Senin , 19 November 2018
Home / DAERAH / Begini Nasib Korban Bencana Alam Pacitan Tahun Lalu
Dwi, Korban bencana alam akhir November tahun lalu di Desa Plumbungan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dan kondisi rumah yang dibangun setelah bencana. (Foto: Suluh Aprianto - IGS Berita)*
Dwi, Korban bencana alam akhir November tahun lalu di Desa Plumbungan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dan kondisi rumah yang dibangun setelah bencana. (Foto: Suluh Aprianto - IGS Berita)*

Begini Nasib Korban Bencana Alam Pacitan Tahun Lalu

PACITAN (IGSBERITA) Bencana Alam banjir dan dan tanah longsor yang menerjang sejumlah daerah di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, tahun lalu, ternyata menyisakan persoalan.

Beberapa korban kehilangan tempat tinggal. Penderitaan bertambah, menghutang ke bank hanya cukup untuk membeli lahan. Tidak untuk membangun tempat tinggal. Akibatnya beberapa korban tinggal di rumah yang tidak layak

Yanto (35) dan Dwi, korban bencana alam di Desa Plumbungan, Kecamatan Kebon Agung, harus tinggal di rumah ukuran 3×2,5 meter, bersama anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Pengamatan IGSBERITA, lantai rumah masih tanah, bagian dinding rumah menggunakan triplek dan papan seadanya, dan atap genteng yang tampak lapuk.

Kepala Desa Janjikan Rumah

Dwi, istri Yanto, menyebut Kepala Desa Plumbungan pernah menjanjikan bahwa korban bencana akan mendapat bantuan bangunan rumah. Tetapi bagi warga yang memiliki tanah milik sendiri.

Akibatnya, Dwi ‘ngutang’ ke Bank untuk membeli tanah yang dia tempati sekarang. Tapi sampai saat ini, bantuan tidak kunjung tiba.

“Saya beli lahan ini Rp.18.500.000, itupun hutang ke bank. Karena dulu sama pak kepala desa di suruh menyiapkan lahan, karena akan mendapat bantuan dari pemerintah,” kata Dwi kepada IGSBERITA, (30/10/2018).

Untuk menutupi kebutuhan hidup termasuk hutang ke bank, Dwi bekerja jadi pembantu rumah tangga. Dan Yanto, suaminya, jadi buruh pabrik.

“Penghasilan hanya bisa menutupi makan sehari-hari dan nyicil hutang ke bank,” ujar Dwi, lirih.

Lanjut, Dwi mengatakan bahwa sembilan korban lainnya, mengalami hal serupa. Beberapa hari setelah bencana akhir November tahun 2017 lalu, Kepala Desa juga menjanjikan bantuan perbaikan rumah.

“Semua berusaha membeli lahan walau harus ‘ngutang’ dengan harapan pemerintah dapat memberikan bantuan membangun rumah,” kata Dwi.

Tetapi setelah lahan disiapkan, bantuan tak kunjung datang. Malah Kepala Desa mengatakan agar tidak usah buru-buru membeli lahan untuk rumah.

“Ya ketika kita menyiapkan lahan, pak kades malah bilang gak usah buru-buru lho,  kita santai saja. Terus ketika kita ini mendengar kabar kalau Desa lain dapat bantuan ya jelas kita-kita ini kecewa lantaran pernyataan pak Kepala Desa yang mengajak santai dengan alasan lain-lain,” kata Dwi.

Setidaknya, sembilan rumah yang mengalami kerusakan sangat parah. Karena bantuan tak kunjung datang, para korban membangun sendiri tempat tinggalnya dengan kemampuan seadanya.

“Percuma menunggu bantuan, semampunya meskipun hutang saya masih bisa buat rumah sendiri kok. Lagi pula saya juga gak tau alasannya kenapa di Desa Plumbungan tidak dapat bantuan rumah seperti desa lain,” kata korban lain, namun tidak bersedia namanya disebut.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada konfirmasi dari Kepala Desa Plumbungan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan.

Masih Berharap

Sampai saat ini, Dwi beserta korban bencana lainnya di Desa Plumbungan masih berharap ada bantuan dari pemerintah.

“Harapan saya dari dulu sampai saat ini semenjak terkena bencana alam tetap mengharap bantuan. Desa lain aja dapat bantuan rumah dan lain-lain. Masa Desa Plumbungan tidak dapat. Ya kita ini masih warga Pacitan, masih warga Indonesia lho?. Kenapa juga pak Kepala Desa waktu itu cuma diam. Terus terang kami mengharap keadilan,” kata Dwi mengakhiri. (apr)*

Dog Hallow Fest

About Mampe Sirait

Check Also

Ini Kronologi Peringkusan 23 Preman Penguasa Lahan Kosong

JAKARTA (IGS BERITA) — Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes (Pol) Hengki Haryadi, SIK, MH., memaparkan …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: