Minggu , 18 Februari 2018
Home / IGS OPINION / Desember, “Jatuh Tempo”-nya Para Predator

Desember, “Jatuh Tempo”-nya Para Predator

Oleh YUKIE H. RUSHDIE (Pemimpin Redaksi “IGS Berita”)

 

DESEMBER, biasanya antara tanggal 15-20, menjadi “neraka” bagi para pemangsa anggaran, baik yang D (daerah) maupun N (nasional). Kesibukan para predator itu meningkat berlipat-lipat kali. Bukannya untuk menyelesaikan kewajiban, melainkan mencetak dalih, menyusun alasan, atau —bahkan, kalau dipandang perlu— merancang pelarian diri.

Memang, di bulan itu, ada kewajiban “tutup buku”. Bukan cuma di kalangan pengguna uang orang. Bahkan di tingkat rumah tangga pun, dalam dialog suami versus istri, pembicaraannya mulai mengarah pada evaluasi tahunan: meroket, merayap, jalan di tempat, mundur selangkah, atau anjlok.

Di barisan para predator, “neraka Desember” itu tak hanya berlaku bagi pertanggungjawaban kerja tahunan. Tapi juga bagi kerjaan yang berjalan bertahun-tahun (multiyears). Pasalnya, ada target yang tetap harus dipenuhi dari setiap tahun yang dilewatinya.

Dengan kata lain, secara umum, Desember kerap disebut sebagai masa-masa kegelisahan di tengah kegembiraan. Hening dalam keriuhan. Sepi dalam keramaian. Badan berdansa menyambut libur panjang Natal dan Tahun Baru, sementara pikiran tetap tertanam dalam perhitungan utang piutang dan kewajiban-kewajiban yang tak tertuntaskan.

Meski begitu, seperti biasanya, fenomena itu segera (dianggap) selesai begitu kata Desember berganti menjadi Januari.

Semua predator memasuki kesibukan yang lain. Kasak kusuk, lobi kiri-kanan, seolah menjadi manusia super tanpa dosa yang siap menyelamatkan negara lewat berbagai cara. Matahari baru seakan melumerkan mendung Desember yang membungkus badan mereka.

Pada situasi itu, mereka tak lagi menganggap anggaran sebagai beban tahunan yang kelak harus dipertanggungjawaban, sebagaimana yang mereka rasakan di bulan Desember tadi. Mereka kompak menganggapnya sebagai santapan yang perlu dimangsa.

Segala teknik, termasuk janji untuk jujur, setia, dan bersikap maksimal, mereka canangkan di dalam hatinya masing-masing, baik di arena tender pengadaan maupun lelang jabatan. Mereka selalu punya doa seragam, “Tahun ini, saya akan bekerja lebih jujur, setia, dan maksimal, agar tidak mengalami lagi mimpi buruk seperti di Desember kemarin!”

Begitu target tercapai, anggaran dan jabatan sudah definitif ada di tangannya, baik melalui penandatanganan kontrak kerja maupun peneriakan sumpah jabatan, mereka memasuki tahap kesibukan berikutnya: mengoleksi modal dari sana sini, karena —dalil sucinya— “Uang yang sudah ada di dapur tidak boleh ditaburkan lagi ke jalanan!”

Modal pun terkumpul. Karena sudah berhitung takkan mungkin rugi, sebagian modal ditabur untuk pesta keberhasilan.

Waktu berjalan. Jadwal permainan sudah berputar. Argo mulai berdetak. Tapi, rasa malas untuk melaksanakan pekerjaan yang sebagian keuntungannya telah tersiram ke sana ke mari pun tiba-tiba saja menyeruak.

Maka, dibuatlah “strategi” untuk memperlambat proses pekerjaan. Berbagai alasan ketidaksempurnaan dari perencanaan (yang semula sudah dianggap perfect), mulai membanjir di mana-mana, demi melegitimasi penundaan atau penurunan ritme kerja.

Makin lama, perhitungan pun kian tak ekonomis lagi. Keuntungan menjadi tak sebesar yang diperhitungkan. Mereka lupa, keuntungan itu sudah berceceran di tengah jalan, selama masa pesta keberhasilan tadi.

Ujung-ujungnya, doa untuk jujur, setia, dan maksimal —secara perlahan tapi pasti— lenyap dari hatinya masing-masing. Yang muncul adalah akal bulus, curi sana curi sini, kecoh sana kecoh sini, agar pekerjaan “terlihat” selesai dan sempurna, dengan keuntungan yang terpulihkan.

Memasuki masa pemeriksaan, muncul modal baru. Namanya, ongkos koordinasi. Pekerjaan selamat, keuntungan terpangkas. Keuntungan selamat, bobot pekerjaan yang terpangkas. Dilematis, memang.

Tibalah kembali di bulan Desember. Ada dua hal yang jadi pemikiran: keuntungan dan waktu. Maka, mulailah dibuat permainan lain. Pilihannya dua: ditambah waktu, atau ditambah anggaran. Pada titik ini, istilah CCO (tambah-kurang pekerjaan) dan addendum (perubahan isi kontrak) menjadi sangat populer.

Karena Desember sudah kembali datang, maka rutinitas kegelisahan pun muncul lagi. Fenomena tahunan tetap tak bergeser. Tetap tak sesuai dengan “doa” awal tahunnya.

Namun, begitulah dialektika khasnya. Dan, dialektika semacam itu jualah yang membuat lembaga-lembaga anti-rasuah seperti KPK selalu tampak sibuk di negeri ini.

Saya justru akan sangat terkejut bila dialektika semacam begitu ternyata sudah tidak ada di Indonesia. Karena, jangan-jangan, kita sudah mulai tercerabut dari akar “budaya”-nya…*

About Yukie Rushdie

Check Also

Terancam Proyek JUFMP-6, Sekitar 10 KK di Kelurahan Pulogadung (Jakarta Timur) Tinggalkan Rumah

JAKARTA (IGS BERITA) — Merasa jiwanya terancam, sekitar 10 KK (Kepala Keluarga) memutuskan meninggalkan rumahnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *