Sabtu , 18 Agustus 2018
Home / IGS STORY / Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 010)
Mandi di Sungai
Cerber "Cincin Cinta Miss Titin" karya Hermawan Aksan (Foto: Grafis - IGS Berita).*

Cincin Cinta Miss Titin (Eps. 010)

Ringkasan episode sebelumnya: Tokoh aku, yang lebih senang dipanggil Asep saja meski sebetulnya memiliki nama cukup panjang, mengisahkan latar belakang kehidupan keluarganya. Mereka tidak termasuk keluarga kaya, bahkan untuk ukuran di tingkat desa sekalipun. Ayah dan ibunya menerima jahitan sambil membuka warung kecil-kecilan. Namun, dalam hal pendidikan, mereka tergolong cerdas. Hanya karena masalah keterbatasan biayalah yang menggagalkan mereka melanjutkan cita-citanya ke sekolah guru bantu. (red).*

 

KABARNYA, ayah dan ibuku ketika sekolah selalu juara di kelas masing-masing. Hanya karena orang tua mereka yang kekuranganlah kedua orang tuaku gagal meneruskan ke sekolah guru bantu, seperti beberapa orang lain di desa kami yang tergolong mampu. Setelah lulus dari sekolah rakyat, ayahku diajak kakak tertuanya menimba pengalaman di kota, tepatnya di Bandung. Apa yang disebut pengalaman adalah membantu uwakku, kakak ayahku itu, yang sudah membuka usaha menjahit di sana. Ayahku belajar dari nol dan setelah merasa cukup mahir dan mengumpulkan cukup uang, ia membeli sebuah mesin jahit, kemudian pulang kampung dan membuka usaha jahit di desa kami.

Ibuku lulus sekolah rakyat pada usia empat belas tahun. Ia sebenarnya ingin sekali menjadi guru. Setelah lulus sekolah rakyat, mereka yang mampu akan berkesempatan meneruskan ke sekolah guru bantu (SGB) di kota. Setelah lulus SGB, mereka bisa langsung mengajar di sekolah rakyat. Guru adalah profesi yang sangat dihormati masyarakat desa kami. Mereka dianggap orang-orang yang ilmunya tak terkira. Kakak lelaki ibuku sudah lulus menjadi guru. Namun saat ibuku lulus sekolah rakyat, orang tuanya mengaku tidak sanggup membiayainya sehingga dengan terpaksa ibuku memendam cita-citanya. Setahun kemudian, ia menikah dengan ayahku, yang waktu itu berusia 22 tahun. Setelah menikah, ibuku belajar menjahit dari ayahku dan keduanya sama-sama menerima jahitan. Mula-mula satu mesin jahit, kemudian dua, dan akhirnya tiga setelah salah seorang kerabat juga berminat menjadi penjahit.

Mungkin karena gagal mengecap pendidikan yang lebih tinggi, ayah dan ibuku selalu menekankan agar kami, anak-anaknya, meraih pendidikan setinggi mungkin.

Aku masuk sekolah dasar pada umur enam tahun di desa kami sendiri. Umur enam tahun termasuk paling muda waktu itu. Kepala sekolahnya, yang sekaligus menjadi guru kelas satu, terhitung uwakku juga, kakak sepupu ibuku. Gaya mengajarnya boleh dikatakan sisa peninggalan zaman kolonial: keras, dan tak jarang secara fisik. Aku ingat, teman sekelasku di kelas satu ditampar pipinya menggunakan sandal hanya gara-gara tidak bisa menangkap pelajaran berhitung. Ada barang tiga kali, plak, plak, plak. Anak itu tidak menangis, mungkin karena dia anak yang paling besar dan kalau tidak salah hampir sembilan tahun. Kami hanya diam di meja masing-masing dengan tangan bersedekap di atas meja dan kepala menunduk meskipun selalu penasaran sehingga diam-diam mata kami melirik ke arah anak yang dihukum. Meskipun aku masih terhitung keponakannya, aku juga tak lepas dari hukuman Pak Guru. Sebelum masuk kelas, semua murid berbaris dan masuk satu satu per satu sambil diperiksa jari-jari tangannya. Kuku-kuku jari tanganku ketahuan panjang-panjang dan tak ayal penggaris kayu di tangan Pak Guru serasa menghunjam jemariku. Betapa sakitnya jari-jariku, bisa kurasakan sampai sekarang, tapi aku berusaha keras menahan pukulan itu dengan memejamkan mata sehingga aku tidak sampai menangis. Tak lama kemudian, garis merah lurus melintang mulai dari kelingking tangan kiri hingga kelingking tangan kanan.

Ketika belakangan aku membaca Api di Bukit Menoreh karya S.H. Mintardja dan menemukan tokoh golongan hitam berwajah seram, Ki Tambak Wedi, aku membayangkan sosoknya mirip dengan uwakku yang jadi kepala sekolah itu.

Bersambung…

About igsberita.com

Check Also

Pendekar Sakti (Eps. 005)

(Episode Sebelumnya Klik Di Sini) “GUNDUL busuk, apakah tidak baik kalau kita menyuruh mereka ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *