Senin , 19 November 2018
Home / IGS STORY / Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 020)
Mandi di Sungai
Cerber "Cincin Cinta Miss Titin" karya Hermawan Aksan (Foto: Grafis - IGS Berita).*

Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 020)

Ringkasan episode sebelumnya: Ingin rasanya aku menjadi orang sakti dan menonjok mulut si pemeran lelaki tampan itu dan mengutuknya untuk menjadi lutung kasarung selamanya. Tak perlu waktu lama bagiku untuk tahu siapa nama bintang pujaanku. Dialah Miss Titin, yang selalu jadi buah bibir masyarakat desa kami. Aku tak tahu nama aslinya, atau nama lengkapnya, dan kenapa namanya memakai “Miss”. Yang pasti, namanya itulah yang dipakai sebagai nama rombongan sandiwara tersebut. Belakangan aku menduga bahwa pemakaian kata “Miss” di depan nama Titin semata-mata meniru kelompok sandiwara Sunda yang sangat tersohor di Jakarta, yaitu “Miss Tjitjih”. (red).*

 

SEJARAH panjang Miss Tjitjih tercatat berawal dari kelompok sandiwara Opera Valencia yang bermain keliling dan kerap membawakan cerita kerajaan. Sampai kemudian Tjitjih, seorang primadona, yang terkenal karena kepandaiannya menari, berakting, dan menyanyi, bergabung. Saking tenarnya, orang-orang Belanda saat itu memanggilnya Miss Tjitjih dan keluarga Sayyid Abubakar Bafagih, pemilik Opera Valencia, berani mengubah nama kelompoknya menjadi tonil Miss Tjitjih.

Mengenai Miss Tjitjih aku pernah membaca, grup sandiwara ini sempat bermarkas di Kramat Raya, Jembatan Lima, dan di Cempaka Baru, tempat mereka manggung setiap hari sampai kemudian gedung pertunjukan mereka terbakar tahun 1997. Mereka sempat terpaksa keluar-masuk kampung lagi. Seorang pria pemilik bioskop di daerah di Teluk Gong lalu berbaik hati menyediakan salah satu bioskopnya yang sudah tidak terpakai untuk digunakan kelompok Miss Tjitjih tampil setiap malam Minggu.

Ketika itu, di saat-saat mengenaskan sekalipun, pertunjukan mereka selalu ditunggu dan dicari. Maman “Esex” Sutarman, yang pernah menjadi sutradara kelompok tersebut, menuturkan saat kelompok Miss Tjitjih manggung di Cilodong setelah terjadi kebakaran. Mereka malam itu membawakan sebuah cerita kerajaan. Hujan deras yang turun tiba-tiba membuat pertunjukan di tanah lapang itu tertunda. Para pemain yang merias diri di rumah tetua kampung, yang jaraknya cukup jauh dari lokasi panggung, pun terpaksa berjalan kaki di gang becek sehingga mereka naik panggung dengan kaki berlumuran tanah merah. Meski demikian, ada saja penonton yang rela menunggu pertunjukan tersebut.

Mungkin akan terjadi hal yang sama jika pertunjukan Miss Titin berlangsung saat musim hujan. Halaman sekolahan akan becek dan bahkan bisa saja pertunjukan terhenti—kalaupun berlanjut, tentu para pemain dan penontonnya basah kuyup.

***

DARI cerita sana-sini, aku menjadi tahu bahwa perempuan itu, bintang sandiwara Sunda itu, masih gadis. Pantas lah. Di panggung pun, dia selalu menjelma menjadi putri yang masih muda. Bukahkah Dyah Pitaloka baru berumur 18 tahun ketika bersama rombongan Maharaja Linggabuana pergi ke Majapahit dan terjadi salah paham yang memicu terjadinya Perang Bubat? Bukankah Purbasari adalah putri bungsu dari tujuh bersaudara putri raja Pasirbatang, yang semuanya sama-sama masih lajang? Dan bukankah Dayang Sumbi adalah perempuan yang dikaruniai kecantikan abadi sehingga selalu tampak seperti remaja? Kemudian aku juga tahu bahwa dia ternyata anak pemimpin rombongan sandiwara itu. Aku tak tahu nama si pemimpin itu, dan rasanya tak penting untuk tahu, seorang lelaki bertubuh gemuk.

Sungguh, mengetahui bahwa dia masih gadis, terasa dadaku menjadi sedikit lebih lapang. Akan berbeda halnya jika dia sudah bersuami dan, lebih-lebih, memiliki anak. Saat itu aku belum bisa merumuskan mengapa aku merasa lega. Sebab, meskipun masih gadis, sangat mungkin wanita seumur dia sudah memiliki kekasih, lebih tepat lagi calon suami. Ternyata kemudian aku menjadi kecewa ketika mendengar kabar bahwa di luar panggung dia akrab dengan lelaki yang selalu memerankan tokoh ksatria tampan—Sangkuriang, Guru Minda, atau siapa saja. Lagi-lagi aku tidak bisa merumuskan apa sebabnya aku kecewa. Aku toh tak mungkin menjadi kekasih atau apalah namanya. Aku hanyalah bocah lelaki kelas satu SMA yang baru bisa berangan-angan, sedangkan dia perempuan matang yang dipuja banyak orang.

Lebih sebulan grup sandiwara Miss Titin mengadakan pertunjukan di desa kami. Hampir tiap malam, dengan cerita yang hampir tak pernah sama—kecuali kalau ada permintaan khusus untuk mengulang lakon, misalnya karena pertunjukan malam pertama penonton membeludak, seperti yang terjadi pada Sangkuriang Kabeurangan.

Karena memang panggungnya terletak kira-kira di tengah desa, dan para bintang Sandiwara itu tinggal tersebar di beberapa rumah penduduk sekitar panggung, mereka dalam kehi­dupan sehari-hari berbaur dengan pendu­duk desa.

Miss Titin dan orang tuanya tinggal di rumah Pak Jaja, rumah yang tergolong bagus di desa kami, di seberang SDN 1. Namun berbeda dengan para pemain lain yang kerap kulihat di siang hari, Miss Titin tampaknya jarang keluar rumah.

***

MALAM itu, aku tak menghitung lagi malam keberapa, gambar poster di dekat pintu masuk bukan lagi gambar malam sebelumnya, tapi sudah berganti dengan gambar perempuan jelita—dengan wajah yang sangat mirip seperti sebelumnya—di sebelah seekor kera hitam. Di bagian bawah terpampang tulisan Lutung Kasarung[1].

Ini juga lakon yang sangat digemari oleh masyarakat. Selain ceritanya sudah akrab bagi masyarakat kami, lakon ini juga mengandung aroma mistis. Aku ingat, di sekeliling panggung bergantungan bermacam-macam pelengkap sesajen, seperti ikatan padi, bawang merah, bawang putih, tomat, dedaunan, dan lain-lain. Suasana panggung seperti itu mengingatkanku pada acara ngaruwat, pertunjukan wayang golek dengan lakon khusus Batara Kala. Aku merasakan suasana khidmat dan khusyuk, kadang mencekam, pada acara ngaruwat yang pernah kusaksikan saat salah satu kerabat kami menikahkan anak perempuan tunggalnya.

Suasana yang khidmat dan mencekam kurasakan pula pada pertunjukan Lutung Kasarung itu. Konon, kalau doanya kurang atau sesajennya tidak lengkap, apalagi tidak ada sama sekali, pertunjukan bisa gagal, misalnya panggung ambruk, turun hujan lebat, atau timbul gempa. Aku juga mendengar orang membicarakan, kalau sesajennya tidak lengkap, bisa saja akan muncul lutung yang sebenarnya, dari arah Candi Arya Penangsang, sekitar satu kilometer arah barat laut desa kami.

O ya, mengenai candi ini, yang kumaksud bukanlah berupa susunan batu-batu seperti umumnya candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, melainkan satu kawasan hutan lebat yang di tengahnya terdapat kuburan keramat yang dipercaya oleh masyarakat kami sebagai kuburan Arya Penangsang—atau salah satu pengikutnya. Mungkin lebih tepat disebut petilasan. Dalam kaitan dengan budaya Sunda, bisa saja tempat ini termasuk kabuyutan, sebuah lahan keramat yang mungkin saja dulunya berkaitan dengan kegiatan religius. Namun warga kampung kami sudah turun-temurun menyebutnya candi. Candi Astana Luhur. Di sini, astana berarti makam, luhur berarti tinggi. Jadi, makam yang terletak di bukit yang tinggi.

Namun apa hubungannya lutung, apalagi lutung kasarung, dengan Astana Luhur, entahlah.

Bersambung…

[1] Lutung yang tersesat

Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: