Senin , 10 Desember 2018
Home / IGS OPINION / Dishub Wajib Tahu | Kebohongan Kondektur Bis
Kebohongan
Ilustrasi bis trayek 52 jurusan Tanah Abang - Bekasi Timur (Foto: Wahyunita Risqiyana - IGS Berita).*

Dishub Wajib Tahu | Kebohongan Kondektur Bis

Oleh WAHYUNITA RISQIYANA (Wartawan IGS Berita)

KEBOHONGAN publik itu, ternyata, bukanlah monopoli para elit. Bahkan sejumlah kondektur bis pun, dalam takaran tertentu, melakukan aksi yang menjengkelkan itu.

Saya punya pengalaman kecil soal begitu. Kecil, memang. Tapi, dampaknya cukup signifikan, terutama bagi profesi saya sebagai seorang jurnalis.

Sementara ini, selama melakukan sejumlah liputan di Jakarta, saya tinggal di daerah Komsen, Jati Asih, Kota Bekasi, Jawa Barat. Saya sendiri berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Jumat, 5 Oktober 2018, selepas liputan di daerah Komdak, Jakarta Selatan, saya bermaksud mengejar seorang narasumber lagi yang kebetulan berada di daerah Jati Asih, dekat tempat tinggal sementara saya.

Pada saat itu, merapatlah sebuah bis Mayasari 52 jurusan Tanah Abang – Bekasi Timur. Sejujurnya, saya tidak tahu pasti, apakah trayek bis ini melintas Jati Asih atau tidak.

Maka, demi memastikan, saya bertanya kepada sang kondektur, “Jati Asih, Bang?”

Dia, kondektur itu, menganggukkan kepala, lalu melompat dari tempatnya bergelayut, dan mempersilakan saya masuk.

Bis merangkak perlahan, mencari-cari penumpang.

Di dalam bis, saya mencoba memastikan lagi dengan bertanya kepada sesama penumpang, apakah trayek 52 ini melintas di Jati Asih atau tidak.

“Owh, kalau ke Jati Asih, mestinya 52A, Mbak,” kata penumpang tersebut kepada saya.

Sontak saya bermaksud membatalkan diri dan meninggalkan bis itu. Tapi, terdengar sang kondektur berteriak-teriak ke arah sejumlah calon penumpang yang masih berdiri di pinggir jalan.

“Cepat, cepat… 52A gak ada hari ini!” katanya.

Beberapa penumpang baru terlihat menaiki bis yang saya tumpangi itu. Rupanya, sebagian dari mereka bertujuan sama dengan saya, Jati Asih.

Setelah berjalan sekian lama, dan bis mulai memasuki daerah Jati Bening, tiba-tiba sang kondektur tadi berteriak lagi:

“Ayo, yang Jati Asih turun di sini! Sambung angkot!” katanya, lantang.

Saya terkejut, begitu juga beberapa penumpang lain yang sama-sama bertujuan ke Jati Asih. Tak ada lagi waktu untuk berpikir, karena bis seolah hendak segera melaju lagi. Saya turun bersama beberapa penumpang lain dan berpindah ke sebuah angkot.

Kejengkelan mulai muncul ketika angkot yang kami tumpangi memasuki kawasan Jati Asih. Sejumlah bis 52A tampak melintas. Semuanya normal, membawa penumpang. Tak ada tanda bis-bis 52A berhenti beroperasi pada hari itu.

Kami, para penumpang tujuan Jati Asih yang tadi (terpaksa) menaiki bis 52, tak tahan lagi memendam dongkol.

Secara hitungan rupiah, selisih yang ditimbulkan dari “kebohongan” sang kondektur bis 52 tadi tidaklah signifikan —dalam arti, tidak akan membuat negeri ini jadi bangkrut.

Namun, apapun alasannya, ia tetaplah telah melakukan kebohongan publik untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri.

Saya sendiri mengalami kerugian yang (jauh) lebih besar dari sekadar nilai rupiah. Karena, gara-gara peristiwa itu, janji saya dengan narasumber jadi meleset dan terpaksa dijadwal ulang. Target pun meleset. Berita gagal tayang.

Para penumpang lain yang sama-sama jadi korban kebohongan sang kondektur tadi pun bersungut dengan caranya masing-masing.

Saya hanya membayangkan, bagaimana seandainya di antara penumpang itu ada yang memiliki uang pas-pasan, sehingga tak punya persediaan lagi untuk menyambung perjalanannya ke tujuan dengan alat transportasi lanjutan.

Setidaknya, ada dua modus kebohongan yang dilakukan kondektur itu.

Pertama, terhadap penumpang seperti saya yang belum hapal dengan trayek bis, ia menganggukkan kepala, membenarkan bahwa kendaraan itu melintas di Jati Asih.

Kedua, terhadap para penumpang yang sebetulnya sudah tahu kalau ke Jati Asih itu seharusnya menggunakan bis 52A, ia menyatakan bahwa bis tersebut “hari ini gak ada”.

Ada keyakinan, praktik kebohongan semacam itu tak hanya terjadi sekali. Dan, saya membayangkan, apa kira-kira yang akan dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta terhadap perilaku semacam demikian?

Diamkah? Dengan alasan tidak tahu, atau menganggapnya sebagai hal kecil yang tidak terlalu mengganggu?

Kebohongan besar itu berawal dari kesuksesan kebohongan-kebohongan kecil. Revolusi mental, pembangunan karakter bangsa, sepertinya harus dimulai dari hal-hal kecil.

Kalau tidak, bukan mustahil sang kondektur tadi besok-lusa bakal menciptakan sebuah kebohongan yang melahirkan kegaduhan nasional… *

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Ormas

KPU di Bawah Telunjuk Ormas

Oleh YUKIE H. RUSHDIE (Pemimpin Redaksi IGS Berita) SEBULAN silam, di forum Indonesian Lawyers Club, …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: