Kamis , 13 Desember 2018
Home / IGS STORY / Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 028)
Mandi di Sungai
Cerber "Cincin Cinta Miss Titin" karya Hermawan Aksan (Foto: Grafis - IGS Berita).*

Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 028)

Ringkasan episode sebelumnya: Sebagai seorang sripanggung, selama ini Titin sering menerima bingkisan dari mereka yang mengaku sebagai penggemar. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda. Karena itu, yang paling banyak ia terima adalah surat. Namun baru kali itulah Titin menerima sebuah lukisan, dan lukisan itu membuatnya tergetar. Padahal sebenarnya, dari segi pewarnaan, lukisan itu sederhana saja. Tapi entah mengapa Titin merasakan garis-garisnya lembut dan seakan-akan keluar dari dalam hati sanubari yang… sedang kasmaran! “Terima kasih, ya. Lukisan itu bagus sekali. Lukisan itu Entin pasang di dinding kamar.” Entin, ah ya, Miss Titin, melangkah anggun menapaki undakan menuju rumah yang selama ini ditempatinya. Asep hanya bisa memandangnya. Asep menyesal karena ia sama sekali tidak mengatakan apa pun. (red).*

 

14. Dia Sangkuriang, Anakku…

DAYANG Sumbi memang menjadi peran yang paling kusukai. Aku bisa benar-benar masuk ke dalam sosok dan pikirannya.

Aku sudah cerita, kan?

Ketika aku sudah masuk ke sosok Dayang Sumbi, rasanya seperti aku sedang jatuh cinta. Mungkin begitu jatuh cintanya, bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun aku kadangkala merasa diri sebagai Dayang Sumbi.

Namun ada peran tokoh lain yang juga sangat kusukai. Dia tak lain dari Citraresmi, putri Kerajaan Sunda yang paling legendaris yang juga terkenal dengan nama Dyah Pitaloka. Seperti ketika menjadi Dayang Sumbi, ketika menjadi Citraresmi pun aku bisa masuk secara total menjadi putri Galuh itu.

Bedanya, setelah tak lagi di panggung, sosok Citraresmi itu tak lagi melekat.

Aku melihat Citraresmi adalah sosok penuh inspirasi bagi wanita Sunda, dan mungkin wanita pada umumnya. Dia seorang wanita yang memegang keyakinan kuat akan harga diri dan martabat wanita bangsanya.

Dayang Sumbi bisa juga mewakili martabat wanita, yang tak mau menyalahi takdir dan kodratnya sebagai seorang ibu, tapi Citraresmi lebih menukik lagi, yakni martabat wanita Sunda.

Tapi tunggu, jangan salah menafsirkan. Bukan berarti dia mewakili martabat Sunda melawan kekuatan lain, Jawa, yang lebih besar. Tapi dia melawan kesewenang-wenangan, dari mana pun datangnya. Bukankah kesewenang-wenangan bisa muncul dari bangsa apa saja?

Nah, tiap kali memerankan diri sebagai Citraresmi, aku bisa merasakan betapa bahagianya diri ini akan bersanding di pelaminan menjadi seorang permaisuri raja terbesar di Nusantara. Putri siapa yang tidak mendambakan menjadi pendamping seorang raja yang terkenal akan ketampanan dan kebijaksanaannya?

Karena itu, perjalanan panjang menuju Majapahit bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan kureguk di sana.

Namun aku juga bisa merasakan betapa pedihnya hati seorang wanita yang dianggap tak lebih dari sesembahan, apalagi sesembahan dari sebuah negeri bawahan. Bukankah Negeri Sunda tak pernah berada di bawah kekuasaan Majapahit? Karena itu, aku bisa merasakan dan memahami keputusan Citraresmi, yang lebih baik memutus nyawa sendiri daripada dipersembahkan sebagai sebuah upeti.

Entah sudah berapa kali aku memerankan Citraresmi dalam lakon Perang Bubat, tapi selalu saja aku mencucurkan air mata, menangis benar-benar, ketika aku kucabut patrem —tusuk sanggul yang juga bisa berfungsi sebagai sebuah senjata— lalu kulesakkan ke ulu hatiku sendiri.

 

Deuedeuh teuing, Citraresmi

Putri Sunda anu wangi…

 

Selalu butuh beberapa lama bagiku untuk keluar dari sosok Citraresmi dan kemudian menjadi diriku sendiri.

Malam itu, seraya meredakan kesedihan yang masih tersisa dari peranku sebagai Citraresmi, aku lebih dulu berbincang dengan beberapa pemain lain di belakang panggung, sambil menunggu halaman pertunjukan itu sepi dari penonton.

Ketika aku pulang, di dekat pintu keluar, aku terkejut melihat anak muda itu.

Sedang apa ia di sana? Semua penonton sudah pulang. Tinggal dia sendirian.

Dia tampak terkejut ketika kusapa. Aku tersenyum seraya menanyakan apakah benar dia yang memberikan lukisan itu. Dia mengangguk tanpa kata. Aku kemudian mengucapkan terima kasih atas pemberiannya.

Ya, dia memang tampan, setidaknya memenuhi khayalanku mengenai lelaki idaman. Dia juga memiliki tubuh yang tinggi dan atletis, jenis tubuh yang terbentuk karena senang berolahraga. Aku sedikit menengadah ketika menatap matanya.

Namun jelas dia masih sangat muda.

Tatapannya yang malu-malu sesungguhnya menyentuh hatiku. Namun aku menekannya dengan perasaan bahwa dia adalah… Sangkuriang.

Ya, aku Dayang Sumbi dan dia Sangkuriang!

Sungguh takdir yang tidak adil!

Ketika aku melangkah pulang, menyeberang jalan, dan masuk halaman rumah yang kutempati, ingin aku menoleh dan memberikan senyum kepadanya. Namun sampai masuk rumah, pandanganku tetap tertunduk ke depan.

Sesuatu membuatku berjuang untuk tidak menoleh. Benar, dia bukanlah Hayam Wuruk untuk Citraresmi, atau Guru Minda untuk Purbasari.

Dia adalah Sangkuriang, dan Sangkuriang bukanlah lelaki yang berhak bersanding dengan Dayang Sumbi.

Ah, Sangkuriang, anakku…

 

15. Sepasang Mata di Keremangan

SALAH satu kisah yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat adalah lakon Si Manis Jembatan Ancol. Kabarnya lakon ini menjadi salah satu andalan yang membuat sandiwara Sunda “Miss Tjitjih” menarik banyak penonton. Bukan kebetulan pasti kalau kisah horor ini dipentaskan malam Jumat.

(Kisah seram lain yang juga tak kalah menghebohkan, dan sudah dipentaskan lebih dulu, adalah Kuntilanak Waru Doyong, yang juga selalu menarik banyak pengunjung. Kisah ini cukup populer di kalangan masyarakat Sunda, yang bertutur tentang seorang wanita yang meninggal ketika hamil. Setelah meninggal, arwahnya penasaran dan muncul dalam bentuk hantu bergaun putih, berambut panjang, dan berwajah putih dengan mata dikelilingi warna hitam, yang meneror warga karena telah menyebabkannya meninggal. Sang kuntilanak senang bersemayam di pohon waru yang tumbuh miring ke samping sehingga disebut waru doyong. Seting dan blok panggung yang mencekam serta adegan yang menyeramkan membuat penonton dilanda ketegangan —yang terungkap antara lain melalui jerit ketakutan.)

Seting panggung Si Manis ini memang menarik. Di layar latar belakang tergambar langit malam tanpa awan dan bulan purnama yang memberikan suasana mencekam. Cahaya biru dan efek asap tipis menambah suasana angker seting daerah Ancol di tahun 1920-an.

Di sudut kiri berdiri sebuah jembatan kuno dengan dua lampu minyak remang-remang di ujungnya. Cahaya lampu minyak dan daun-daun pepohonan yang diatur di atas panggung bergerak-gerak ditiup angin buatan. Efek suara jangkrik dan lolongan anjing yang menyayat di malam yang temaram, berikut suara air mengalir, menambah suasana mencekam.

Lakon Si Manis Jembatan Ancol bukanlah cerita asing di kalangan masyarakat Betawi. Cerita ini berlatar belakang tahun 1920-an, saat Batavia, nama Jakarta saat itu, dihuni oleh bermacam-macam kelas masyarakat, yang diciptakan oleh kolonialisme Belanda.

Dalam lakon ini tersebutlah Mariam, kembang Desa Jombang. Ia menjalin cinta dengan Mamat, anak seorang kompeni. Hanya saja, percintaan ini tak disetujui si Mami, ibu Mamat yang sombong dan galak. Ia tak setuju anaknya bercinta dengan anak pribumi yang miskin. Nyai Belanda ini memarahi dan menghina Mariam.

Keseluruhan kisah berisi duka nestapa Mariam, yang suka terduduk dan menangis di pinggir jembatan. Beberapa lelaki datang padanya, termasuk Usin, pedagang rujak yang usil. Atau juga Juragan Dul yang, meski sudah tua, genitnya setengah mati.

Tersebutlah di Jembatan Ancol ada jin penunggu, yang juga tertarik pada kecantikan Mariam. Jin ini meniru wujud Usin dan menarik Mariam masuk ke sungai. Gadis manis kembang Desa Jombang dan Ancol itu menjadi istri siluman Jembatan Ancol. Panggilannya, Si Manis Jembatan Ancol.

Adegan demi adegan pementasan ini membuat penonton menjerit-jerit. Panggung seperti hendak rubuh oleh teriakan penonton. Namun sebagian penonton menarik manfaat dari situasi itu. Banyak perempuan yang memeluk orang di dekat mereka, terutama tentu pacar masing-masing. Entah spontan karena ketakutan, entah sengaja memanfaatkan kesempatan.

Di panggung, dalam salah satu adegan, si Beo tampak tunggang langgang. Lututnya lemas, giginya gemeretak. Begitu ketakutannya, sampai ia tak sanggup berlari. Berdiri pun ia tak mampu. Matanya mendelik melihat tubuh Mariam, mantan kekasih tuannya, terangkat ke udara.

“Astagfirullah, Neng… Neng Mariam… kenapa jadi begini…,” ucap si Beo tergagap.

Mariam telah menjadi hantu penghuni Jembatan Ancol. Ia mengenakan kebaya bordir putih berenda. Kainnya batik sutra merah dengan dasar hitam. Berlawanan dengan pakaiannya yang rapi, wajahnya pucat dengan lingkaran hitam di mata. Bibirnya kebiruan dan rambutnya acak-acakan menutupi sebagian wajah.

Di tengah penonton yang tampaknya sangat menyukai lakon ini, mungkin malam itu juga hanya aku yang kecewa oleh pementasan Si Manis Jembatan Ancol. Bukan kecewa karena aku tak bisa memanfaatkan situasi gelap dan mencekam lakon itu. Seperti dalam lakon Ciung Wanara, kali ini aku juga kecewa karena Miss Titin tidak tampil sepanjang pergelaran. Dia hanya muncul di bagian awal, yakni sebagai Mariam yang cantik. Setelah menjadi hantu, pemerannya adalah orang lain.

Aku menonton sisa pergelaran itu dengan hati yang kosong.

Namun tiba-tiba, ketika berlangsung jeda pergantian adegan, aku merasa seperti melihat sepasang mata menatapku, di tepi panggung. Cahaya hanya remang-remang dan aku tidak bisa memastikan melalui tatapanku. Tapi aneh, aku merasa bahwa sepasang mata itu adalah sepasang mata Miss Titin.

Ingin aku lebih menegaskan bahwa ada sepasang mata indah yang menatapku. Namun beberapa saat perhatianku terganggu oleh adegan di panggung. Dan ketika aku memandang kembali ke sepasang mata di keremangan tadi, sepasang mata itu sudah tak ada.

Beberapa jenak hatiku benar-benar hampa. Rasanya seperti mendamba kupu-kupu dan kupu-kupu itu melintas di depan mata, tapi tanganku kurang cepat menangkapnya dan kupu-kupu itu lenyap di kegelapan.

Ingin aku menyelinap ke tepi panggung, atau bahkan ke belakang panggung. Namun sungguh, aku tak pernah punya keberanian yang cukup.

Besoknya, kehampaan itu terobati dengan cara yang aneh. Dadang menemuiku dengan senyum terkulum. Sebenarnya, bentuk mulut Dadang selalu membuatnya tampak seperti terus-menerus mengulum senyum. Namun kali itu kulumannya berbeda dari biasanya. Setidaknya karena ia tidak memperlihatkan seringainya yang menyeramkan.

“Miss Titin menanyakan namamu,” bisiknya.

Aku membelalak.

“Benarkah?”

“Iya. Cintamu tidak bertepuk sebelah tangan.”

Aku memukulnya. “Cinta apaan?” Rasanya mukaku menjadi hangat.

“Sudahlah, ngaku aja. Aku dukung deh.”

“Dia bilang apa lagi?”

“He-he, penasaran ya?”

Aku meninjunya dan ia berkelit.

“Salam katanya.”

“Begitu?”

“Sumpah. Aku sampaikan salam lagi, ya?”

“Hey, jangan!”

Namun Dadang, seperti biasa, sudah keburu lari.

Kalau saja dadaku terbuat dari balon karet, pasti sudah meletus karena udara bahagia yang dipompa dari paru-paruku.

Bersambung…

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: