan Nano Technology, mulai diujicobakan upaya-upaya perpindahan materi. Jadi, bukan mustahil, pada beberapa dekade ke depan, mungkin juga 20 tahun lagi, bakal muncul teknologi untuk men-transfer manusia dari satu ke tempat lain dalam sekejap mata,” kata Eneng Tita, dosen cantik lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

eneng-tita-insertKemungkinan itu, lanjutnya, sangat berpotensi meningkatkan keyakinan umat manusia terhadap fenomena Isra Mikraj, yang di sebagian orang masih menganggapnya sekadar dongeng karena belum mendapatkan pembuktian ilmiahnya.

Seperti diketahui, peristiwa Isra Mikraj merupakan kejadian sangat fenomenal, baik dari sisi agama maupun ilmu pengetahuan, yang tak pelak menyulut perdebatan panjang di beberapa kalangan tertentu.

Seringkali, masyarakat menggabungkan Isra Mikraj menjadi satu peristiwa yang sama. Padahal, sebenarnya, Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa yang berbeda, namun terjadi dalam satu malam yang sama. Dalam Isra, Nabi Muhammad SAW “diberangkatkan” Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu, dalam Mikraj, Nabi Muhammad “dinaikkan” ke langit hingga Sidratul Muntaha, yang merupakan tempat tertinggi.

Dari sisi agama, kejadian tersebut menyiratkan bukti kebesaran Sang Khalik dalam menunjukkan eksistensinya agar manusia bisa percaya. Dari sisi ilmu pengetahuan, peristiwa itu kerap hanya dianggap dongeng pengantar tidur, karena dianggap tidak akan mungkin terjadi.

Bertolak dari kenyataan seperti itu, Eneng Tita Tosida selalu mengingatkan para mahasiswa agar tetap meyakini Allah SWT sebagai Raja Ilmu Pengetahuan yang tak mungkin bisa dikejar, apalagi disejajari, oleh manusia.

“Betul, zaman memang terus melaju. Manusia pun memang harus terus mengikuti perkembangan tersebut, agar tidak menjadi manusia yang selalu tertinggal dalam segala hal. Namun, setinggi apapun ilmu pengetahuan seorang manusia, tetaplah merunduk terhadap kebesaran Allah SWT. Karena, tak semua kreasi-Nya dapat dipecahkan dengan pendekatan sains dan teknologi,” kata Eneng Tita, yang kini mengajar mata kuliah Sistem Penunjang Keputusan, Optimasi, Simulasi.

Ia menggariskan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi wajib dikejar demi menciptakan manfaat bagi sesama manusia, tapi bukan untuk menyaingi kebesaran Allah SWT.

“Maka, saya selalu berpesan kepada setiap mahasiswa untuk memegang tiga hal paling mendasar dalam ilmu hidup, yakni silih asah, silih asih, dan silih asuh. Artinya, bahu membahu mengasah ilmu untuk saling mengasihi dan membimbing,” kata Eneng Tita lagi, mengutip falsafah hidup dalam budaya Sunda. (swd/hmd).*

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Karirpad, Job Portal Karya Anak Bangsa yang Mengurangi Angka Pengangguran di Indonesia

TUA DI JALAN. Bagi para pekerja di kota-kota besar di Indonesia, menghabiskan waktu berjam-jam di …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: