Senin , 19 November 2018
Home / INVESTIGASI / Buku LKS Bogor: Soal Kios Nomor 33 Lantai 1 Pasar Gunung Batu
Kios Nomor 33 di Lantai 1 Pasar Gunung Batu, Kota Bogor, "Gudang Buku LKS" yang hanya beroperasi musiman, di tahun ajaran dan semester baru saja. (Foto: Fikri Jaka Irmana - IGS Berita).*

Buku LKS Bogor: Soal Kios Nomor 33 Lantai 1 Pasar Gunung Batu

BOGOR (IGS BERITA) – Penelusuran IGS Berita terkait penggunaan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) buatan pihak ketiga di Kota Bogor, yang kemudian dikeluhkan sejumlah orangtua murid SDN Purbasari, SDN Gunung Batu 1, dan SDN Gunung Batu 2, akhirnya seolah mengerucut pada keberadaan Kios Nomor 33 di Lantai 1 Pasar Gunung Batu, Kota Bogor.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah orangtua murid di ketiga sekolah dasar negeri Kota Bogor itu mengeluhkan masih digunakannya buku LKS buatan pihak ketiga dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bagi anak-anaknya. (Baca: Orangtua Murid SD di Bogor Keluhkan Jual-Beli Buku LKS)

Keluhan para orangtua tersebut sempat di-counter anggota Komite Sekolah SDN Gunung Batu 1, Dina, dengan mengatakan bahwa mereka itu hanyalah orang-orang yang tidak menginginkan anaknya menjadi pintar. (Baca: Dina (Anggota Komite Sekolah SDN Gunung Batu 1): “Orangtua yang Ngeluh Itu yang Nggak Mau Anaknya Pinter!”)

Menindaklanjuti hal itu, IGS Berita mencoba mendalami dengan menghubungi para kepala sekolah.

Saat hendak meminta konfirmasi kepada pihak SDN Purbasari, kepala sekolah tak bersedia memberikan keterangan karena akan mengikuti rapat. Akhirnya, IGS Berita hanya diterima oleh salah satu guru pengajar dan seorang staf Bagian Tata Usaha bernama Iwan.

“Seharusnya, Anda tanya ke pedagangnya. Jangan ke sekolah,” kata Iwan kepada IGS Berita, Rabu (11/1).

Berdasarkan keterangan dari para orangtua murid SDN Purbasari, SDN Gunung Batu 1, maupun SDN Gunung Batu 2, mereka sama-sama mengaku disarankan oleh koordinator kelas, guru wali kelas, ataupun Komite Sekolah, untuk membeli LKS  ke “toko buku” di Kios Nomor 33 Lantai 1 Pasar Gunung Batu.

“Ada yang membeli sendiri-sendiri, ada yang dikordinir secara kolektif,” kata salah satu orangtua murid.

Sebagian catatan pembelian secara kolektif di “Gudang Dadakan” Buku LKS, Pasar Gunung Batu Lantai 1 Nomor 33, Kota Bogor. (Foto: Fikri Jaka Irmana – IGS Berita).*

Ternyata, berdasarkan pemantauan IGS Berita, Kios Nomor 33 di Lantai 1 Pasar Gunung Batu itu sama sekali tidak menyerupai “toko buku”. Tak ada rak-rak atau etalase. Tak ada juga buku-buku lain di luar LKS. Semuanya bertumpuk dan terikat secara begitu saja, membuatnya lebih mirip sebagai “gudang LKS” ketimbang toko buku.

“Tempat yang dipakai jual buku itu (Lantai 1 Nomor 33), biasanya kosong. Cuma disewa bulanan buat jualan buku, pas lagi musim tahun ajaran atau semester baru saja,” kata Udin, petugas kebersihan PD Pasar Pakuan Jaya Gunung Batu, Kota Bogor, kepada IGS Berita.

Wartawan IGS Berita pun tergerak mewawancarai pekerja di “gudang LKS” tersebut, yang mengaku bernama John.

“Saya di sini hanya kerja. Bos saya namanya Basir, dan saya terima gaji saja. Jadi, soal kerjasama dengan pihak sekolah dan bagi hasil keuntungan, saya tidak tahu,” kata John. “Yang pasti, sekolah-sekolah itu memang tahu, kalau mau beli buku LKS, ya di sinilah tempatnya.”

Orangtua siswa saat bertransaksi di “Gudang Dadakan” Buku LKS, Pasar Gunung Batu Lantai 1 Nomor 33, Kota Bogor. (Foto: Fikri Jaka Irmana – IGS Berita).*

Satu hal yang paling mencolok dari penelusuran perkara buku LKS di Bogor ini, hampir semua narasumber yang ditemui IGS Berita menyebut seseorang bernama Bram, yang katanya berprofesi sebagai wartawan.

Menurut Barry Pradana, pemerhati masalah pendidikan asal Universitas Padjadjaran Bandung, fenomena buku LKS ini merupakan salah satu indikasi dari adanya “komersialisasi dunia pendidikan” dan “industrialisasi pendidikan”.

Hal yang paling dimanfaatkan, lanjut Barry, adalah filosofi normatif para orangtua yang kerap berujar, kalau untuk urusan pendidikan anak, apapun saya usahakan dan korbankan.

“Sikap normatif para orangtua itulah yang justru sering dimanfaatkan oleh para oknum di dunia pendidikan,” kata Barry kepada IGS Berita.

Terkait isu “jual-beli” buku LKS ini, ada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 (atau kini PP Nomor 66 Tahun 2010) tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Pada Pasal 181 dari peraturan tersebut, ditegaskan bahwa penyelenggara dan tenaga pendidik, baik perorangan maupun kolektif, dilarang menjual buku pelajaran, perlengkapan pelajaran, bahan pelajaran, serta pakaian seragam di tingkat satuan pendidikan.

Kemudian, Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 pun menegaskan tentang buku yang digunakan oleh satuan pendidikan.

Dalam peraturan menteri tersebut diatur tentang penghapusan LKS. Buku yang digunakan oleh siswa adalah buku yang dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah.

Disebutkan pula, lembar latihan siswa haruslah berasal dari modul yang dibuat para guru, bukan oleh pihak ketiga.

Barry Pradana menyimpulkan, para guru di sekolah-sekolah Bogor tersebut rupanya masih memberlakukan penggunaan buku-buku LKS buatan pihak ketiga.

“Hal ini jelas tidak sesuai dengan amanat Permendagri Nomor 8 Tahun 2016,” kata Barry Pradana, yang dihubungi IGS Berita melalui sambungan telepon. (fji).*

Kondisi “toko buku” di Pasar Gunung Batu, Kota Bogor, yang cenderung lebih mirip “gudang LKS” musiman. (Foto: Fikri Jaka Irmana – IGS Berita).*
Dog Hallow Fest

About Yukie Rushdie

Check Also

Rumah Pompa

Rumah Pompa Waduk Bojong | Ini Reaksi Walkot Jakbar

JAKARTA (IGS BERITA) — Walikota Jakarta Barat, Rustam Effendi, terkejut mendengar Rumah Pompa Waduk Bojong, …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: