Selasa , 18 September 2018
Home / IGS STORY / Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 016)
Mandi di Sungai
Cerber "Cincin Cinta Miss Titin" karya Hermawan Aksan (Foto: Grafis - IGS Berita).*

Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 016)

Ringkasan episode sebelumnya: Bila Dadang terkesima pada penarik Ketuk Tilu pembuka pertunjukan, maka Asep tak kuasa menepis penyesalannya manakala menyaksikan Dayang Sumbi. Ya, sang gadis yang telah mengganggu kesehariannya setelah tertangkap mata mandi telanjang di sumur pinggir Kali Cidadap. Asep menyesal, kenapa dia tidak melompat ke panggung memungutkan teropong baginya? Kenapa akhirnya harus si anjing Tumang yang memungutkan itu untuknya? Kenapa pula dia harus menyampaikan “sumpah” yang ngawur itu? “Adakah perempuan yang lebih menderita dibanding Dayang Sumbi?” Asep tak kuasa membayangkan hal itu. (red).*

 

AKU tidak tahu bagaimana adegan di panggung selanjutnya. Yang kutahu kemudian adalah munculnya seorang bocah lelaki kira-kira sepuluh tahun, dengan busur di tangan kiri dan anak panah di tangan kanan. Wajahnya tampan. Rambutnya diikat dengan bandana kain hitam. Bajunya tanpa lengan dan dadanya kelihatan. Celananya yang sedikit di bawah lutut juga berwarna hitam.

Ia berjalan gontai dengan latar belakang pepohonan yang rapat dan hijau, dengan dedaunannya yang rimbun dan sulur-sulur yang menjuntai seperti tangan-tangan makhluk gaib. Di belakangnya mengekor anjing yang tadi memungut teropong buat Dayang Sumbi.

Tiba-tiba seekor babi tampak di sisi kanan, asyik mengunyah.

Bocah lelaki itu bersembunyi di balik pepohonan seraya menyiapkan anak panah pada tali busurnya. Namun sebelum ia melepaskan anak panah, babi itu berlari pergi.

Dengan kesal, bocah lelaki itu membanting busurnya.

“Tumang, kejarlah babi itu!”

Namun anjing itu tak mau menuruti perintah si bocah. Si Tumang malah merebahkan diri di tanah.

“Tumang, cepat kejar babi itu! Kalau tidak, kubunuh kamu!”

Si bocah kembali memasang anak panah di tali busurnya dan kali ini diarahkan ke tubuh si Tumang. Namun anjing itu tetap rebah dengan lidah yang menjulur dan tatapan yang sulit diterjemahkan.

Si bocah menjadi makin marah. Semula ia hanya ingin menakut-nakuti, tapi kemudian anak panah itu lepas dan menembus tubuh si Tumang. Anjing itu hanya melenguh pelan sebelum tergolek tak bergerak lagi.

Bocah lelaki itu seperti tersadar. Namun semua itu sudah terjadi dan ia hanya bisa menyeret bangkai si Tumang.

Layar ditutup dengan cepat, dan kemudian dibuka kembali dengan cepat pula.

Mataku kembali menancap kepada sosok si jelita Dayang Sumbi, tetap dengan rambut yang hitam terurai dan pundak yang setengah terbuka.

Lalu muncul si bocah, seraya menyerahkan sebuah bungkusan dari daun pisang.

“Ibu, tadi aku berhasil memanah seekor kijang besar. Tapi karena tak kuat membawanya, aku hanya membawa ini.”

Dayang Sumbi menerimanya sambil tersenyum. “Kamu memang anak baik.”

Namun kemudian kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri.

“Mana si Tumang?”

Si bocah tak menjawab.

“Mana si Tumang?”

Si bocah makin tertunduk. “Maafkan aku, Ibu. Sebenarnya tadi aku tak berhasil memanah binatang apa pun. Karena putus asa, kubunuh saja si Tumang…”

Dayang Sumbi terkejut bukan kepalang. Tanpa berpikir panjang, diambilnya sendok nasi di dekatnya dan dipukulnya kepala si bocah.

“Ampuuuun…”

“Perbuatanmu sungguh tak terpuji. Ibu tak ingin melihatmu lagi. Pergi dari rumah ini!”

Seraya kedua tangan memegang kepalanya yang mengucurkan darah, si bocah pergi meninggalkan ibunya, Dayang Sumbi.

Entah mengapa, aku juga merasakan sesuatu berdenyut di kepalaku.

Layar kembali ditutup dan aku memejamkan mata.

Terdengar suara pesinden melantunkan kawih yang menggambarkan betapa sakitnya hati Dayang Sumbi kehilangan si Tumang, suaminya, dan betapa menyesal sebenarnya dia telah mengusir anaknya sendiri.

Mendengar kawih itu, aku seperti terbawa ke suatu tempat pada suatu waktu yang entah. Aku tiba-tiba merasa menjadi si bocah yang terlunta-lunta dan kehilangan ingatan masa lalu akibat pukulan keras di kepala, yang mungkin juga disertai kutukan seorang ibu. Aku hanya ingat berjalan tak tentu arah, pada rentang waktu yang juga entah. Sebab, aku tak bisa lagi menghitung waktu. Hari-hari lewat dengan cepat dan bulan-bulan seperti berlari. Tahun-tahun pun hanyalah angka mati.

Dan suatu hari, aku tertegun menatap seraut wajah yang selama ini sesekali menghiasi mimpi. Wajah jelita dengan rambut yang lepas terurai dan kulit pundak yang bersinar diterpa garis-garis matahari yang menerobos dedaunan.

Dengan dada yang berdebar, kudekati dia.

 

4. Menjadi Sang Bintang

MALAM itu aku kembali merasa dirasuki Dayang Sumbi.

Penonton sama banyaknya dengan malam sebelumnya. Sebelum aku memulai adeganku, aku sekali lagi sempat terpesona oleh betapa banyaknya warga setempat yang menyukai pertunjukan kami. Hanya di bagian belakang yang jauh yang terlihat agak kosong. Dari tengah ke depan nyaris tak ada tempat lagi.

Lucu juga, banyak penonton yang membawa kursi sendiri. Tentu saja itu baik, karena kami tidak menyediakan kursi. Kami menggelar pertunjukan bukan di gedung yang khusus dipakai untuk pergelaran kesenian seperti yang pernah dialami Miss Tjitjih misalnya. Kami pentas di halaman sekolah. Halaman terbuka, di bawah langit yang bertabur bintang dan udara musim kemarau yang kering dan dingin.

Ketika aku memulai tampil di panggung dengan adegan duduk di ranggon, menenun kain, masih bisa kudengar suitan, teriakan, dan tepukan gemuruh penonton.

Selalu dadaku dipenuhi rasa bangga setiap mendengar sambutan meriah penonton terhadap kehadiranku.

Untukkukah semua teriakan dan tepukan itu?

Tentu saja.

Akulah sripanggung. Akulah sang bintang. Akulah yang selalu dielu-elukan. Tidak hanya di desa ini, tapi juga di sejumlah desa dan kota lain sebelumnya, setidaknya selama setahun terakhir, setelah aku menggantikan posisi Ceu Dewi, sripanggung rombongan ini sebelumnya.

Bersambung…

About igsberita.com

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan