Senin , 19 November 2018
Home / INVESTIGASI / Dina (Anggota Komite Sekolah SDN Gunung Batu 1): “Orangtua yang Ngeluh Itu yang Nggak Mau Anaknya Pinter!”
Kondisi "toko buku" di Pasar Gunung Batu, Kota Bogor, yang cenderung lebih mirip "gudang LKS" musiman. (Foto: Fikri Jaka Irmana - IGS Berita).*

Dina (Anggota Komite Sekolah SDN Gunung Batu 1): “Orangtua yang Ngeluh Itu yang Nggak Mau Anaknya Pinter!”

BOGOR (IGS BERITA) – Orangtua murid yang mengeluhkan soal masih digunakannya buku Lembar Kerja Siswa (LKS) buatan pihak ketiga dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SDN Purbasari, SDN Gunung Batu 1, dan SDN Gunung Batu 2, Kota Bogor, adalah mereka yang tidak mau anaknya menjadi pintar.

Pernyataan itu dilontarkan Dina, salah seorang anggota Komite Sekolah SDN Gunung Batu 1 Kota Bogor, menyikapi keluhan sejumlah orangtua murid terhadap penggunaan buku LKS buatan pihak ketiga yang membuat mereka harus mengeluarkan biaya ekstra di setiap tahun ajaran dan semester baru. (Baca: Orangtua Murid SD di Bogor Keluhkan Jual-Beli Buku LKS)

“Orangtua yang ngeluh itu yang nggak mau anaknya pintar! Kalau anaknya mau pintar, ya mesti mau berkorban, dong. Jangan mentang-mentang sekolah gratis, semuanya jadi pengen gratis!” kata Dina dengan nada tinggi, saat ditemui IGS Berita, Rabu (11/1).

Ia mengaku sama sekali tidak tahu kalau ada aturan yang melarang penjualan dan penggunaan buku LKS buatan pihak ketiga di sekolah-sekolah.

Di tempat yang sama, Bendahara Komite Sekolah SDN Gunung Batu 1 Kota Bogor, Nurul Rizawati, menyatakan, pihaknya sama sekali tak tahu apakah ada keuntungan atau tidak dari hasil penjualan dan penggunaan buku-buku LKS buatan pihak ketiga tersebut.

“Masalah ada kelebihan keuntungan atau tidak, kita nggak tahu,” katanya.

Berdasarkan penelusuran IGS Berita, diketahui bahwa para orangtua murid direkomendasikan untuk membeli buku-buku LKS tersebut di sebuah toko yang terletak di Pasar Gunung Batu Lantai 1 Nomor 33, Kota Bogor.

“Ya, selaku Komite Sekolah, kami hanya menginformasikan, kalau mau beli buku ya di sana, di Pasar Gunung Batu, karena itu toko buku yang terdekat,” kata Nurul menjelaskan.

Namun, pada saat IGS Berita mengunjungi “toko buku” yang dimaksud, terdapat pemandangan yang agak janggal. Tempat itu lebih menyerupai “gudang LKS” ketimbang “toko buku”.

Tak ada rak-rak atau etalase sebagaimana layaknya sebuah toko buku. Tak ada juga buku-buku lain di luar LKS. Semuanya bertumpuk dan terikat begitu saja, mirip “gudang” buku LKS saja.

“Tempat yang dipakai jual buku itu (Lantai 1 Nomor 33), biasanya kosong. Cuma disewa bulanan buat jualan buku, pas lagi musim tahun ajaran atau semester baru saja,” kata Udin, petugas kebersihan PD Pasar Pakuan Jaya Gunung Batu, Kota Bogor, kepada IGS Berita.

Terkait isu “jual-beli” buku LKS ini, ada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 (atau kini PP Nomor 66 Tahun 2010) tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Pada Pasal 181 dari peraturan tersebut, ditegaskan bahwa penyelenggara dan tenaga pendidik, baik perorangan maupun kolektif, dilarang menjual buku pelajaran, perlengkapan pelajaran, bahan pelajaran, serta pakaian seragam di tingkat satuan pendidikan.

Kemudian, Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 pun menegaskan tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan.

Dalam peraturan menteri tersebut diatur tentang penghapusan LKS. Buku yang digunakan oleh siswa adalah buku yang dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah.

Disebutkan pula, lembar latihan siswa haruslah berasal dari modul yang dibuat para guru, bukan oleh pihak ketiga.

Menyikapi hal itu, pemerhati masalah pendidikan asal Universitas Padjadjaran Bandung, Barry Pradana, menyimpulkan bahwa para guru di sekolah-sekolah Bogor tersebut rupanya masih memberlakukan penggunaan buku-buku LKS buatan pihak ketiga.

“Hal ini jelas tidak sesuai dengan amanat Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016,” kata Barry Pradana, yang dihubungi IGS Berita melalui sambungan telepon. (fji).*

Sebagian catatan pembelian secara kolektif di “Gudang Dadakan” Buku LKS, Pasar Gunung Batu Lantai 1 Nomor 33, Kota Bogor. (Foto: Fikri Jaka Irmana – IGS Berita).*
Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Rumah Pompa

Rumah Pompa Waduk Bojong | Ini Reaksi Walkot Jakbar

JAKARTA (IGS BERITA) — Walikota Jakarta Barat, Rustam Effendi, terkejut mendengar Rumah Pompa Waduk Bojong, …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: