Jumat , 19 Oktober 2018
Home / IGS OPINION / Asia Bukan Lagi Kasta Sudra di Piala Dunia
Sementara pemain-pemain Korea Selatan bersorak, bintang-bintang Jerman, Mesut Ozil cs, termenung dan mungkin mulai membayangkan perjalanan pulang dari Rusia (Foto: Dok. IGS Berita).*

Asia Bukan Lagi Kasta Sudra di Piala Dunia

Oleh YUKIE H. RUSHDIE

 

BAGI Piala Dunia, dulu, tim Asia kerap diidentikkan dengan lumbung gol. Selalu dianggap laskar paling gurem. Tapi, lupakanlah masa-masa itu. Karena, kini, pasukan-pasukan dari Benua Asia bukan lagi kasta sudra di event Piala Dunia.

Empat tim Asia yang tampil di Rusia 2018, tak ada satu pun yang menduduki juru kunci di grupnya masing-masing. Semua sukses merasakan nikmatnya kemenangan di panggung sepakbola terakbar itu, dan seragam menduduki peringkat ketiga dari empat tim di babak penyisihan grup tersebut.

Tentunya, sensasi Korea Selatan mengirim pulang juara bertahan Jerman adalah yang paling fenomenal. Kemenangan 2-0 Son Heung-min cs atas anak-anak asuh Joachim Löw itu boleh dibilang kejutan terbesar di arena Piala Dunia 2018.

Selain membenamkan Jerman ke posisi juru kunci Grup F, Korea Selatan pun sekaligus membantu Meksiko lolos ke Babak 16 Besar, kendati menderita kekalahan telak 0-3 dari Swedia.

Begitu juga Arab Saudi di Grup A. Setelah dibantai tuan rumah Rusia 0-5 di partai pembuka, lalu takluk 0-1 di tangan juara Piala Dunia perdana Uruguay pada pertandingan berikutnya, para analis sontak menempatkan pahlawan-pahlawan Raja Salman ini sebagai tim terlemah dari 32 peserta putaran final Piala Dunia 2018.

Tapi, siapa nyana, di partai pamungkasnya melawan Mesir, tim Afrika yang sesungguhnya sedang naik daun gara-gara spektakuleritas M. Salah bersama Liverpool, Arab Saudi mencetak kemenangan 2-1, dan lolos dari posisi juru kunci.

Dari semua tim Asia, Jepang disebut-sebut sebagai calon peserta Babak 16 Besar paling serius, setelah menenggelamkan Kolombia 2-1 di pertandingan pertama Grup H, dan bermain imbang 2-2 dengan Senegal.

Berbekal 4 poin, dan menghadapi Polandia yang sudah positif tersingkir, Jepang cukup bermain imbang untuk melaju ke 16 Besar. Apa mau dikata, setelah bertarung habis-habisan dengan semangat Samurai-nya, tim Negeri Matahari Terbit itu menyerah 0-1.

Harapan masih ada, karena di pertandingan lain, kompetitor mereka, Senegal, juga kalah 0-1 dari Kolombia. Alhasil, Jepang dan Senegal mengantungi nilai yang sama (4) dan selisih gol yang juga sama persis (4-4).

Namun, aturan FIFA menentukan lain. Bila kedua tim memiliki segala halnya persis serupa seperti itu, dan pertandingan head-to-head mereka pun berakhir imbang, maka penentuannya ditetapkan melalui peringkat FIFA.

Akhirnya, Jepang harus menyerahkan tiket Babak 16 Besar itu kepada Senegal. Karena, pada peringkat FIFA, Senegal memiliki posisi lebih baik dengan poin 884, sementara Jepang hanya 600. Peringkat FIFA berikut poinnya itu ditentukan melalui hasil dari pertandingan internasional resmi setiap negara.

Bagaimana dengan Iran? Begitu diundi, negeri ini seolah sudah dipandang sebelah mata, karena berada satu grup dengan juara Piala Dunia 2010 Spanyol, juara Piala Eropa 2016 Portugal, dan salah satu raksasa sepakbola Afrika, Maroko.

Ternyata, Iran membuka langkahnya dengan sungguh perkasa. Mereka menekuk Maroko 1-0. Di pertandingan kedua, Goliath sepakbola dunia, Spanyol, dipaksa kerja keras dan nyaris frustrasi sebelum kemudian mendapat kemenangan tipis 1-0.

Memasuki partai pamungkas, Iran masih memiliki peluang untuk lolos. Namun sangat tipis, karena harus berhadapan dengan Cristiano Ronaldo cs dari Portugal, juga mengharapkan Spanyol takluk di tangan Maroko. Dua harapan yang harus dibilang impossible.

Hasilnya, Spanyol bermain imbang 2-2 dengan Maroko, sementara Iran sendiri berhasil menahan Portugal seri 1-1, termasuk mementahkan tendangan penalti sang Mahabintang Cristiano Ronaldo.

Iran pun, seperti rekan-rekan sesama Asia lainnya, menduduki peringkat ketiga di Grup B, di atas Maroko yang jadi juru kunci.

Menatap geliat tim-tim Asia itu di Piala Dunia Rusia 2018, semakin membuka mata publik global bahwa kini pasukan-pasukan sepakbola di benua ini tak boleh lagi dipandang sebagai “lumbung gol” dan “kasta sudra”.

Saya bangga sebagai Asia, dan agak terhenyak karena ingat reaksi spontan putra sulung saya, Arrigo Hagi Rushdie, sekitar empat hari sebelum partai Korea Selatan versus Jerman.

“Hidup Korea Selatan!” katanya, melalui pesan WhatsApp kepada saya.

Waktu itu, saya hanya berpikir, apakah lontaran tersebut sekadar ekspresi romantisme Asia dari salah seorang anak Indonesia yang merasa bertetangga dengan Korea Selatan?

Faktanya, entah karena faktor kebetulan atau keberuntungan, Jerman memang tumbang di tangan Korea Selatan. Dan, sekali ini, Arrigo Hagi Rushdie boleh menatap saya dengan sedikit lebih jumawa.

Asia, sekali lagi, kini sudah menyedot perhatian para penggila bola dunia.

Lalu, Indonesia? Keriuhannya sudah. Prestasinya, mmm… sebentar, saya mau terima telepon dulu. Kapan-kapan saya jawab, ya… (Yukie H. Rushdie, Pemimpin Redaksi IGS Berita).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Abu Tours

Korban Abu Tours | Kapan Uang Kami Kembali?

MAKASSAR (IGS BERITA) — Sepasang suami-istri, Jamal dan Musdalifah, korban penipuan agen perjalanan ibadah haji …

Tinggalkan Balasan