Kamis , 13 Desember 2018
Home / IGS ANIMALS / Defal ‘Flowerhorn’ Wiryadikrama: Yang Muda Yang Berkarya

Defal ‘Flowerhorn’ Wiryadikrama: Yang Muda Yang Berkarya

lou-han-okeYANG muda, yang berkarya. Sepertinya, hal tersebut memang harus terus digaungkan. Pasalnya, setiap usaha, bisnis, apapun bentuknya, haruslah dirancang sejak usia dini.

Begitulah ungkapan Defal Flowerhorn Wiryadikrama (19 tahun), mahasiswa Universitas Binadarma Plaju, Sumatera Selatan, yang mengaku membuat usaha peternakan rumahan atau farmhouse gara-gara hobi memelihara ikan.

lou-han-1“Dulu, saya berternak ikan cupang. Sekarang, saya lebih memilih ikan Lou Han atau Flowerhorn, karena ada keasyikan dan tantangan tersendiri dalam membudidayakannya. Ikan-ikan Lou Han saya sudah banyak yang berterbangan ke luar negeri, seperti ke Barbados dan Malaysia. Di pasar dalam negeri, saya mengirim ke Semarang, Makassar, dan Jakarta. Yah, lumayanlah, sebulan bisa dapat untung antara Rp 3-5 juta. Buat nambah-nambah biaya kuliah,” kata Defal, pemilik Silentnight Farm House, saat dihubungi IGS Animals lewat sambungan telepon, Rabu (30/11).

Lou Han, yang dalam Bahasa Inggris disebut Flowerhorn, merupakan varian ikan hias air tawar yang cukup banyak penggemarnya. Selain bentuk dan warnanya yang mempesona, sebagian orang meyakininya sebagai ikan pembawa keberuntungan, kebahagiaan, dan pembuka pintu rejeki bagi yang memeliharanya.

lou-han-2Memang, ikan jenis ini boleh dibilang agak manja, gampang stres, dan moody. Sehingga, siapapun yang ingin membiakkannya, harus paham betul teknik-tekniknya.

Sebut saja, misalnya, dalam proses perkawinannya. Bila tidak mendapatkan pasangan yang cocok, ikan ini justru akan berkelahi dengan calonnya. Sebaliknya, bila merasa cocok, sang betina akan bertelur, dan si jantan akan menjaga telur-telur tersebut. Kira-kira 12 jam kemudian, barulah telur-telur tersebut dipindahkan ke air yang jernih untuk menunggu proses penetasannya. Cukup unik bukan?

lou-han-4“Saat ini, saya hanya mengembangkan tiga jenis ikan Lou Han, yaitu Kamfa, Cencu, dan Super Red Magma. Kalau pasar sih kebanyakan mintanya Super Red Magma dan Cencu, sementara Kamfa biasanya untuk konsumsi para pemain kontes. Harganya sendiri berkisar antara Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta, tergantung kualitas,” kata Defal, yang juga sering mengikuti berbagai event Kontes Lou Han.

Sebelum menutup pembicaraan, Defal berharap para “pemain” ikan Lou Han bisa saling menjaga, dan terus berkreasi memajukan bisnis ini dengan cara-cara yang positif.

Maju terus, Defal. Salam dahsyat dari IGS Animals(swd).*

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Adi ‘Betta Sp’ Putra: Mendulang Dolar via Cupang

“CUPANG”, atau “kecupan merangsang”, memang bisa bikin kulit memerah saga, lalu menggelap bak memar. Tapi, …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: