Rabu , 22 Agustus 2018
Home / IGS OPINION / Argumentasi Kegilaan di Piala Dunia

Argumentasi Kegilaan di Piala Dunia

Oleh YUKIE H. RUSHDIE

 

SUNGGUH di luar dugaan, tulisan saya kemarin (Menghitung Langkah Juara Bertahan Jerman), melahirkan kegilaan tersendiri. Apakah ini bagian dari kejutan Piala Dunia? Entahlah. Yang jelas, saya terpaksa harus segera menjelaskan argumentasinya melalui tulisan ini.

Sedetik setelah membaca tulisan itu, seorang sahabat lama, Riston Sirait, sontak berkomentar, “Tim idola ya, Pak?”

Ini jelas keliru. Saya tidak mengidolai Jerman. Saya hanya merasa tidak rela kalau Die Panzer harus gugur di babak penyisihan grup (sesuatu yang —anehnya— tidak saya rasakan saat melihat Italia dan Belanda gugur di pra-kualifikasi, atau ketika memantau penderitaan yang kini tengah dialami Argentina).

Tak lama kemudian, mitra kerja saya, Mampe Sirait, melayangkan statement-nya. “Menghina Argentina ini. Untung pegang Belgia. Secara, saya mirip Toby Alderweireld,” katanya.

Ini jelas fitnah yang keji. Karena, sungguh, Mampe sama sekali tidak mirip dengan Toby Alderweirld. Toby sendirilah yang senyatanya sangat mirip dengan Mampe. (Sorry, Pe, saya terpaksa menyampaikan hal itu di sini, demi menghentikan kegilaanmu yang tidak argumentatif, bahkan cenderung mulai irasional)

Tiba-tiba juga, rekan saya yang lain, Thomson Sirait, berkomentar sok mendukung. “Mantap, Pak. Di pertandingan nanti, saya akan pegang Jerman!” katanya.

Ini, lagi-lagi, sebuah kegilaan yang lain. Karena, seluruh dunia tahu, yang kemudian akan main adalah Inggris vs Panama. Bukan Jerman!

(Tapi, sebentar, kenapa tiba-tiba banyak sekali orang Sirait yang mengomentari tulisan saya itu? Saya belum tahu, apa yang ada di benak Maruarar Sirait atau Arist Merdeka Sirait)

Kemudian, wartawan RadarOnline, Markus Marpaung, menyampaikan pesan singkat, karena beranggapan saya memiliki perasaan yang sama dengan hatinya.

“Asli gregetan, gemes, dan bercampur dag-dig-dug menyaksikan pertandingan tadi malam (Jerman vs Swedia —red),” katanya.

Saya tahu, kegilaan Markus Marpaung pada Jerman bukanlah karena faktor Adolf Hitler. Tapi, itu semata-mata merupakan konsekuensi logis dari kegilaannya pada klub asal Bavaria, FC Bayern München.

Yang lucu, anak saya, Arrigo Hagi Rushdie, tahu-tahu mengirim pesan WhatsApp kepada saya (sesuatu yang sudah cukup lama tidak ia lakukan).

“Hidup Korea Selatan!” katanya, dengan menambahkan emotikon yang bermakna keren dan salam metal.

Kegilaan macam apa lagi ini? Apakah sekadar sentimen emosional sebagai sesama anak Asia? Karena, setahu saya, kegilaan dia yang tak terperikan sebenarnya ada pada Brasil (hanya karena jersey pertama yang dimilikinya sepanjang hayat adalah kostum AC Milan dengan nama Rivaldo di belakangnya).

 

Kegilaan Argumentatif

Sepakbola, terutama panggung Piala Dunia (yang hanya bisa diinjak oleh para pelaku berkasta tertinggi), memang sangat mudah menciptakan kegilaan. Dari yang argumentatif (berdasarkan alasan tertentu), rasional (pertimbangan akal sehat), hingga yang sama sekali tanpa alasan, bahkan tak masuk akal.

Ada fenomena unik di dunia para petaruh. Mereka, umumnya, tidak memiliki tim idola. Atau, kalaulah ada, mereka lebih memilih tak bertaruh bila tim idolanya itu yang bermain. Apa pasal?

“Saya tidak pernah bertaruh kalau Real Madrid main. Karena, saya jadi tidak rasional lagi, bahkan seperti munafik, tidak tahu diri, berhati ganda, dan berkhianat pada kenyataan,” kata seorang mitra kerja, sebut saja Bunga, demi menyembunyikan identitas aslinya yang bernama Tumpak Pakpahan —penggila habis Real Madrid.

Dari statement itu, saya menilai, salah satu kunci untuk menjadi petaruh handal di dunia sepakbola adalah berpikir rasional, argumentatif, dan setia pada fakta.

Bayangkan kalau saya ikut bertaruh. Meski lawannya adalah Manchester United, pasti saya bakal tetap memegang Persib Bandung. Karena, ah… betapa sulitnya untuk mengkhianati hati sendiri yang begini “biru”.

Apa yang sesungguhnya ingin saya sampaikan melalui tulisan ini?

Boleh saja kita ikut menghiasi panggung Piala Dunia dengan kegilaan. Tapi, sebisa mungkin, tetap dengan argumentasi-argumentasi yang berdasar dan rasional. Tanpa itu, kita bisa menjadi seperti makhluk aneh dari planet antah berantah.

Dalam konteks itu, saya sungguh kagum dengan pencetus olahraga sepakbola, termasuk —tentu saja— Jules Rimet, tokoh yang melahirkan event akbar Piala Dunia.

Efek magnetis dan nuansa mistis yang ditampilkannya telah mendorong kelahiran mendadak jutaan pengamat dan kritisi sepakbola.

Di warung-warung, kafe-kafe, lobi-lobi hotel berbintang, hingga pos ronda, tokoh semacam itu berlahiran. Semua dengan argumentasi dan dalil versinya masing-masing.

Saya jadi penasaran, tim mana yang didukung Presiden Jokowi dan Pak Prabowo Subianto? Apakah masih juga berdampak kuat terhadap para “cebongers” maupun “kampreters”?

Kalau kemudian tim dukungan “cebongers” maupun “kampreters” itu berbeda dengan Jokowi dan Prabowo, saya melihat adanya indikasi panggung Piala Dunia ini sangat berpotensi untuk menjadi (salah satu) sarana rekonsiliasi di atas lantai politik.

Sekadar ilustrasi, setidaknya kini ada 32 kepala negara yang masing-masing bisa bersorak tanpa menghina atau menundukkan kepala tanpa merasa tersakiti saat menyaksikan pahlawan-pahlawan lapangan hijaunya berlaga di Rusia 2018.

Hanya di atas hijaunya rerumputan stadion itulah pasukan Arab Saudi dan Rusia bisa bersentuhan, bertempur, dan bertarung tanpa embel-embel ideologi. Bahkan, di Piala Dunia Meksiko 1986, Argentina dan Inggris bisa berhadap-hadapan tanpa senjata, tidak seperti di Kepulauan Malvinas yang saat itu sedang berkecamuk. Lalu di Asian Games Bangkok 1978 Korea Selatan dan Korea Utara bertarung memperebutkan medali emas secara damai —bukan bertempur memperebutkan wilayah secara bengis.

Tapi, sudahlah. Sebelum segalanya menjadi tambah ngaco, lebih baik saya segera mengakhiri tulisan ini di sini. Ya, di sini saja… (Yukie H. Rushdie, Pemimpin Redaksi IGS Berita).*

About Yukie Rushdie

Check Also

Spanduk Asian Games 2018

Lurah Kartini Akui Salah Ketik Spanduk Asian Games 2018

JAKARTA (IGS BERITA) — Jagat maya dihebohkan para warganet yang mempersoalkan kesalahan penulisan pada sejumlah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *