Sabtu , 23 Juni 2018
Home / IGS STORY / Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 02)
Miss Titin
Cerita Bersambung "Cincin Cinta Miss Titin" karya Hermawan Aksan (Foto: Grafis - IGS Berita).*

Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 02)

Ringkasan episode sebelumnya: Tokoh aku di cerita ini mengisahkan pengalamannya yang tak terlupakan saat melihat seseorang yang tak pernah ia duga sepanjang hidupnya. Ya, ia melihat Dayang Sumbi mandi tanpa busana. Di matanya, Dayang Sumbi adalah simbol kesempurnaan seorang wanita, yang sebelumnya hanya ia ketahui lewat buku-buku cerita. (red).*

 

BEGITULAH, kalau sudah menghadapi buku-buku cerita, lupalah aku segalanya. Salah satu judul buku itu, Legenda Tangkubanparahu, entah siapa pengarangnya, lupa, lebih dari tiga kali kubaca. Dan kalau sedang membaca buku itu, aku merasa menjelma menjadi lelaki tampan bernama Sangkuriang. Terbayang indahnya duduk berdua dengan Dayang Sumbi si jelita. Di tepi telaga, duduk bersisian di bawah rindangnya pohon kiara, dikelilingi bunga-bunga cempaka dan angsoka yang harumnya menyebar ke mana-mana. Oh. Senyum Dayang Sumbi pasti mengalahkan keindahan bunga-bunga mana pun.

Benar-benar surga. Surga milik berdua saja.

Hingga sekarang, surga yang kubayangkan masih seperti itu: telaga berair bening, bunga-bunga, pepohonan hijau, dan bidadari yang cantik jelita. Dan bidadari di surga tak lain sosok Dayang Sumbi belaka. Wajah yang indah, dengan rambut hitam cemerlang yang mengurai menimpa pundak dan lengan yang langsat.

Waktu itu kemarau sudah hampir tiga bulan memanggang wilayah perkampungan kami dan air sumur di rumah-rumah kami, penduduk desa, sudah menyurut begitu dalam, seperti diisap oleh kekuatan raksasa yang tak kasat mata. Banyak sumur yang tinggal selapis lumpur, atau bahkan sudah kering sama sekali. Sumur yang masih berair pun, airnya keruh dan tak bisa lagi ditimba buat mandi, apalagi buat memasak.

Pagi itu, tak lama setelah ayah pulang salat Subuh di langgar, aku sudah bergegas dengan handuk melingkari pundak. Membawa ciduk plastik berisi sabun, sikat gigi, dan odol, aku keluar dari pintu belakang rumah, menuju kali Cidadap. Aku harus setengah berlari di gang di antara rumah-rumah yang remang, lalu menuruni jalanan setapak berbatu-batu, berliku-liku meniti pematang sawah, sebelum akhirnya tiba di tebing tepi kali. Bukan hanya mengejar waktu, tapi juga supaya badan lebih hangat.

Untunglah aku sudah hafal jalan, hafal tiap belokan, bahkan hafal letak tiap batu di sepanjang setapak, sehingga aku tidak terpeleset, tapi bisa berlari meloncat-loncat seperti pendekar Shaolin yang sedang menerapkan ilmu ginkang. Tentu saja aku bukan pesilat. Aku hanya senang berolahraga dan setengah berlari dari rumah menuju kali kuanggap sebagai gerak badan yang menyehatkan.

Bersambung…

About Yukie Rushdie

Check Also

Tender Jasa Kamtib Pasar Kenari (Jakpus) Gagal, Syarat Janggal akan Dievaluasi Ulang

JAKARTA (IGS BERITA) — Proses lelang Pengadaan Jasa Keamanan dan Ketertiban Pasar Kenari Jakarta Pusat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *