Kamis , 18 Oktober 2018
Home / IGS STORY / Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 09)
Mandi di Sungai
Cerber "Cincin Cinta Miss Titin" karya Hermawan Aksan (Foto: Grafis - IGS Berita).*

Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 09)

Ringkasan episode sebelumnya: Bab 1 (Dayang Sumbi Mandi di Kali) dan Bab 2 (Akulah Dayang Sumbi) menjadi perkenalan yang memikat bagi pembaca terhadap tokoh utama. Memasuki Bab 3 (Perempuan dalam Impian) ini, cerita akan mulai bergerak melalui tokoh aku lelaki yang mengaku bernama Asep. (red).*

 

 

3. Perempuan dalam Impian

 

NAMAKU Asep.

Ini nama panggilan kesayangan orang tuaku. Nama asliku sendiri cukup panjang, dan biarlah tak perlu kuberitahukan. Aku yakin Asep berasal dari kata Sunda kasep, yang artinya tampan. Dari kata kasep itu bisa muncul juga variasi nama Acep, Atep, Encep, dan Cecep. Dan pada masyarakat Sunda baheula, tidak sembarang orang mendapat nama Asep, Cecep, dan lain-lain itu. Hanya golongan menak, golongan bangsawan Sunda, yang memiliki nama hebat ini. Boleh jadi karena dianggap hanya orang-orang menaklah yang bisa mempunyai anak-anak tampan. Tentu saja, secara posisi, pada stratifikasi golongan menak, Asep berada di bawah Deden atau Aden, yang berasal dari kata Raden. Tapi toh sama-sama menak. Jadi, nama-nama yang kini mungkin terkesan kampungan itu sebenarnya memiliki posisi dan arti yang bagus. Mengapa nama yang bagus itu harus tersisih oleh Roy, William, atau bahkan Leonardo?

Akan halnya aku sendiri, aku tidak tahu apakah aku memiliki sisa darah menak. Mungkin orang tuaku, atau kakekku, atau buyutku. Kisah yang turun-temurun tertuturkan menyatakan bahwa nenek moyang keluarga kami berasal dari daerah Karawang, Jawa Barat, dan konon merupakan sisa-sisa laskar Pangeran Diponegoro. Tapi itu tentu saja terlalu jauh kaitannya dan aku tidak peduli apakah aku masih keturunan bangsawan atau bukan. Karena memang tak ada bedanya.

Hanya saja, setidaknya menurut orang tua dan saudara-saudaraku, aku memang anak yang tampan. Setidaknya, yaaa, untuk ukuran kampung. Jadi, tak terlalu salah kalau aku punya nama Asep. Namun fakta bahwa aku tampan bisa diukur setidaknya, ada beberapa teman baik di desaku maupun di sekolah yang naksir aku: kirim salam, mentraktir jajan, atau mencuri pandang dari jauh—kalau semua itu berarti naksir.

Aku bukan dari keluarga kaya, bahkan untuk tingkat desa. Rumah kami biasa-biasa saja, baik ukuran maupun modelnya. Hanya separuh ke bawah dari tembok dan separuh lagi dinding bambu. Ayah bilang tak mau seluruhnya tembok karena konstruksi demikian, dengan balok-balok kayu sebagai penopang, lebih tahan terhadap gempa. (Desa kami termasuk sering terkena gempa. Salah satunya terjadi pada awal 1970-an, yang merobohkan banyak rumah dan menewaskan sejumlah orang. Peristiwa gempa itu pernah masuk dalam buku pelajaran Ilmu Bumi dan Antariksa untuk SMP—satu-satunya kebanggaan kami: nama desa kami tercatat di buku dan dibaca ribuan, atau ratusan ribu, pelajar SMP.)

Ayah dan ibuku menerima jahitan sambil membuka warung kecil-kecilan—menjual kebutuhan sehari-hari: beras, kerupuk, minyak goreng, dan lain-lain. Mereka sama-sama hanya lulusan sekolah rakyat. Meskipun demikian, ayahku satu di antara beberapa gelintir orang desa yang berlangganan surat kabar—meskipun tidak datang setiap hari. Bahkan mungkin satu-satunya orang di desa kami yang senang mendengarkan siaran berita dari stasiun BBC meskipun suara dari radio besar buatan tahun 1950-an itu selalu bergemeresak menyakiti telinga. Sore hari, ayahku akan membaca habis koran hari itu, dan tak lama kemudian akan datang uwakku, seorang kepala sekolah dasar di desa kami, untuk berbincang mengenai berita-berita daerah, nasional, hingga dunia.

Bersambung…

About igsberita.com

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan