Kamis , 13 Desember 2018
Home / IGS STORY / Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 017)
Mandi di Sungai
Cerber "Cincin Cinta Miss Titin" karya Hermawan Aksan (Foto: Grafis - IGS Berita).*

Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 017)

Ringkasan episode sebelumnya: Setelah berkisah tentang Asep, cerita kembali bergerak ke sisi sang sripanggung, “Dayang Sumbi”. Malam itu, ia kembali merasa dirasuki tokoh Dayang Sumbi. Penonton sama banyaknya dengan malam sebelumnya. “Akulah sripanggung. Akulah sang bintang. Akulah yang selalu dielu-elukan. Tak hanya di desa ini, tapi juga di sejumlah desa dan kota lain sebelumnya, setidaknya selama setahun terakhir, setelah aku menggantikan posisi Ceu Dewi, sripanggung rombongan ini sebelumnya,” desisnya. (red).*

 

INILAH cita-cita yang sudah lama kudambakan, sejak aku masih berumur sepuluh atau sebelas tahun, sejak aku mulai menjadi penari pembuka. Saat itu, bahkan sebelumnya, aku selalu membayangkan betapa senangnya menjadi pusat perhatian semua orang. Waktu itu Ceu Dewi—aku memanggilnya ceuceu, kakak perempuan, karena ia memang masih terhitung kakak sepupuku—tengah berada di puncak ketenarannya. Namanya dikenal di berbagai desa dan kota yang dikunjungi rombongan sandiwara Sunda ini.

Dulu nama rombongan ini Sri Dewi. Selalu begitu, mengambil nama sang bintang. Sebab, dialah yang menjadi daya tarik yang selalu menyedot banyak penonton.

Nama Ceu Dewi memang terkenal. Sampai-sampai, kudengar kemudian, Ceu Dewi pernah pula diajak tampil bersama rombongan terkenal Miss Tjitjih di Jakarta, sebagai bintang tamu pada pementasan sandiwara Sunda di Gedung Kesenian Rumentang Siang di Bandung, serta pementasan di Anjungan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah, tak terlalu lama setelah diresmikan.

Tentu saja, waktu kecil itu aku mendambakan suatu saat menggantikan posisi Ceu Dewi menjadi Dayang Sumbi. Dia benar-benar sangat sesuai menjadi Dayang Sumbi, menjadi Purbasari, menjadi Citraresmi, ah, pokoknya menjadi siapa saja putri raja atau pemeran jelita mana pun. Pada dasarnya, Ceu Dewi memang memiliki wajah yang cantik. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, bahkan boleh dikatakan mungil, tapi kelihatan berisi. Busana jenis apa pun yang dikenakannya akan selalu kelihatan pantas dan membuatnya makin cantik. Gerakannya luwes dan suaranya merdu.

Untuk mencapai keinginanku, sejak kecil aku selalu berlatih keras, baik dalam menari maupun berperan. Aku sangat senang jika bisa tampil memerankan tokoh putri kecil. Biasanya, ketika kecil tokoh itu diperankan olehku, setelah besar tokoh itu menjadi bagian Ceu Dewi, dan merupakan tokoh utama cerita itu. Saat Ceu Dewi tampil, aku selalu memperhatikan caranya bermain. Gayanya duduk, caranya berjalan, juga caranya berbicara. Bagaimanapun, meskipun sama-sama seni Sunda, cara bicara dalam pementasan sandiwara berbeda dengan gending karesmen, longser, atau drama modern yang kabarnya mulai muncul di Kota Bandung, sebagai salah satu pusat budaya seni Sunda.

Di luar panggung, aku juga selalu menimba ilmu dari Ceu Dewi dan dia tak pernah segan mengajariku.

“Kamu ingin jadi apa kalau besar?” suatu hari Mama bertanya. Aku memanggil ayahku dengan sebutan Mama, panggilan hormat yang berasal dari kata rama, kata halus yang berarti ayah.

“Menggantikan Ceu Dewi,” jawabku tanpa ragu.

Mama memandangku beberapa jenak. Aku sempat khawatir Mama akan menghambat cita-citaku. Namun sesaat kemudian Mama menarik napas dalam dan tersenyum.

Mama mah setuju-setuju saja. Tapi kamu harus mempunyai nilai lebih dibanding bintang panggung mana pun.”

“Apa itu, Ma?”

“Sekolah yang tinggi.”

Aku tersenyum saat itu meskipun tidak tahu apa yang dimaksud dengan sekolah yang tinggi. Kebanyakan anggota rombongan sandiwara yang dipimpin Mama hanyalah lulusan sekolah dasar. Hidup kami banyak bergulir dari desa yang satu ke desa yang lain. Dalam setahun, kami lebih banyak hidup di tanah orang lain, termasuk ketika masa sekolah. Jadi, sulit bagi anak-anak kami untuk meneruskan sekolah. Kalau ingin sekolah, tentu mereka jangan ikut rombongan.

Aku menyelesaikan SD pada umur 12 dan SMP umur 15. Waktu itu aku sudah setahun menyelesaikan SMA. Dengan demikian, aku termasuk istimewa di dalam rombongan itu karena bisa lulus SMA. Selama itu, aku sudah mulai lebih banyak tampil di panggung, terutama kalau sedang masa libur sekolah.

Aku sebenarnya ingin langsung meneruskan ke ASTI di Bandung. Jurusan yang kuinginkan ya tidak jauh dari yang selama ini kugeluti, yakni jurusan teater. Namun tepat pada saat itu, peluang lain muncul di depanku, peluang yang selama ini menjadi cita-citaku.

Meskipun masih dianggap layak, dan justru sedang berada di puncak, Ceu Dewi memutuskan mengundurkan diri dari panggung dan memilih hidup menjadi ibu rumah tangga, sesuai dengan anjuran suaminya, seorang pengusaha di Cirebon. Aku pun memutuskan menunda dulu keinginan kuliah di ASTI dan mengambil kesempatan naik menjadi seorang sripanggung. Setidaknya setahun aku ingin total lebih dulu dalam seni, terutama pertunjukan sandiwara.

Kau tahu, Nak, tidak mudah menjadi seorang sripanggung meskipun aku sudah berlatih keras sejak kecil. Semua pemain lain juga ingin menjadi sripanggung.

Persaingan tidak hanya mengandalkan faktor kecantikan wajah, tapi terutama kemampuan bermain. Aku pernah menyaksikan seorang sripanggung di sebuah rombongan sandiwara yang sebenarnya biasa-biasa saja dalam kehidupan sehari-hari. Namanya Teh Dedeh[1]. Orang bilang tubuhnya terlalu pendek dan hidungnya pesek. Namun ketika berada di panggung, lenyaplah sosok Teh Dedeh dan yang ada adalah Citraresmi yang jelita.

Harus diakui, peran Mama sebagai pimpinan rombongan tentu sangat besar bagi keberhasilanku menjadi pengganti Ceu Dewi. Namun aku yakin kemampuanku sendirilah yang menjadi faktor utama. Terbukti kemudian, nama rombongan sandiwara kami, meskipun dengan nama baru, justru makin disukai masyarakat di berbagai tempat.

Nah, begitulah, ketika sudah aku sudah mengenakan busana panggung, lenyaplah sosokku, dengan segala persoalan apa pun yang sedang melibatku.

Yang ada adalah sosok Dayang Sumbi, dengan suasana dan pikiran yang juga melibatku zaman itu, entah berapa abad yang lalu, ketika alam semesta masih dikuasai sepenuhnya oleh hal-hal yang mistis, ketika para siluman dan guriang masih senang bersekutu dengan manusia untuk membuat berbagai ulah di dunia.

Di saat itu, ya, aku benar-benar Dayang Sumbi, yang merasa lelah dan hampa ketika teropong tenunku terjatuh dan menggelinding ke tanah.

Aku betul-betul marah ketika Sangkuriang membunuh si Tumang, ayahnya sendiri, suamiku.

Aku juga sungguh-sungguh menyesal dan menangis setelah memukul Sangkuriang dan mengusirnya pergi. Aku memintanya untuk tak kembali lagi, dan yang ada kemudian hanyalah penyesalan. Hidupku makin digerogoti kesepian. Aku lebih banyak merenung sendirian di pinggir telaga dekat hutan.

Bersambung…

[1] Teh dari kata teteh yang berarti kakak perempuan

Dog Hallow Fest

About igsberita.com

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: